Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru berpotensi menjadi sentimen positif bagi prospek saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Selama harga nikel tetap berada dalam tren positif, pelemahan rupiah berpotensi menjadi tambahan katalis bagi kinerja emiten tambang nikel tersebut.
Hal ini sebab, INCO menjadi salah satu emiten yang berorientasi ekspor. Di tengah tren pelemahan mata uang rupiah belakangan ini, INCO berpotensi menikmati peningkatan pendapatan karena mayoritas penjualannya menggunakan denominasi dolar AS.
Kendati demikian, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, mengatakan pergerakan harga komoditas masih menjadi faktor utama yang menentukan kinerja emiten sektor pertambangan, termasuk INCO.
Baca Juga: Harga Nikel Tertekan, Analis Masih Jagokan Saham ANTM, INCO, dan MBMA
Menurutnya, pelemahan rupiah hanya menjadi katalis tambahan yang dapat meningkatkan margin keuntungan perusahaan.
"Meskipun terjadi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kami menilai pergerakan harga komoditas tetap menjadi acuan sekaligus motor penggerak utama bagi kinerja emiten di sektor ini," ujar Adrian kepada Kontan, Jumat (26/6/2026).
Ia mencontohkan, pada kuartal I-2026 harga nikel sempat mencatat kenaikan hingga 17% sejak awal Januari. Momentum tersebut dinilai memberikan ruang bagi peningkatan kinerja INCO, yang kemudian diperkuat oleh tambahan margin akibat pelemahan rupiah.
Selain faktor nilai tukar, Adrian juga menyoroti katalis internal yang berpotensi menopang pertumbuhan perusahaan pada tahun ini. Salah satunya adalah target penyelesaian proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa dan Morowali yang dijadwalkan rampung pada kuartal III hingga kuartal IV 2026.
Meski demikian, Adrian mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Salah satunya adalah ketidakpastian regulasi di sektor pertambangan, seperti perubahan skema royalti mineral dan batubara (minerba) maupun kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan ke depan.
Baca Juga: Dolar AS Perkasa, Simak Rekomendasi Saham INKP, INCO, ADRO, dan ITMG
Di samping itu, volatilitas harga minyak dunia juga menjadi sentimen negatif yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan biaya operasional sekaligus memengaruhi pergerakan harga komoditas yang menjadi sumber utama pendapatan emiten tambang.
Dari sisi kinerja keuangan, total pendapatan INCO mencapai US$ 253 juta, naik 22% secara tahunan (YoY), dari posisi tahun sebelumnya yang berada di US$ 207 juta pada kuartal I-2026. Sejalan, laba bersih juga tercatat melonjak signifikan 100,1% YoY menjadi US$ 43,6 juta dari perolehan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 21,7 juta.
Secara keseluruhan, Adrian memproyeksikan laba bersih INCO pada tahun 2026 masih berpotensi meningkat seiring pelemahan rupiah, dengan syarat perusahaan mampu menjaga kinerja operasional tetap solid.
"Oleh karena itu, kami mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham," tutup Adrian.
Baca Juga: IHSG Uji Level Kritis Baru, Ini Rekomendasi Saham MBMA, INCO, BREN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














