kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Kinerja Emiten Infrastruktur Lemas di Era Suku Bunga Tinggi, Simak Prospeknya


Senin, 22 Juni 2026 / 19:15 WIB
Kinerja Emiten Infrastruktur Lemas di Era Suku Bunga Tinggi, Simak Prospeknya
ILUSTRASI. IDXINFRA turun 32,55% YTD, tertekan badai makro. Tiga saham ini disebut punya benteng kuat hadapi guncangan pasar (Dok/TOWR)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten infrastruktur masih belum kokoh sejak awal tahun 2026. Tantangan juga masih membayangi seiring dengan masuknya era suku bunga tinggi.

Asal tahu saja, sektor infrastruktur mencatatkan pelemahan kinerja saham. IDXINFRA turun 32,55% sejak awal tahun alias year to date (YTD).​

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan, penurunan kinerja emiten IDXINFRA tidak lepas dari badai makroekonomi yang menghantam pasar modal domestik.

Sebagai gambaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambles ke level 5.594 akibat runtuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan pengetatan likuiditas global. 

Baca Juga: Dapat Restu RUPS, GPSO Ganti Haluan Bisnis Hingga Akusisi Aset via Private Placement

“Di tengah aksi market sell-off, sektor infrastruktur menjadi salah satu yang menderita tekanan terdalam,” ujarnya kepada Kontan, Senin (22/6/2026).

Secara fundamental, indeks terseret oleh pemangkasan proyeksi EBITDA industri sebesar 2% dan penurunan laba bersih hingga 7% akibat performa raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang melandai akibat pembengkakan biaya operasional. 

Mengingat bursa menggunakan metode bobot kapitalisasi pasar murni tanpa batasan (capping) untuk indeks sektoral, koreksi harga pada saham-saham berbobot raksasa di IDXINFRA pun mempengaruhi gerak indeks tersebut dan 

“Termasuk, volatilitas ekstrem pada emiten kapitalisasi jumbo lainnya seperti BREN sepanjang tahun berjalan juga menekan performa keseluruhan indeks hingga berkinerja di bawah IHSG,” tuturnya.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, indeks IDXINFRA turun karena kenaikan BI rate yang menekan emiten dengan leverage tinggi, pelemahan rupiah yang menaikkan beban utang valas, dan foreign outflow pukul big caps. 

“Emiten pemberat berasal dari TLKM, JSMR, TOWR, dan TBIG,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand melihat, penyebab penurunan IDXINFRA disebabkan reversal wajar setelah melesat 71,51% sepanjang tahun 2025. 

Pemberat utama berasal dari penurunan saham telekomunikasi yaitu ISAT, TLKM, TOWR, dan MTEL, yang tertekan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan data dan capex besar.

Baca Juga: Pabrik Amonia Kembali Beroperasi, Begini Prospek ESSA Industries Indonesia (ESSA)

“Kemudian, BREN yang dihantam isu high shareholding concentration (HSC) MSCI, dan konstruksi BUMN seperti WSKT, WIKA, dan PTPP masih membebani karena restrukturisasi neraca belum tuntas,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Memasuki paruh kedua 2026, era suku bunga tinggi pasca kenaikan BI Rate ke level 5,75% beserta ancaman inflasi dan pelemahan rupiah memang masih membayangi emiten IDXINFRA yang berkarakteristik padat modal (capital intensive). 

Namun, kata Brigita, indeks ini memiliki benteng pertahanan yang kuat dari sisi daya beli riil masyarakat dan kontrak bisnis yang defensif. 

Di sektor operator, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) seluler gabungan industri tetap solid naik 3% secara kuartalan (QoQ) menjadi Rp 45,9 ribu berkat pemulihan harga data. Sementara dari kebijakan moneter, komitmen Bank Indonesia BI) menjaga likuiditas domestik tetap longgar dan memperketat transaksi valas akan menjadi sentimen positif penstabil nilai tukar di paruh kedua. 

Dalam kondisi dinamis ini, EXCL, ISAT, dan MTEL bisa menarik sebagai tiga saham pilihan utama penopang indeks IDXINFRA.

EXCL dan ISAT menjadi motor pertumbuhan dari sisi operator lewat efisiensi biaya operasional dan kenaikan ARPU yang konsisten. Sementara di industri menara, MTEL defensif berkat realisasi EBITDA kuartal I 2026 sebesar Rp1,9 triliun yang sejalan dengan ekspektasi pasar, serta keberhasilan mengerek margin EBITDA ke level premium 83%. 

Baca Juga: AUM Mayoritas Reksadana Susut pada Mei 2026, Pendapatan Tetap Paling Tertekan

Ketahanan finansial MTEL ditopang oleh kenaikan rasio kecukupan sewa (tenancy ratio) menjadi 1,57x, pertumbuhan bisnis fiber sebesar 9% Yo, serta besarnya potensi pendapatan baru dari realisasi sisa pesanan menara dari XL Axiata (XLS).

“Kombinasi antara efisiensi agresif operator swasta & visibilitas pendapatan jangka panjang dari emiten menara seperti MTEL dapat menjadi penyelamat IDXINFRA dari guncangan makro di sisa tahun ini,” tuturnya.

Wafi melihat, tantangan untuk sektor infrastruktur berasal dari suku bunga BI di 5,75% dan pelemahan rupiah masih dominan untuk jangka pendek. 

Sentimen penopang sektor ini ke depan berasal dari stabilisasi rupiah era suku bunga tinggi, realisasi belanja infrastruktur APBN, dan proyek strategis nasional. 

“Emiten yang paling resilient berasal dari recurring revenue rupiah dominan, kontrak jangka panjang, dan leverage terkontrol. TLKM tetap pilihan defensif,” tuturnya.

 

Abida berpandangan, headwind struktural nyata bagi emiten infrastruktur yang berbeban keuangan tinggi dan berutang dolar.

Namun sentimen positif di semester II 2026 tetap ada, yaitu kontribusi penuh kenaikan tarif tol, monetisasi aset telco melalui FiberCo ISAT dan InfraCo TLKM, serta pipeline kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU) sebesar Rp124 triliun yang tidak sensitif suku bunga. 

“Jawara di semester II 2026 adalah TLKM dan ISAT yang masuk fase monetisasi, serta JSMR yang diuntungkan trafik organik dan tarif baru,” paparnya.

Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Gani menambahkan, kinerja sektor telekomunikasi dan energi terbarukan bisa membaik di paruh kedua tahun ini.

Gani pun merekomendasikan beli untuk TLKM, ISAT, dan PGEO dengan target harga masing-masing Rp 4.200 per saham, Rp 2.500 per saham, dan Rp 1.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×