kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Rekomendasi Saham Tambang Mineral Senin (21/9), Cek Pilihannya


Minggu, 20 September 2026 / 15:20 WIB
Rekomendasi Saham Tambang Mineral Senin (21/9), Cek Pilihannya
ILUSTRASI. Saham emiten tambang mineral berpotensi menjadi perhatian investor pada perdagangan awal pekan. Sejumlah analis memberikan rekomendasi beli (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten tambang mineral berpotensi menjadi perhatian investor pada perdagangan awal pekan. Sejumlah analis memberikan rekomendasi beli terhadap saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Rekomendasi tersebut didukung oleh sejumlah katalis, mulai dari prospek harga nikel, peningkatan produksi dan penjualan bijih nikel, hingga kenaikan asumsi harga emas. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko seperti kenaikan biaya produksi, potensi koreksi harga bijih nikel, serta tekanan terhadap penjualan emas.

Berikut rekomendasi saham sektor tambang mineral dari sejumlah analis untuk perdagangan Senin (21/9/2026).

1. Saham MBMA

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, merekomendasikan buy untuk saham MBMA dengan target harga Rp 860 per saham.

MBMA membukukan kinerja operasional yang secara keseluruhan kuat pada kuartal II 2026, sejalan dengan estimasi dan panduan kami. Meskipun margin kas per ton untuk limonit (dengan saprolit digunakan sebagai bahan baku internal) dan nickel pig iron (NPI) turun secara kuartalan pada kuartal II, keduanya masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produksi bijih nikel dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) telah mencapai 53% dari proyeksi kami untuk 2026, lebih tinggi dari pola musiman normal pada semester I. Penjualan nickel matte kadar tinggi (high-grade nickel matte/HGNM) mencatat peningkatan volume. Namun, biaya NPI kadar rendah yang lebih tinggi menyebabkan HGNM membukukan kerugian bersih pada kuartal II.

Kami memperkirakan harga nikel yang solid didorong oleh pengurangan kuota produksi tambang (RKAB) dan pasokan HPAL, akan menopang tingkat pengembalian ekuitas (ROE) perusahaan-perusahaan nikel Indonesia seperti MBMA. MBMA merupakan salah satu saham pilihan utama kami di sektor logam.

Baca Juga: CDS Indonesia Diproyeksi Sideways hingga Akhir Tahun

2. Saham INCO

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, merekomendasikan buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham.

Realisasi pendapatan yang kuat tersebut terutama ditopang oleh segmen Nickel Matte yang menyumbang pendapatan sebesar US$ 401 juta. Di sisi lain, segmen Nickel Ore juga mencatat pertumbuhan sangat tinggi dengan pendapatan mencapai US$ 142 juta, melonjak 2.840% YoY.

INCO mencatat produksi nickel matte sebesar 16.153 ton pada kuartal II 2026, meningkat 19% secara kuartalan (qoq). Dengan demikian, total produksi nickel matte pada semester I 2026 mencapai 29.773 ton. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penguatan kinerja operasional setelah selesainya proyek Electric Furnace 3 Rebuild pada Juni 2026.

Penjualan bijih nikel juga mencatat pertumbuhan solid. Blok Bahodopi membukukan penjualan bijih saprolit sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal II 2026. Sementara itu, blok Pomalaa mencatat peningkatan signifikan penjualan bijih menjadi 496.000 wmt pada kuartal II 2026.

3. Saham NCKL

Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, merekomendasikan buy untuk saham NCKL dengan target harga Rp 1.220 per saham.

Pertumbuhan pendapatan NCKL pada kuartal II 2026 terutama didorong oleh peningkatan penjualan bijih nikel. Menurut kami, kinerja tersebut ditopang oleh ASP saprolit dan limonit yang kuat setelah penerapan formula HPM baru. Kami memperkirakan volume penjualan saprolit mencapai 14,6 juta WMT pada 2026, dengan margin kas tetap berada di atas 60%.

Pada segmen pengolahan nikel, asumsi kami bahwa harga nikel LME akan meningkat secara tahunan menjadi US$ 17.500 per ton diharapkan dapat mengimbangi kenaikan biaya kas akibat meningkatnya harga saprolit dan bahan bakar.

Kami memperkirakan margin kas ferronickel (FeNi) mencapai 27% pada 2026. Total volume penjualan FeNi, termasuk KPS Tahap 3 yang telah selesai pada semester I 2026, diproyeksikan mencapai 230.000 ton. Sementara itu, volume penjualan limonit diperkirakan tetap berada di sekitar 18 juta WMT, dengan margin kas dipertahankan sekitar 60% pada 2026.

Baca Juga: Begini Prospek Saham Emiten Unggas di Tengah Serapan Anggaran MBG 63,89%

4. Saham ANTM

Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, merekomendasikan buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp 4.000 per saham.

Asumsi harga emas 2026 dinaikkan, prospek nikel masih perlu dicermati. Kami menaikkan asumsi harga emas untuk 2026 menjadi US$ 4.500 per ons, dari sebelumnya US$ 4.400 per ons. Harga emas sepanjang tahun berjalan (YTD) telah mencapai US$ 4.544 per ons, sementara pada Agustus 2026 harga emas melonjak 13,3% menjadi US$ 4.563 per ons. Kenaikan tersebut didorong oleh arus dana masuk global ke ETF emas sekitar US$ 17,7 miliar, setara dengan 120 ton emas.

Seiring itu, kami menaikkan proyeksi pendapatan ANTM untuk 2026 menjadi Rp 109,4 triliun, dari sebelumnya Rp 99,8 triliun. Proyeksi laba bersih juga dinaikkan menjadi Rp 9,4 triliun. Meski demikian, terdapat risiko penurunan terhadap penjualan emas. Pengenaan bea keluar yang baru diberlakukan mendorong lebih banyak produsen domestik menjual emas di pasar dalam negeri, sehingga berpotensi memperburuk kondisi kelebihan pasokan di pasar utama ANTM.

Di bisnis nikel, ANTM memperoleh tambahan kuota RKAB, sehingga total kuotanya menjadi sekitar 19 juta ton. Tambahan kuota tersebut diperkirakan dapat menopang volume penjualan ke depan.

Namun, dengan ASP rata-rata bijih nikel mencapai US$ 73,9 per wmt pada semester I 2026, terdapat potensi koreksi pada semester II 2026. Pelonggaran kuota produksi di industri dapat meningkatkan pasokan bijih nikel nasional dan mendorong ASP mendekati level HPM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×