kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Risiko Fiskal Bayangi Pergerakan CDS Indonesia hingga Akhir 2026


Minggu, 20 September 2026 / 16:32 WIB
Risiko Fiskal Bayangi Pergerakan CDS Indonesia hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Credit default swap (CDS) (Dok/Freepik.com)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Credit Default Swap (CDS) Indonesia hingga akhir 2026 diperkirakan masih relatif terkendali, tetapi tetap menghadapi risiko volatilitas. Setelah risk premium mulai mereda dalam sebulan terakhir, perhatian pasar berpotensi bergeser ke kredibilitas fiskal dan arah kebijakan pemerintah.

Berdasarkan data pasar, CDS Indonesia tenor 10 tahun berada di level 131,32 basis poin (bps) pada Jumat (18/9/2026), turun dari 132,51 bps pada pekan sebelumnya dan 135,73 bps sebulan lalu.

Sementara itu, CDS tenor 5 tahun berada di level 82,12 bps, turun dari 82,75 bps sepekan sebelumnya dan 84,21 bps sebulan lalu.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman mengatakan, penurunan CDS tersebut menunjukkan risk premium Indonesia mulai mereda. Namun, kondisi tersebut belum berarti risiko Indonesia sepenuhnya hilang.

"Pasar sedang melakukan repricing positif terhadap risiko Indonesia, sembari tetap menjaga premi atas ketidakpastian fiskal dan global. Jadi, sentimennya membaik, tetapi masih bersifat hati-hati," ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Menurut Rizal, penurunan CDS ditopang kombinasi faktor eksternal dan domestik. Status investment grade dan komitmen menjaga disiplin fiskal menjadi anchor domestik, sementara perubahan ekspektasi suku bunga global turut membantu meredakan risk premium.

Namun, outlook negatif dari sebagian lembaga rating membuat ruang penurunan CDS tetap terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap Indonesia masih disertai kehati-hatian.

Baca Juga: CDS Indonesia Diproyeksi Sideways hingga Akhir Tahun

"Pasar memberi kepercayaan, tetapi bukan cek kosong," kata Rizal.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah tidak secara otomatis menunjukkan peningkatan risiko gagal bayar Indonesia. CDS lebih merefleksikan sovereign credit risk, sedangkan rupiah lebih cepat merespons pergerakan dolar AS, yield US Treasury, diferensial suku bunga, harga minyak, dan arus modal.

Karena itu, tekanan rupiah yang terutama bersumber dari faktor eksternal belum otomatis diterjemahkan pasar sebagai kenaikan risiko gagal bayar Indonesia.

Memasuki akhir tahun, perhatian pasar akan semakin tertuju pada kredibilitas fiskal. Pemerintah perlu menjaga defisit tetap di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB), memastikan kebutuhan pembiayaan tetap terkelola, serta menghindari munculnya persepsi fiscal dominance.

"Dalam kondisi global yang masih rapuh, policy surprise domestik dapat menaikkan risk premium jauh lebih cepat daripada proses penurunannya," ujar Rizal.

Dalam skenario dasar, Rizal memperkirakan CDS 5 tahun berada di kisaran 80-95 bps pada akhir 2026. Sementara CDS 10 tahun diperkirakan berada di kisaran 125-145 bps.

Adapun risiko pelebaran CDS terutama berasal dari pembengkakan defisit dan kebutuhan pembiayaan, pelemahan rupiah yang disorderly, capital outflow, eskalasi geopolitik, serta penurunan kredibilitas kebijakan.

Baca Juga: CDS Indonesia Melandai, Premi Risiko Mulai Berkurang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×