kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

IHSG Tertekan Sentimen Global, Cermati Proyeksi dan Saham Rekomendasi Analis


Kamis, 24 September 2026 / 20:18 WIB
IHSG Tertekan Sentimen Global, Cermati Proyeksi dan Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Pelemahan IHSG merupakan kombinasi antara sentimen global yang semakin kuat dan kondisi domestik yang mendorong investor bersikap lebih defensif. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dalam perdagangan dua hari terakhir.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pelemahan IHSG merupakan kombinasi antara sentimen global yang semakin kuat dan kondisi domestik yang mendorong investor bersikap lebih defensif.

"Tekanan terhadap IHSG dalam dua hari terakhir menurut saya merupakan kombinasi antara sentimen global yang semakin kuat dan faktor domestik yang membuat investor menjadi lebih defensif," kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Pada perdagangan 22 September 2026, IHSG turun 1,69% ke level 6.277,04. Setelah sempat rebound 1,56% pada 23 September ke 6.374,91, IHSG kembali melemah 1,20% pada 24 September menjadi 6.298,61.

Baca Juga: Fed Rate Naik, Cek Prospek IHSG Hingga Akhir Tahun dan Saham Rekomendasi Analis

Pada sesi pertama perdagangan 24 September, IHSG bahkan sempat terkoreksi lebih dari 1%.

Menurut Hendra, sentimen global masih menjadi pemicu utama tekanan pasar. Kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global menjadi sejumlah faktor yang membuat investor kembali berhati-hati.

"Faktor global saat ini menjadi pemicu utama, terutama kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi global akan bertahan lebih tinggi," ujarnya.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus 5%, sementara yield tenor dua tahun berada di sekitar 4,9%. Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik dan memberikan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, pelemahan rupiah dan masih tingginya foreign outflow turut memperbesar tekanan terhadap IHSG.

Pergantian Menteri Keuangan juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pasar, meski Hendra tidak melihatnya sebagai penyebab tunggal koreksi.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Kembali Terkoreksi Selasa (22/9), Cermati Saham Pilihan Analis

"Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara memang sempat menimbulkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal, terutama karena pasar sensitif terhadap kredibilitas APBN, defisit dan konsistensi kebijakan," jelasnya.

Namun, pemerintah melalui Menteri Keuangan baru menegaskan kesinambungan kebijakan fiskal dan target defisit 2026 sebesar 2,85% terhadap PDB.

Dengan kondisi tersebut, Hendra menilai isu pergantian Menteri Keuangan lebih tepat ditempatkan sebagai faktor tambahan terhadap persepsi risiko investor.

"Kenaikan yield dan pelemahan rupiah dapat mempercepat aksi jual asing. Kondisi ini semakin relevan saat harga minyak berada di atas US$100 per barel karena pasar kembali mengkhawatirkan inflasi dan kemungkinan kebijakan moneter global yang lebih ketat atau setidaknya lebih lama bertahan ketat," paparnya.

Menurut Hendra, kenaikan yield US Treasury berdampak terhadap pasar saham Indonesia karena investor global akan kembali membandingkan imbal hasil saham emerging market dengan aset bebas risiko di Amerika Serikat.

Semakin tinggi yield US Treasury, semakin besar pula return yang diminta investor untuk menempatkan dana pada aset berisiko seperti saham Indonesia.

Ketika kondisi tersebut bersamaan dengan pelemahan rupiah, investor asing menghadapi risiko dari sisi harga saham sekaligus nilai tukar.

Baca Juga: IHSG Ambles 1,69% ke 6.277, Cermati Saham Pilihan Analis untuk Rabu (23/9)

Bank Indonesia sendiri menyebut kenaikan yield Treasury AS dan harga minyak di atas US$100 per barel sebagai faktor yang memberikan tekanan terhadap rupiah.

Tekanan jual asing juga menjadi perhatian. Berdasarkan data yang digunakan Hendra, hingga perdagangan 24 September 2026 investor asing telah mencatat net sell sekitar Rp104,3 triliun di pasar reguler secara year to date.

Saham-saham big banks seperti BMRI, BBRI dan BBCA kembali menjadi sasaran jual.

 

Pada sesi pertama perdagangan 24 September, BMRI mencatat penjualan asing sekitar Rp237 miliar, BBRI sekitar Rp91 miliar dan TLKM sekitar Rp77 miliar.

Hendra menilai pola tersebut sudah lebih dari sekadar aksi profit taking dalam jangka pendek.

"Menurut saya, pola ini lebih tepat dibaca sebagai kombinasi antara perubahan alokasi aset dan pengurangan risiko, bukan sekadar profit taking jangka pendek," katanya.

