kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

HPM Nikel Direvisi, Begini Prospek Saham MBMA, NCKL, INCO dan ANTM


Minggu, 20 September 2026 / 15:57 WIB
HPM Nikel Direvisi, Begini Prospek Saham MBMA, NCKL, INCO dan ANTM
ILUSTRASI. Perubahan aturan harga patokan bijih nikel mulai memengaruhi perhatian investor terhadap prospek sejumlah emiten tambang. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perubahan aturan harga patokan bijih nikel mulai memengaruhi perhatian investor terhadap prospek sejumlah emiten tambang.

Meski demikian, analis menilai dampaknya terhadap kinerja PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih relatif moderat.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali melakukan revisi terhadap formulasi penetapan Harga Patokan Mineral (HPM) untuk komoditas bijih nikel. Perubahan terbaru menyasar bijih nikel kadar rendah atau limonit.

Melalui ketentuan terbaru, Kementerian ESDM mengubah Corrective Factor (CF) untuk bijih nikel dengan kadar Ni 1,2% atau lebih rendah menjadi sebesar 14%. Selanjutnya, CF akan turun 1% setiap terjadi penurunan kadar Ni sebesar 0,1%.

Sementara itu, untuk bijih dengan kadar Ni di atas 1,2%, CF ditetapkan sebesar 30% pada kadar Ni 1,6% dan akan naik atau turun 1% setiap terjadi perubahan kadar Ni sebesar 0,1%.

Baca Juga: Serapan Anggaran MBG Capai Rp 139 Triliun, Ini Dampaknya ke Emiten Unggas

Ketentuan tersebut ditetapkan pada 11 September 2026 dan mulai berlaku efektif pada 15 September 2026. Aturan ini tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Perubahan Kedua atas Kepmen ESDM Nomor 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara.

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan perubahan CF untuk bijih nikel kadar rendah berpotensi membuat harga patokan bijih limonit ikut mengalami penurunan.

Menurut Wafi, kondisi tersebut berpotensi menekan perusahaan yang menjual bijih nikel kadar rendah kepada pihak ketiga. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan menggunakan limonit sebagai bahan baku dapat memperoleh keuntungan dari penurunan biaya bahan baku.

Wafi bilang, emiten seperti NCKL dan MBMA memiliki fasilitas HPAL sehingga dampak revisi HPM terhadap kedua emiten tersebut dapat lebih ternetralisir.

Sementara itu, INCO diperkirakan menjadi emiten yang paling minim terdampak perubahan formulasi HPM. Pasalnya, perusahaan memiliki bisnis yang terintegrasi hingga produksi nickel matte.

Adapun ANTM tetap berpotensi terdampak pada segmen bijih nikelnya. Namun, Wafi menilai dampaknya relatif terbatas. “ANTM terdampak di segmen bijih tapi porsi nikel kecil terhadap total revenue yang dominan emas, jadi (dampaknya) terbatas,” terang Wafi kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Secara keseluruhan, Wafi memperkirakan dampak revisi HPM terhadap MBMA, NCKL, INCO, dan ANTM masih moderat. Hal ini karena tidak ada satu pun dari keempat emiten tersebut yang mengandalkan bisnis sebagai penjual bijih nikel murni.

Baca Juga: Demutualisasi Bursa, Bagaimana OJK Cegah Bursa Dikuasai Satu Pihak?

Katalis emiten nikel

Memasuki sisa tahun 2026, sejumlah katalis masih berpotensi menopang prospek emiten tambang tersebut. Wafi mencermati harga tembaga yang masih berada di level tinggi meski telah terkoreksi dari rekor tertingginya atau all time high (ATH) sebesar US$ 14.001 per ton.

Harga emas yang masih berada jauh di atas cash cost juga menjadi katalis positif bagi emiten yang memiliki eksposur terhadap komoditas emas. Selain itu, peningkatan pembangunan infrastruktur artificial intelligence (AI) berpotensi menopang permintaan terhadap logam dasar.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, menyebut harga nikel yang masih solid menjadi salah satu katalis positif. Kondisi tersebut didukung oleh pengurangan kuota produksi tambang melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta pasokan dari fasilitas HPAL.

“Ini akan menopang tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) emiten nikel Indonesia. MBMA juga menjadi salah satu saham pilihan utama kami di sektor logam,” jelas Igor.

Risiko emiten nikel

Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja emiten nikel. Wafi menyoroti kondisi pasar nikel yang masih menghadapi oversupply struktural.

Kebijakan RKAB juga menjadi variabel yang perlu diperhatikan. Menurut Wafi, kasus force majeure yang dialami PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menunjukkan bahwa risiko terkait perizinan masih perlu menjadi perhatian investor.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, juga mencermati sejumlah risiko yang membayangi kinerja emiten-emiten tersebut. Risiko tersebut antara lain perkembangan geopolitik yang berdampak terhadap pasar energi global, kenaikan biaya energi seperti HSFO, diesel, dan batubara, serta potensi pelemahan harga nikel.

Dari sisi emiten, Wafi melihat ANTM memiliki daya tarik karena menjalankan bisnis yang terdiversifikasi pada komoditas emas dan nikel. Selain itu, ANTM memiliki free float yang bersih serta mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 693,3 miliar pada pekan lalu.

Sementara itu, INCO dinilai relatif lebih defensif karena memiliki bisnis yang terintegrasi penuh. Adapun NCKL dan MBMA memiliki eksposur yang lebih besar terhadap siklus nikel yang saat ini masih menghadapi tekanan.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Tambang Mineral Senin (21/9), Cek Pilihannya

Rekomendasi saham MBMA, NCKL, INCO dan ANTM

Dari sisi rekomendasi saham, Igor merekomendasikan buy untuk saham MBMA dengan target harga Rp 860 per saham. Kemudian, Adrian merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham.

Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, merekomendasikan buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp 4.000 per saham.

Sementara itu, Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, merekomendasikan buy untuk saham NCKL dengan target harga Rp 1.220 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×