kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

BMKS Bakal Beroperasi, Begini Prospek Saham Emiten Mineral


Rabu, 16 September 2026 / 18:14 WIB
BMKS Bakal Beroperasi, Begini Prospek Saham Emiten Mineral
ILUSTRASI. Smelter nikel Antam Mind ID - baterai kendaraan listrik (Dok/Mind ID)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kehadiran Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) atau Indonesia Commodity Exchange (Icomex) menjadi katalis struktural baru bagi emiten produsen mineral di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai kehadiran BMKS berpotensi memberikan dampak positif bagi emiten mineral dalam jangka menengah hingga panjang, terutama dari sisi transparansi perdagangan dan pembentukan harga komoditas.

Icomex direncanakan diluncurkan pada 17 September 2026, sedangkan perdagangan awal ditargetkan mulai 4 Januari 2027 dengan timah sebagai komoditas pertama yang diperdagangkan.

“Dalam jangka pendek, dampaknya kemungkinan lebih bersifat sentimen karena bursa masih berada dalam tahap awal pembentukan ekosistem dan likuiditasnya belum terbentuk secara optimal,” jelas Nafan kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga: Pasca Bos Kena OTT KPK, Saham Summarecon (SMRA) Terus Anjlok Begini Prospeknya

Menurut Nafan, BMKS dapat menciptakan price discovery yang lebih transparan sekaligus menjadi referensi harga domestik bagi pelaku industri. Hal tersebut dinilai penting karena pembentukan harga sejumlah mineral Indonesia selama ini masih banyak mengacu pada benchmark atau mekanisme perdagangan di luar negeri.

Namun, kemampuan BMKS untuk menjadi price maker tidak akan terjadi secara instan. Efektivitasnya akan bergantung pada volume transaksi, jumlah partisipan, kualitas data, transparansi serta likuiditas bursa.

Bagi emiten mineral, transparansi harga tersebut berpotensi meningkatkan visibilitas pendapatan dan margin serta mengurangi ketidakpastian dalam transaksi komoditas. Dalam jangka panjang, jika Icomex berhasil membentuk benchmark harga yang kredibel, produsen mineral berpotensi memiliki posisi tawar yang lebih baik.

Di sisi lain, emiten juga akan menghadapi tuntutan transparansi yang lebih tinggi. Ruang negosiasi bilateral berpotensi lebih terbatas, sementara harga yang terbentuk secara lebih real time dapat membuat volatilitas harga komoditas semakin terlihat dan pada akhirnya tercermin dalam volatilitas kinerja emiten.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai BMKS juga dapat memberikan dampak positif dalam jangka pendek karena membuat perdagangan dan harga mineral lebih transparan. Namun, pada tahap awal terdapat tantangan dari sisi likuiditas dan penyesuaian sistem.

“Jangka panjang, kalau transaksinya ramai, BMKS bisa memperkuat posisi tawar produsen Indonesia,” kata Sukarno.

Baca Juga: Siapkan Anggaran Rp 500 Miliar Untuk Buyback, Intip Rekomendasi Saham Kalbe (KLBF)

Meski demikian, dampak BMKS terhadap laba emiten mineral diperkirakan tidak akan langsung terasa. Menurut Sukarno, BMKS akan lebih dulu berfungsi sebagai referensi harga. Pengaruhnya terhadap kinerja akan semakin besar apabila volume transaksi tinggi dan harga yang terbentuk mulai dipercaya sebagai benchmark.

“Untuk laba, harga komoditas global dan volume produksi tetap lebih dominan,” jelasnya.

Nafan juga menilai pengaruh BMKS terhadap kinerja saham emiten mineral akan berlangsung tidak langsung dan bertahap. Bursa komoditas tidak serta-merta meningkatkan laba perusahaan karena fundamental emiten tetap ditentukan oleh volume produksi, kadar atau kualitas cadangan, biaya produksi, harga jual, efisiensi operasional serta permintaan global.

Jika BMKS mampu meningkatkan transparansi dan membentuk benchmark harga domestik yang kredibel, kualitas price discovery dan visibilitas earnings emiten mineral dapat meningkat. Dengan begitu, dampak awal BMKS lebih berpotensi terlihat pada transparansi dan sentimen valuasi sebelum kemudian berpotensi masuk ke fundamental perusahaan.

Kehadiran BMKS juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik saham mineral bagi investor, terutama yang mencari eksposur terhadap komoditas strategis Indonesia. Investor akan memiliki tambahan referensi mengenai perkembangan harga komoditas domestik sehingga hubungan antara harga komoditas dan kinerja emiten lebih mudah dipantau.

Namun, Sukarno menilai kenaikan valuasi saham tetap akan bergantung pada fundamental masing-masing emiten. “Tapi untuk mendorong kenaikan valuasi, investor tetap akan melihat pertumbuhan produksi, harga komoditas, hilirisasi, dan kondisi keuangan masing-masing emiten,” ujarnya.

Setelah BMKS beroperasi penuh, Nafan melihat sektor mineral masih memiliki prospek struktural yang cukup menarik, terutama apabila implementasi bursa berjalan konsisten dan mampu meningkatkan likuiditas perdagangan.

Pengembangan BMKS juga diarahkan untuk mendukung hilirisasi dan industrialisasi domestik. Menurut Nafan, perdagangan komoditas melalui Icomex diharapkan dapat mendukung optimalisasi smelter dan proses hilirisasi, termasuk pengolahan nikel hingga produk yang berkaitan dengan rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Sukarno menambahkan, prospek jangka panjang sektor mineral cukup positif, khususnya bagi produsen komoditas strategis seperti emas, nikel, timah, tembaga dan bauksit. Namun, dampak BMKS diperkirakan berlangsung bertahap sehingga lebih tepat dilihat sebagai katalis tambahan daripada penggerak utama kinerja.

Di luar BMKS, investor perlu mencermati sejumlah sentimen yang dapat memengaruhi saham mineral. Nafan menyebut harga komoditas global, permintaan China, kebijakan ekspor dan impor, nilai tukar rupiah, kebijakan hilirisasi dan royalti, perkembangan kapasitas smelter serta kondisi geopolitik.

Untuk nikel, keseimbangan antara pertumbuhan pasokan Indonesia dengan permintaan stainless steel dan baterai menjadi faktor penting. Sementara untuk emas dan tembaga, pergerakan harga global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan permintaan investasi menjadi katalis utama.

Sukarno juga menyoroti harga emas, nikel, timah dan tembaga, perkembangan RKAB, produksi dan smelter, permintaan China, biaya energi, nilai tukar, suku bunga serta kebijakan ekspor dan royalti.

Dengan demikian, BMKS lebih tepat dipandang sebagai katalis struktural tambahan bagi sektor mineral. Kinerja dan valuasi saham tetap akan sangat bergantung pada fundamental masing-masing emiten serta perkembangan pasar komoditas global.

Untuk pilihan saham, Sukarno merekomendasikan Buy untuk PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) dengan target harga Rp4.100 per saham.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Tertekan Jangka Pendek Jika Suku Bunga The Fed Naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×