Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen amonia dan Liqufied Petroleum Gas (LPG), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih baik pada 2026. Hal ini seiring beroperasinya kembali pabrik amonia milik emiten tersebut.
Dalam berita sebelumnya, ESSA mengumumkan bahwa fasilitas Banggai Ammonia Plant (BAP) telah mengakhiri proses pelaksanaan penghentian aktivitas operasional sementara terencana pada 8 Juni 2026 pukul 23.00 WITA. Fasilitas tersebut dioperasikan oleh anak usaha ESSA, yaitu PT Panca Amara Utama.
Seluruh pekerjaan inspeksi, pemeliharaan, penggantian peralatan, serta aktivitas peningkatan keandalan fasilitas operasi telah diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan dengan memenuhi standar keselamatan yang ketat.
"Saat ini BAP telah kembali beroperasi secara penuh (fully operational)," tulis Manajemen ESSA dalam keterbukaan informasi, beberapa pekan lalu.
Baca Juga: AUM Mayoritas Reksadana Susut pada Mei 2026, Pendapatan Tetap Paling Tertekan
Sebagai catatan, BAP merupakan salah satu fasilitas pabrik amonia yang diklaim paling efisien di dunia yang menggunakan KBR Reforming Exchanger System & Purifier Technology. Pabrik yang berlokasi di Sulawesi Tengah tersebut memiliki kapasitas produksi amonia sebanyak 700.000 ton per tahun.
Per kuartal I-2026, pendapatan ESSA naik 37% year on year (yoy) menjadi US$ 95 juta, sedangkan laba bersihnya melesat 13% yoy menjadi US$ 19 juta. Hasil ini dipengaruhi oleh tren kenaikan harga amonia dan LPG sejak kuartal IV-2025.
Sementara itu, Senior Research Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan, pengoperasian kembali BAP tentu menjadi katalis positif bagi kelangsungan usaha ESSA terutama pada semester II-2026.
Setelah melalui pemeliharaan berjadwal, ESSA berkesempatan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan utilitas pabriknya secara efisien sekaligus meminimalisir risiko shutdown yang tidak terencana.
"Output yang dihasilkan pabrik ini diharapkan bakal lebih optimal," ujar dia, Senin (22/6/2026)
Secara umum, kinerja ESSA bakal ditopang oleh prospek bisnis amonia yang tergolong menjanjikan. Permintaan bahan kimia ini cukup tinggi di pasar global, terutama dari industri pupuk, pangan, hingga olahan kimia. Harga amonia juga tumbuh positif di tengah ketidakpastian geopolitik global pada tahun ini.
Bisnis LPG ESSA juga berpotensi tetap tumbuh stabil seiring tingginya kebutuhan produk tersebut, baik untuk kalangan rumah tangga maupun industri.
Baca Juga: Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) Siapkan Dana untuk Lunasi Pokok Obligasi dan Sukuk
Untuk itu, ESSA perlu memfokuskan strateginya pada penguatan disiplin operasional serta optimalisasi struktur modal yang lebih sehat. ESSA juga perlu mempertimbangkan untuk mengembangkan produk turunan amonia sebagai upaya diversifikasi, misalnya blue amonia.
"Upaya ini akan memposisikan ESSA sebagai pemain utama dalam transisi energi hijau," imbuh Nafan.
Secara teknikal, Nafan menyarankan investor untuk wait and see saham ESSA, mengingat aliran dana yang belum terlihat signifikan dan harga saham emiten tersebut yang masih mengalami koreksi sehat.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, posisi saham ESSA saat ini masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek dan pergerakannya masih tertahan MA20. Volume transaksi cenderung mengecil dengan pergerakan MACD dan Stochastic yang tampak melandai.
Dia merekomendasikan buy on weakness saham ESSA dengan support di level Rp 585 per saham dan resistance di level Rp 670 per saham dengan target harga di kisaran Rp 710--Rp 765 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Mirae Asset Sekuritas
- MNC Sekuritas
- investasi saham
- ESSA
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk
- Nafan Aji Gusta
- Herditya Wicaksana
- Saham Emiten
- Transisi Energi Hijau
- Banggai Ammonia Plant
- Pabrik Amonia ESSA
- Harga Saham ESSA
- Kinerja ESSA
- Analisa Saham ESSA
- Rekomendasi Saham ESSA
- Laba ESSA
- Pendapatan ESSA
- Prospek Amonia
- Bisnis LPG
- Blue Amonia














