Reporter: Yuliana Hema | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua dekade berkecimpung di pasar modal membuat Rangga Raharja akrab dengan siklus naik turun bursa. Dari ruang equity sales hingga kursi direktur utama, pengalaman tersebut perlahan mengubah cara Rangga mengelola investasi.
Rangga yang kini menjabat Direktur Utama YB Sekuritas ini bercerita, persinggungannya dengan pasar modal bermula dari bangku kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), ketika dia mengambil program analis efek. Saat itu, pasar modal belum menjadi pilihan karier yang umum sehingga ajakan seorang teman menarik perhatiannya.
"Setelah lulus pada 2006, saya langsung menjadi equity sales sehingga ilmu dari kuliah bisa saya terapkan," kata Rangga kepada Kontan belum lama ini.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik, Penurunan Harga Minyak Redakan Tekanan Inflasi
Sebagai equity sales, Rangga tidak hanya berhadapan dengan teori investasi yang dipelajari di kampus. Dia mulai melihat bahwa pergerakan harga saham dipengaruhi banyak faktor, termasuk berita, sentimen pasar, serta berbagai kondisi eksternal.
Dari posisi tersebut, pengetahuan Rangga kemudian melebar ketika pada 2007 dia berpindah ke perusahaan investasi dan dipercaya sebagai manager treasury. Pekerjaan itu membuatnya mengelola portofolio saham perusahaan sekaligus menangani transaksi Repo.
Pada 2010, Rangga kembali ke industri sekuritas setelah perusahaan tempatnya bekerja mengambil alih Kapitalindo Utama. Kariernya berlanjut sebagai head operation, sebelum dipercaya menjadi direktur operasional pada 2014 dan akhirnya direktur utama pada 2025.
Belajar dari Krisis
Pengalaman panjang itu juga membentuk cara Rangga menghadapi berbagai gejolak pasar. Dia telah merasakan tekanan krisis 2008, ketika sebagai equity sales, pekerjaan sehari-harinya lebih banyak menerima telepon nasabah yang kebingungan menghadapi harga saham yang terus merosot.
Saat itu, Rangga mengingat perdagangan saham berlangsung sangat berat karena banyak saham menyentuh batas penurunan. Namun, kurang dari setahun kemudian, pasar mulai bangkit, memberikan pelajaran bahwa tekanan besar tidak selalu berlangsung selamanya.
"Yang bisa bertahan itu pertama disiplin, tahu kapan cut loss dan kapan buyback lagi. Disiplin itu penting untuk mengurangi sifat greedy," ujarnya.
Baca Juga: Beberapa Hal yang Perlu Diketahui Tentang POJK Demutualisasi BEI
Krisis berikutnya, termasuk periode pandemi Covid-19, kembali memperkuat pandangannya. Rangga melihat saham dengan fundamental kuat cenderung lebih cepat pulih, tetapi investor tetap perlu disiplin mengurangi posisi ketika tanda-tanda penurunan mulai terlihat.
Menurutnya, mempertahankan seluruh portofolio hanya karena merasa fundamental perusahaan masih bagus dapat membuat investor kehilangan kesempatan. Dana yang tetap terikat pada aset yang turun juga mengurangi ruang untuk masuk kembali ketika peluang baru muncul.
Perubahan cara pandang itu tidak terjadi dalam semalam. Pada masa awal berinvestasi, Rangga mengaku lebih agresif dan tertarik pada saham yang mampu memberikan kenaikan cepat dibandingkan saham berfundamental kuat dengan pergerakan lebih stabil.
"Pengalaman memang mengubah pola pikir. Yang naiknya kencang, turunnya juga kencang, sedangkan yang naiknya sedikit demi sedikit tetapi stabil akhirnya mengubah cara saya melihat investasi," ucap dia.
Rangga juga pernah mengikuti tren saham dari sebuah grup konglomerasi yang tengah ramai pasca krisis 2008. Dia mengakui sempat ikut arus karena saat itu saham-saham dalam kelompok tersebut menjadi perhatian besar pelaku pasar.
Pengalaman tersebut kemudian membuatnya lebih berhati-hati menempatkan dana pada saham yang pergerakannya sangat agresif. Baginya, peluang tetap boleh diambil, tetapi porsinya harus dibatasi dan investor perlu mengetahui kapan harus keluar.
"Kalau masuk ke saham seperti itu, jangan semuanya dicemplungkan di situ. Risikonya besar, jadi porsinya jangan besar dan jangan dipegang terlalu lama," tutur Rangga.
Pentingnya Diversifikasi
Pelajaran dari sejumlah gejolak pasar akhirnya membawa Rangga pada satu prinsip penting, yakni diversifikasi. Pada awal bekerja, dia mengaku seluruh dananya masih ditempatkan di saham, sebelum kemudian mulai membagi portofolio ke instrumen lain.
Kini, saham tetap menjadi porsi terbesar dalam portofolionya, sekitar 30%–35%. Dia juga memiliki investasi di emas sekitar 20%. Sementara obligasi dan deposito digunakan sebagai instrumen penyeimbang untuk menjaga komposisi portofolio.
Untuk saham, Rangga cenderung menempatkan porsi lebih besar pada perusahaan berfundamental kuat dan saham blue chip. Sementara saham second liner atau third liner tetap ada dalam portofolionya, tetapi porsinya dibatasi.
"Kalau saham, sebagian besar fundamental dan blue chip. Saham second liner atau third liner tetap saya mainkan, tetapi porsinya dibatasi," tuturnya.
Baca Juga: Penutupan Wall Street, Jumat (18/9): Dow Jones Melorot, S&P 500 dan Nasdaq Naik
Bagi Rangga, diversifikasi bukan sekadar membagi dana ke banyak instrumen. Keputusan tersebut lahir setelah dia mengalami sendiri kerugian ketika terlalu banyak menempatkan dana pada saham dan pasar tiba-tiba berbalik arah.
"Kalau semua uang ditaruh di saham dan market tiba-tiba berbalik, kita bisa mengalami cut loss besar. Dari situ saya belajar tidak bisa menaruh semuanya dalam satu keranjang," jelasnya.
Selain mengatur portofolio, Rangga menerapkan disiplin sejak menerima penghasilan. Dia menyisihkan sekitar 10%-20% pendapatan bulanan ke rekening terpisah, yang kemudian menjadi modal untuk investasi sekaligus cadangan menghadapi kebutuhan darurat.
Menurutnya, sisa penghasilan harus dibedakan antara kebutuhan dan keinginan. Prinsip tersebut membuat pengeluaran tetap menyesuaikan kemampuan, sehingga dana yang telah disisihkan tidak kembali terpakai untuk konsumsi sehari-hari.
"Yang penting disiplin, 10%–20% penghasilan disisihkan. Dari uang yang dikumpulkan itu kemudian harus diinvestasikan, tetapi kita juga harus mengerti instrumen yang kita pilih," imbuhnya.
Bagi Rangga, investasi akhirnya bukan hanya persoalan memilih aset, melainkan juga menjaga kemampuan untuk bertahan. Setelah melewati berbagai siklus pasar, dia semakin menempatkan disiplin, pengetahuan dan diversifikasi sebagai fondasi pengelolaan kekayaan.
Baca Juga: Bobot Indonesia di MSCI Cuma 0,5%, Asing Tunggu Kebijakan Fiskal Menkeu Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














