kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.847   25,00   0,14%
  • IDX 6.100   -77,21   -1,25%
  • KOMPAS100 797   -11,41   -1,41%
  • LQ45 602   -7,73   -1,27%
  • ISSI 211   -1,94   -0,91%
  • IDX30 340   -4,62   -1,34%
  • IDXHIDIV20 417   -4,52   -1,07%
  • IDX80 90   -1,28   -1,40%
  • IDXV30 112   -0,53   -0,47%
  • IDXQ30 108   -1,64   -1,49%

MSCI Bisa Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Ini Alasannya


Senin, 22 Juni 2026 / 11:27 WIB
MSCI Bisa Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Ini Alasannya
ILUSTRASI. MSCI dinilai masih bisa tetap mempertahankan status pasar saham Indonesia di Emerging Market dan tidak menurunkannya ke Frontier Market ( REUTERS/Thomas White)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. MSCI dinilai masih bisa tetap mempertahankan status pasar saham Indonesia di Emerging Market dan tidak menurunkannya ke Frontier Market pada keputusan pekan ini.

Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mengatakan, MSCI memakai 18 kriteria dan posisi Indonesia terlihat masih sangat baik. 

MSCI memakai tiga simbol, yaitu "++" (double plus, yang merupakan kriteria tertinggi) yang menunjukkan sudah sesuai dengan best practice global dan tidak ada issue, "+" (single plus) yang diharapkan terus ada improvement, sedangkan pada kriteria "-" (negatif) yang menunjukkan adanya concern untuk ada improvement. 

Bila dibandingkan beberapa negara berkembang (Emerging Market) Indonesia punya 10 kriteria bernilai “++”, 6 kriteria “+” dan hanya 2 kriteria “-“.

Baca Juga: Indonesia Masih Kuat di MSCI Review 2026, Peluang Bertahan di Emerging Market

Indonesia hanya kalah dari Hongkong 14 kriteria bernilai “++”, 3 kriteria “+” dan 1 kriteria “-“, serta Malaysia 12 kriteria bernilai “++”, 6 kriteria “+” dan tidak ada kriteria “-“. Indonesia juga lebih unggul dari India, Korea, Pilipina, Taiwan dan Thailand. 

“Bila dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik ke EM Indonesia jauh lebih unggul, dimana Vietnam hanya punya 6 kriteria bernilai “++”, 4 kriteria “+” dan 8 kriteria “-“,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Senin (22/6/2026).

Dibandingkan review tahun 2025, pada review tahun ini hampir semua kriteria Indonesia bertahan, kecuali Informasi flow yang turun dari “+” ke “-“. Sedangkan yang lain tetap sama. 

Terkait aspek Information Flow, hal tersebut sebenarnya sudah dijawab Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self regulatory organization (SRO) lewat agenda reformasi pasar modal. 

“Kriteria ini kemungkinan akan akan naik kembali pada review berikutnya,” katanya.

Baca Juga: Cum Dividen Jumbo MKPI Hari Senin (22/6): Cek Profil Emiten Properti dan Kinerjanya

Hans menuturkan, Indonesia memperoleh nilai "++" pada sepuluh kriteria kunci berdasarkan tabel Assessment Summary. Yaitu, Investor Qualification Requirement, Foreign Ownership Limits (FOL) Level, Foreign Room level, Capital Flow Restrictions level, Investor Registration & Account Set-up, Market Regulations, Custody, Registry/Depository, Trading, Availability of Investment Instruments. 

Pada indikator Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia meraih nilai "++" yang lebih baik dibandingkan Hongkong (China) dan India yang hanya memperoleh "-".

MSCI menggunakan tiga hal dalam menentukan klasifikasi pasar, yaitu Perkembangan Ekonomi, Ukuran & Likuiditas, serta Aksesibilitas Pasar. 

Indonesia pun saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas. Ini melampaui ambang minimum satu saham yang dipersyaratkan, sehingga Indonesia kami perkirakan akan dipertahankan status nya di Emerging Market. 

“Penurunan satu kriteria aksesibilitas dalam hal ini Information flow tidak dapat memicu reklasifikasi posisi Indonesia dari EM ke Frontier market (FM),” tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, Hans pun menilai Indonesia tidak mungkin turun ke Frontier Market pada MSCI Market Classification Review 23 Juni. Harusnya interim freeze MSCI terhadap Indonesia juga dapat dibuka pada 23 Juni 2026 ini. 

“Peluang terbaik adalah Indonesia bertahan di EM diikuti pencabutan interim freeze,” ungkapnya.

Namun, ada peluang juga Indonesia tetap di EM, tapi Interim freeze Indonesia belum dicabut. Tetapi perlu dipahami saat ini bahwa interim freeze tidak membuat saham Indonesia tertekan turun lagi, karena saham-saham yang seharusnya keluar dari indeks MSCI sudah terjadi. 

Interim freeze hanya akan menunda potensi saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI pada review Agustus,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×