kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Gara-gara hubungan AS dan China yang memanas, harga minyak mentah kompak melemah


Senin, 01 Juni 2020 / 21:07 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak melemah usai ketegangan antara AS dan China memuncak


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak terus anjlok di tengah kekhawatiran tentang ketegangan baru antara Amerika Serikat dan China. Padahal di saat yang sama OPEC dan Rusia sudah lebih dekat dengan kesepakatan tentang perpanjangan pemotongan produksi minyak.

Senin (1/6) pukul 20.45 WIB, harga minyak jenis Brent kontrak pengiriman Agustus 2020 di ICE Futures turun 46 sen, atau 1,2%, menjadi US$ 37,38 per barel. 

Setali tiga uang, harga minyak West Texas Intermediate (WI) kontrak pengiriman Juli 2020 di Nymex anjlok US$ 1,04, atau 2,9%, menjadi US$ 34,45 per barel.

Baca Juga: China dan AS kembali panas, harga minyak beragam, WTI turun 0,3% dan Brent naik 0,3%

Saat ini, investor cenderung berhati-hati setelah China memperingatkan pembalasan atas pergerakan AS di Hong Kong.

Dua sumber Reuters mengatakan, Beijing telah meminta sejumlah perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan daging babi asal Negeri Paman Sam. China bahkan akan memperluas penghentian pembelian atas produk pertanian AS jika Washington mengambil tindakan lebih lanjut, kata sumber.

"Kemungkinan meningkatnya ketegangan memang menimbulkan risiko bagi kenaikan harga minyak baru-baru ini," kata Harry Tchilinguirian, kepala penelitian komoditas di BNP Paribas.

Arahan Presiden AS Donald Trump untuk memulai proses penghapusan perlakuan khusus untuk Hong Kong kemungkinan akan menciptakan pendorong baru volatilitas di pasar global karena ketegangan antara Washington dan Beijing naik lagi.

Data manufaktur juga menunjukkan bahwa pabrik-pabrik Asia dan Eropa sedang berjuang karena berhenti akibat pandemi virus corona. 

Padahal, di saat yang sama, harga minyak mendapat sokongan tenaga setelah OPEC dan Rusia, bagian dari kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, berniat memperpanjang durasi pemangkasan produksi minyak untuk satu hingga dua bulan.

Baca Juga: Harga minyak turun tipis, stok minyak AS membesar karena impor

"Fakta bahwa harga minyak mentah ... tidak banyak bereaksi terhadap berita tentang kemungkinan perpanjangan pemangkasan dapat dilihat sebagai tanda bahwa pasar telah menghargai banyak optimisme," kata analis JBC Energy dalam sebuah catatan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC bergilir, telah mengusulkan agar OPEC+ mengadakan pertemuan pada 4 Juni. Tanggal tersebut lebih cepat dari rencana awal pada 9-10 Juni. Rusia pun mengatakan tidak keberatan untuk bertemu lebih awal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×