kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Proyek Smelter HPAL Catat Progres Signifikan, Ini Prospek Saham Vale Indonesia (INCO)


Kamis, 13 Agustus 2026 / 18:24 WIB
Proyek Smelter HPAL Catat Progres Signifikan, Ini Prospek Saham Vale Indonesia (INCO)
ILUSTRASI. Pengolahan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (Dok/INCO)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus memacu hilirisasi melalui proyek pengembangan Indonesia atau Indonesia Growth Project (IGP) yang mencakup pembangunan smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di tiga tempat, yaitu Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako.

Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia Budiawansyah mengatakan, proyek HPAL Pomalaa menjadi proyek smelter dengan progres paling maju. Smelter yang dikembangkan bersama mitra Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford ini bakal terintegrasi dengan tambang INCO yang juga berada di Pomalaa.

Hingga Juli 2026, proyek ini sudah mencapai progres hampir 100% dan telah memenuhi status mechanical completion yang artinya seluruh peralatan dan pekerjaan mekanik utama telah terpasang dan selesai sesuai spesifikasi.

Baca Juga: Ini Target Harga Terbaru Energi Mega Persada (ENRG) Usai Rights Issue

“Sekarang tinggal proses comissioning saja,” ujar dia dalam media gathering, Kamis (13/8).

Jika tidak aral melintang, proyek smelter HPAL INCO di Pomalaa akan benar-benar tuntas pada Desember 2026. Smelter ini memiliki kapasitas produksi 120.000 ton nikel dalam Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan kebutuhan bijih nikel sebanyak 21 juta ton limonit dan 0,72 juta ton saprolit. Adapun nilai investasi untuk proyek ini mencapai US$ 3,4 miliar.

Selain itu, proyek smelter HPAL di Bahodopi juga memperlihatkan progres yang menjanjikan. Belum lama ini, INCO telah menerima kedatangan autoclave, semacam reaktor inti di dalam fasilitas HPAL. Pemasangan autoclave menjadi capaian penting dalam tahap konstruksi smelter tersebut.

Sebagai informasi, proyek smelter HPAL di Bahodopi bernilai investasi US$ 1,4 miliar, di mana INCO turut menggandeng Gem Co. Ltd., dan EcoPro. Proyek ini ditargetkan mencapai mechanical completion secara penuh pada Maret 2027. Nantinya, smelter ini dapat memproduksi 66.000 ton nikel dalam MHP dengan kebutuhan pasokan bijih nikel sebanyak 10,4 juta ton limonit dan 1 juta ton saprolit per tahun.

Proyek ini juga merupakan bagian dari komitmen INCO terkait dengan perpanjangan Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Bahan baku smelter tadi berasal dari bijih limonit dan saprolit yang ditambang di Blok Bahodopi.

Tak ketinggalan, INCO juga menggarap proyek tambang Blok Sorowako yang berjalan beriringan dengan smelter HPAL. Dalam proyek ini, INCO turut bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt.

Model proyek ini agak berbeda dengan Pomalaa dan Bahodopi, mengingat fasilitas tambang dan pengolahan tidak berada dalam satu lokasi yang sama. Bijih nikel dari tambang Sorowako akan diproses terlebih dahulu melalui Feed Preparation Plant (FPP), kemudian dikirim melalui sistem perpipaan menuju smelter.

“Kami mengestimasikan pengembangan Sorowako berada pada periode 2027—2028 atau mengikuti sequence pengembangan hilirisasi yang telah disusun perusahaan,” ungkap dia.

Pembangunan smelter HPAL di Sorowako sendiri menelan kebutuhan investasi sekitar US$ 1,4 miliar dengan kapasitas sekitar 60.000 ton nikel dalam MHP. Adapun kebutuhan bijih nikel smelter tersebut yakni sekitar 11,5 juta ton limonit dan 1 juta ton saprolit per tahun.

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, prospek kinerja INCO menjadi lebih positif secara struktural lantaran proyek-proyek HPAL akan mengubah mereka dari perusahaan yang selama ini sangat bergantung pada produksi nickel matte berbasis Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) menjadi perusahaan dengan eksposur yang lebih luas terhadap rantai nilai nikel untuk baterai kendaraan listrik.

Menariknya, proyek-proyek tersebut memanfaatkan bijih limonit kadar rendah yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi lebih terbatas. Dengan HPAL, limonit tadi dapat diolah menjadi MHP yang merupakan bahan antara untuk industri baterai.

“Dampaknya bukan hanya peningkatan volume produksi, tetapi juga diversifikasi produk dan pasar,” kata dia, Kamis (13/8).

Nafan menambahkan, proyek smelter HPAL memungkinkan INCO untuk memonetisasi cadangan limonit secara lebih optimal. Selain itu, INCO tidak lagi terlalu bergantung pada satu jenis produk nikel. Ini dapat menjadi keunggulan ketika permintaan stainless steel melemah, namun permintaan material baterai kembali menguat.

Tak hanya itu, kerja sama INCO dengan beberapa perusahaan global menjadi pertanda bahwa emiten ini tidak hanya sekadar membangun fasilitas pengolahan, melainkan juga mengembangkan ekosistem hilirisasi dan terlibat dalam rantai pasok elektrifikasi secara global.

Namun, perlu diingat bahwa manfaat tersebut tidak akan langsung terasa dalam jangka pendek. Justru dalam periode tersebut investor harus mengantisipasi tekanan arus kas bebas akibat belanja modal besar, risiko ramp-up, dan kebutuhan modal kerja.

“Jadi, saya melihat 2026–2027 sebagai fase investasi, sedangkan potensi earnings inflection yang lebih signifikan seharusnya mulai terlihat setelah fasilitas HPAL memasuki tahap ramp-up dan mencapai utilisasi komersial yang lebih tinggi,” pungkas dia.

Nafan sendiri merekomendasikan wait and see saham INCO.

Baca Juga: Energi Mega (ENRG) Siapkan Ekspansi, Bor 120 Sumur Hingga Lima Tahun Mendatang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×