Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Di sisi lain, masih terdapat beberapa tantangan seperti tingginya belanja modal, kebutuhan pendanaan, potensi keterlambatan proyek, volatilitas harga komoditas global, serta permintaan dari China yang masih menjadi faktor penentu.
"Dengan demikian, dampak hilirisasi terhadap kinerja tahun ini cenderung lebih bersifat market sentimen, sementara manfaat finansial yang lebih besar kemungkinan baru akan terlihat secara bertahap seiring meningkatnya kapasitas produksi dan utilisasi fasilitas hilir," ujar Elandry.
Secara terpisah, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie menerangkan kinerja emiten tambang pada kuartal pertama cukup solid, di mana sederet emiten tersebut mencatatkan pertumbuhan top line yang positif.
Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi Hari Ini (17/7), Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas
Kendati demikian, CITA mengalami penurunan pada bottom line di tengah peningkatan pendapatan, yang utamanya disebabkan oleh turunnya kontribusi dari entitas asosiasi.
Sementara itu, prospek ANTM saat ini lebih didukung oleh harga jual rata-rata segmen emas dan nikel yang masih cenderung tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan marjin perusahaan.
Di sisi lain, proyek smelter ADMR masih berada dalam fase ramp-up sehingga belum mencerminkan kapasitas penuhnya, dengan target peningkatan kapasitas produksi yang diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton per tahun.
"Sejalan dengan hal tersebut, rampungnya proyek-proyek hilirisasi berpotensi mendorong kinerja pendapatan emiten, dengan asumsi seluruh operasional berjalan lancar dan sesuai target," terang Adrian.
Sentimen positif untuk sektor ini didorong oleh narasi kedaulatan mineral serta kuatnya dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan program hilirisasi.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara yang Gencar Masuk ke Sektor Energi Hijau
Sebaliknya, sentimen negatif yang perlu dicermati berpusat pada risiko kemunduran timeline penyelesaian proyek serta adanya peningkatan beban belanja modal.
Pilihan Saham
Dari sisi pilihan saham, Alrich melihat ANTM sebagai pilihan yang paling menarik karena memiliki bisnis yang lebih terdiversifikasi, eksposur terhadap nikel, emas, dan bauksit, serta menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan dari pengembangan ekosistem hilirisasi nasional.
ADMR juga memiliki prospek yang menarik dalam jangka menengah hingga panjang seiring pengembangan smelter aluminium dan potensi peningkatan nilai tambah dari bisnis mineralnya.
Adapun CITA juga berpotensi memperoleh manfaat dari proyek hilirisasi, namun investor perlu memperhatikan perkembangan realisasi proyek dan kontribusinya terhadap kinerja keuangan.
Research Analyst Henan Sekuritas, Tristan Elfan Zulvanian turut berpendapat, ANTM memiliki value chain chemical-grade dan smelter-grade alumina melalui PT PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) di Tayan dan PT BAI di Mempawah sebagai bagian dari agenda hilirisasi nasional.
Baca Juga: Cek Rekomendasi & Prospek Emiten yang Terlibat Dalam Proyek Waste to Energy Tahap II
Meski demikian, Tristan menuturkan bahwa pasar masih memandang ANTM sebagai emiten yang bergantung pada siklus harga komoditas, sementara potensi pertumbuhan dari bisnis hilir belum sepenuhnya tercermin.
Nah, seiring dengan proyek-proyek hilirisasi tersebut mulai beroperasi secara optimal, Tristan melihat adanya peluang bagi ANTM untuk memperoleh peningkatan valuasi ke depan.
Secara keseluruhan, Tristan mencermati ANTM sebagai pilihan utama di sektor hilirisasi karena memiliki portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi, mencakup nikel, bauksit, alumina, dan emas.
"Selain memperoleh manfaat dari pengembangan SGAR, ANTM juga memiliki eksposur terhadap proyek hilirisasi nikel yang dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang," ucap Tristan.
Rekomendasi Saham
Alrich merekomendasikan buy on support saham ANTM di target harga Rp 2.900 per saham dengan target harga di Rp 3.200 dan Rp 3.400, serta stoplos di bawah Rp 3.800 per saham.
Ia juga menyarankan buy on support saham ADMR di level entry Rp 1.460 per saham dengan target harga Rp 1.660. Stop loss untuk saham ADMR ialah di bawah Rp 1.400 per saham.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham TPIA, MBMA, BMRI untuk Kamis (16/7)
Secara strategi, Alrich lebih menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap (buy on weakness) pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan proyek hilirisasi yang progresnya berjalan sesuai target, karena manfaat terbesar dari hilirisasi diperkirakan akan semakin terlihat dalam beberapa tahun ke depan, bukan hanya dalam jangka pendek.
Adrian juga merekomendasikan buy ANTM dengan target harga Rp 4.100. Sementara itu, Elandry memberikan target harga ANTM, ADMR dan CITA masing masing Rp 4.000-Rp 4.500, Rp 2.500-Rp 2.700 dan Rp 3.500-Rp 3.700 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
