Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026), setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.
Pada perdagangan pukul 9:48 pagi waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 447,72 poin atau 0,86% ke 52.752,96. Indeks S&P 500 menguat 0,67% ke 7.533,51, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,56% ke 26.187,02.
Sentimen positif datang dari laporan non-farm payrolls yang menunjukkan ekonomi AS hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja baru pada Juni, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 110.000.
Baca Juga: Wall Street Menguat Tipis, Data Tenaga Kerja Redam Kekhawatiran Ekonomi AS
Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat 4,2%, sedikit lebih baik dari perkiraan pasar sebesar 4,3%.
Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai melambat sehingga mengurangi tekanan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan data LSEG, peluang kenaikan suku bunga setidaknya satu kali pada tahun ini turun menjadi 76%, dari sekitar 84% sebelum rilis data.
"Ini menunjukkan pasar tenaga kerja masih sehat, tetapi tidak cukup panas untuk memicu percepatan inflasi," ujar Kepala Makro Lombard Odier Investment Managers, Florian Ielpo.
Pandangan serupa disampaikan Analis Investasi eToro, Bret Kenwell. Menurutnya, data ketenagakerjaan terbaru dapat membuat bank sentral AS lebih mempertimbangkan kondisi pasar kerja dalam menentukan arah kebijakan moneternya, setelah sebelumnya lebih fokus mengendalikan inflasi.
Sebelumnya, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan risiko inflasi mulai mereda, namun bank sentral tetap berkomitmen menjaga inflasi di target 2%.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Naik Tipis, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati risiko geopolitik, terutama ketidakpastian di Selat Hormuz setelah pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran belum menghasilkan kemajuan berarti.
Ketegangan di kawasan tersebut dinilai masih berpotensi mendorong kembali tekanan harga energi dan inflasi.
Di sisi lain, investor juga terus mengevaluasi prospek reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Indeks Semikonduktor Philadelphia bergerak datar, sementara 10 dari 11 sektor utama di S&P 500 mencatat penguatan, dipimpin sektor material dan barang konsumsi pokok.
Sementara itu, saham Bending Spoons turun 3,9% sehari setelah melonjak sekitar 40% pada debut perdagangannya di Nasdaq. Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat jauh lebih banyak dibandingkan yang melemah, mencerminkan sentimen pasar yang masih positif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














