Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program hilirasi dianggap menjadi salah satu katalis utama bagi emiten pertambangan karena memberikan peluang peningkatan nilai tambah dibanding hanya menjual bahan mentah.
Salah satu emiten yang tengah gencar melakukan program hilirisasi ialah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Perusahaan saat ini terlibat dalam pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah bersama Inalum melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).
Proyek SGAR fase pertama sudah mulai beroperasi dan ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1 juta ton alumina pada 2026.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham dari BRI Sekuritas (20/7)
Pada Februari 2026 juga telah dilakukan groundbreaking SGAR fase kedua dengan nilai investasi sekitar Rp 14 triliun yang ditargetkan beroperasi pada 2028 dan meningkatkan kapasitas menjadi 2 juta ton per tahun.
Kemudian, di semester II ini juga ada beberapa emiten memulai smelter mereka. Di antaranya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) yang menggarap pembangunan proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan prospek emiten tambang yang terlibat dalam program hilirisasi masih cukup positif, karena hilirisasi memberikan peluang peningkatan nilai tambah produk, diversifikasi sumber pendapatan, serta margin usaha dibanding hanya menjual bahan mentah.
Bagi emiten seperti ANTM, ADMR, maupun CITA, keberhasilan proyek smelter akan memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok industri mineral nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas.
Baca Juga: IHSG Masih Bisa Menguat, Cek Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas (21/7)
"Saya melihat dampak hilirisasi terhadap kinerja pada sisa tahun ini mulai terasa, tetapi masih bersifat bertahap. Sentimen positif utamanya berasal dari mulai beroperasinya beberapa fasilitas pengolahan mineral, meningkatnya kapasitas produksi, serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri hilir," kata Alrich kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Namun, manfaat hilirisasi umumnya tidak dirasakan secara instan karena proyek smelter membutuhkan investasi besar dan waktu pembangunan yang relatif panjang sebelum berkontribusi penuh terhadap laba perusahaan.
Di sisi lain, investor juga perlu mencermati sejumlah tantangan seperti tingginya kebutuhan belanja modal, potensi keterlambatan penyelesaian proyek, fluktuasi harga komoditas global, serta risiko permintaan dari negara tujuan ekspor.
Oleh karena itu, keberhasilan eksekusi proyek menjadi faktor utama yang akan menentukan besarnya kontribusi hilirisasi terhadap kinerja emiten.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menambahkan, beroperasinya beberapa proyek strategis seperti SGAR dan progres pembangunan smelter aluminium membuat prospek jangka panjang emiten seperti ANTM, ADMR, dan CITA masih cukup menarik.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Cek 5 Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (21/7)
Cuma, kontribusi terhadap kinerja keuangan tidak akan langsung signifikan karena proyek smelter umumnya membutuhkan waktu hingga mencapai utilisasi optimal.
Dus, pasar akan lebih fokus pada progres penyelesaian proyek, efisiensi operasional, dan potensi peningkatan margin dalam beberapa tahun ke depan.
"Di sisa tahun ini, program hilirisasi berpotensi menjadi sentimen positif karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah industri tambang nasional serta membuka peluang pertumbuhan pendapatan jangka panjang," tambah Elandry.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