Saham big banks, menurut dia, memiliki likuiditas besar sehingga lebih mudah digunakan investor asing ketika hendak mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia.

Namun, transaksi beli asing pada sejumlah saham tertentu menunjukkan investor asing belum sepenuhnya keluar dari Indonesia.

Baca Juga: Rencana Buyback Jumbo Bikin Harga 2 Saham LQ45 Mendaki, Cek yang Menarik Dibeli?

"Yang terjadi saat ini lebih menyerupai proses defensive repositioning, yaitu mengurangi risiko pada saham-saham besar sambil mencari saham yang memiliki katalis dan fundamental lebih kuat," tutur Hendra.

Pergerakan IHSG yang sempat menguat 1,56% pada 23 September sebelum kembali jatuh 1,20% pada 24 September juga menjadi perhatian. Hendra menilai penguatan tersebut belum menunjukkan perubahan tren secara fundamental.

Menurut dia, rebound tersebut lebih tepat dilihat sebagai technical rebound. Pasar sempat memanfaatkan kondisi oversold untuk melakukan bargain hunting, tetapi tekanan jual kembali muncul ketika IHSG menghadapi resistance 6.371.

"Ini menunjukkan bahwa supply masih lebih dominan daripada demand," ujarnya.

Secara teknikal, Hendra melihat level 6.230 sebagai area penting karena merupakan previous low. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang technical rebound menuju 6.371 dan kemudian 6.447 masih terbuka.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.230, masih terdapat peluang terjadinya technical rebound kembali menuju 6.371 dan kemudian 6.447," jelasnya.

Sebaliknya, apabila level 6.230 ditembus secara meyakinkan, risiko pelemahan IHSG akan meningkat menuju area 6.035 hingga support psikologis 6.000.

"Saya belum melihat konfirmasi bahwa pasar sudah memasuki bearish panjang yang tidak terbantahkan, tetapi struktur jangka pendek memang masih rapuh dan investor sebaiknya tidak menganggap setiap kenaikan sebagai tanda bahwa tren turun sudah berakhir," kata Hendra.

Untuk beberapa sesi ke depan, Hendra memperkirakan IHSG masih bergerak volatil dengan kecenderungan defensif. Jika level 6.230 bertahan dan tekanan dari yield US Treasury serta rupiah mulai mereda, IHSG berpeluang rebound menuju 6.371 kemudian 6.447.

Apabila 6.447 berhasil ditembus, ruang pemulihan berikutnya dapat mengarah ke 6.586. Sebaliknya, jika 6.230 ditembus, target pelemahan berikutnya berada di kisaran 6.035 hingga 6.000.

Baca Juga: IHSG Bisa Rebound Hari Ini? Intip Juga Rekomendasi Saham dari Analis

"Dengan demikian, area 6.230 saat ini bukan sekadar support teknikal biasa, tetapi menjadi critical level yang akan menentukan apakah koreksi hanya menjadi konsolidasi dalam atau berkembang menjadi penurunan yang lebih panjang," paparnya.

Di tengah tekanan IHSG, Hendra masih melihat peluang pada saham dengan permintaan domestik relatif kuat, bisnis yang mudah dipahami dan katalis individual yang tidak terlalu bergantung pada arus dana asing.

Untuk strategi trading, ICBP masih menarik dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 7.425 per saham. Menurut Hendra, bisnis consumer staples memberikan dukungan yang relatif defensif terhadap permintaan produk.

MAPI juga dapat dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 1.695 per saham. Eksposur terhadap konsumsi domestik dan segmen ritel menjadi katalis yang diperhatikan.

 

Sementara ERAA direkomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 670 per saham. Bisnis distribusi dan ritel perangkat teknologi dinilai memiliki katalis dari siklus pergantian perangkat serta perkembangan ekosistem digital.

Meski demikian, Hendra menilai ketiga saham tersebut tetap perlu ditransaksikan secara bertahap dan dengan disiplin terhadap risiko. Fundamental yang baik tidak otomatis membuat harga saham terbebas dari tekanan IHSG dan foreign outflow.

Baca Juga: IHSG Koreksi 1,42% Sepekan, Ini Proyeksi Level IHSG dan Sentimen Penggeraknya

"Masalahnya bukan semata-mata apakah fundamental perusahaan masih baik, tetapi apakah investor global kembali percaya bahwa risiko Indonesia sepadan dengan return yang ditawarkan," pungkasnya.

Selama yield US Treasury tinggi, dolar AS kuat, rupiah tertekan, harga minyak tinggi dan asing masih mencatat net sell, Hendra melihat ruang IHSG untuk menguat cenderung terbatas.

Karena itu, investor jangka pendek perlu mencermati level 6.230 sebagai penentu arah pergerakan berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×