kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

AUM Mayoritas Reksadana Susut pada Mei 2026, Pendapatan Tetap Paling Tertekan


Senin, 22 Juni 2026 / 18:39 WIB
AUM Mayoritas Reksadana Susut pada Mei 2026, Pendapatan Tetap Paling Tertekan
ILUSTRASI. Dana kelolaan reksadana mayoritas menyusut pada Mei 2026, terutama pendapatan tetap. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) mayoritas produk reksadana tercatat mengalami penurunan pada Mei 2026. Tekanan terbesar terjadi pada reksadana pendapatan tetap seiring kenaikan yield obligasi serta meningkatnya kehati-hatian investor di tengah kondisi pasar keuangan yang bergejolak.

Data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa hampir seluruh kategori reksadana mengalami pelemahan AUM, kecuali reksadana pasar uang yang masih mencatat pertumbuhan.

Reksadana Pendapatan Tetap Paling Tertekan

Berdasarkan data KSEI, AUM reksadana pendapatan tetap turun dari Rp 266,80 triliun pada April 2026 menjadi Rp 240,67 triliun pada Mei 2026. Penurunan juga terjadi pada reksadana saham yang menyusut dari Rp 71,91 triliun menjadi Rp 65,23 triliun.

Sementara itu, reksadana campuran turut mengalami pelemahan dari Rp 38,82 triliun menjadi Rp 35,12 triliun. Kondisi berbeda terjadi pada reksadana pasar uang yang justru mencatat kenaikan dari Rp 150,73 triliun menjadi Rp 152,42 triliun pada periode yang sama.

Baca Juga: Menanti Keputusan MSCI, Rupiah Melemah ke Rp 17.843 per Dolar AS

Tekanan Pasar dan Pergeseran Preferensi Investor

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menilai penurunan AUM tersebut mencerminkan pergeseran preferensi investor ke instrumen yang lebih defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang berada di level 5,75%, kenaikan yield obligasi, serta koreksi pasar saham membuat investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana.

"Selain karena adanya redemption, penurunan AUM juga berasal dari turunnya nilai pasar aset yang menjadi underlying reksadana saham, pendapatan tetap, dan campuran," ujar Budi kepada Kontan, Senin (22/6).

Dampak Kenaikan Yield terhadap Reksadana Obligasi

Budi menjelaskan bahwa reksadana pendapatan tetap menjadi kategori yang paling terdampak karena sangat sensitif terhadap pergerakan harga obligasi. Ketika yield obligasi naik, harga obligasi cenderung turun, sehingga menekan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana.

"Kondisi ini mendorong sebagian investor melakukan redemption atau memindahkan dana ke instrumen yang risikonya lebih rendah sambil menunggu pasar obligasi lebih stabil," kata Budi.

Reksadana Pasar Uang Jadi Pilihan Aman

Di sisi lain, reksadana pasar uang tetap menjadi pilihan utama investor karena menawarkan risiko yang relatif rendah serta likuiditas tinggi. Kenaikan suku bunga juga membuat instrumen ini semakin menarik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Budi menilai banyak investor saat ini memilih menempatkan dana sementara di reksadana pasar uang sambil menunggu arah pasar yang lebih jelas.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Rawan Terkoreksi pada Selasa (23/6), Ini Sentimennya

Prospek Pemulihan AUM Masih Terbuka

Meski tekanan pasar masih tinggi, peluang pemulihan AUM reksadana dinilai tetap terbuka. Menurut Budi, perbaikan dapat terjadi secara bertahap apabila sejumlah faktor makroekonomi mulai membaik.

"Jika kondisi tersebut membaik, AUM reksadana saham dan pendapatan tetap berpotensi pulih. Namun, selama volatilitas pasar masih tinggi, pertumbuhan terbesar kemungkinan masih berasal dari reksadana pasar uang," ujar Budi.

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi pasar yang menantang, peran manajer investasi menjadi semakin penting, terutama dalam memperkuat edukasi kepada investor agar tidak hanya berfokus pada kinerja jangka pendek.

Diversifikasi produk, pengelolaan risiko yang aktif, serta transparansi komunikasi juga menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas.

"Pada situasi seperti sekarang, kemampuan menjaga kepercayaan investor sering kali lebih menentukan dibandingkan sekadar mengejar return jangka pendek," kata Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×