Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keluarnya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index diperkirakan dapat menimbulkan tekanan jangka pendek di pasar saham Indonesia.
Perubahan komposisi indeks global ini umumnya berdampak pada pergerakan dana investor pasif yang mengikuti acuan indeks internasional.
Potensi Arus Keluar Dana dari Investor Pasif
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai bahwa penghapusan kedua saham tersebut dari indeks FTSE dapat memicu arus keluar dana dari investor pasif.
“Keluarnya GOTO dan NCKL dari FTSE berpotensi memicu arus keluar dana dari investor pasif. Namun secara nominal, dampaknya kemungkinan tidak terlalu besar karena bobot kedua saham tersebut di dalam indeks relatif terbatas,” kata Liza kepada Kontan, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, meskipun terdapat potensi tekanan jual, skala dampaknya masih relatif terbatas karena porsi kedua emiten dalam indeks global tersebut tidak terlalu besar.
Baca Juga: Harga Emas Turun dari Puncaknya, Tertekan Sikap Hawkish The Fed
Free Float dan Investability Jadi Sorotan Utama
Lebih lanjut, Liza menekankan bahwa hal yang lebih penting dari sekadar pergerakan harga jangka pendek adalah sinyal yang diberikan oleh keputusan tersebut terhadap persepsi investor global.
Ia menyebut isu free float, struktur kepemilikan, serta tingkat investability menjadi faktor utama yang kini semakin diperhatikan oleh pasar internasional.
“Hal yang lebih penting untuk dicermati adalah pesan di balik keputusan tersebut, khususnya terkait isu free float, struktur kepemilikan, serta tingkat investability yang kini semakin menjadi perhatian investor global,” ujarnya.
Tekanan Jual Berpotensi Terjadi Saat Rebalancing
Liza menjelaskan bahwa tekanan jual pada umumnya akan meningkat menjelang hingga saat pelaksanaan rebalancing indeks, terutama pada sesi closing auction di bursa.
Namun, setelah proses penyesuaian portofolio selesai dilakukan, dampak teknikal dari perubahan indeks biasanya akan mereda.
“Setelah proses penyesuaian portofolio selesai, dampak teknikal umumnya mulai berkurang dan pergerakan harga akan kembali ditentukan oleh fundamental perusahaan,” jelasnya.
Dengan demikian, efek dari rebalancing FTSE lebih bersifat jangka pendek dibandingkan faktor fundamental yang memengaruhi kinerja saham dalam jangka panjang.
Buyback Saham Bisa Jadi Penahan Tekanan
Dari sisi emiten, aksi pembelian kembali saham atau buyback dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk meredam tekanan jual di pasar.
“Buyback dapat menyerap sebagian tekanan jual jangka pendek dan menunjukkan bahwa manajemen menilai valuasi sahamnya menarik,” katanya.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham CTRA, ASII, BBRI untuk Selasa (23/6)
Meski demikian, efektivitas aksi buyback tetap bergantung pada skala pelaksanaannya dibandingkan dengan volume saham yang dilepas oleh pasar, terutama oleh investor institusi.
Fundamental Tetap Jadi Penentu Jangka Panjang
Dalam perspektif jangka panjang, Liza menegaskan bahwa pergerakan harga saham tidak hanya ditentukan oleh faktor teknikal seperti rebalancing indeks, tetapi terutama oleh kekuatan fundamental perusahaan.
Faktor-faktor seperti peningkatan likuiditas, perbaikan struktur free float, serta kemampuan membangun kembali kepercayaan investor global menjadi kunci utama bagi emiten untuk mempertahankan daya tariknya di pasar.
Sebagai tambahan, saham NCKL tercatat masih bergerak positif di pasar. Pada penutupan perdagangan Senin (22/6/2026), saham NCKL naik 0,58% ke level Rp870 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














