Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten maskapai seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menjadi perhatian menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Kenaikan batas maksimal fuel surcharge (FS) menjadi 40% dari Tarif Batas Atas (TBA) dinilai dapat membantu menahan tekanan biaya avtur, meski belum sepenuhnya mengembalikan margin maskapai.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla mengatakan, kenaikan batas fuel surcharge dari 30% menjadi 40% lebih berfungsi sebagai mekanisme perlindungan arus kas maskapai di tengah tingginya harga bahan bakar.
Baca Juga: Puradelta (DMAS) Kantongi Marketing Sales Rp 1,15 Triliun, 75% dari Data Center
"Fuel surcharge 40% membantu menstabilkan margin operasional dalam jangka pendek, tetapi perbaikan laba bersih tetap bergantung pada efisiensi non-avtur, okupansi, dan stabilitas nilai tukar," kata Thoriq kepada Kontan, Jumat (4/8/2026).
Rata-rata harga avtur per 1 September 2026 tercatat sekitar Rp23.315 per liter atau meningkat 6,5% secara bulanan. Sementara itu, bahan bakar secara umum menyumbang sekitar 30% hingga 40% dari total biaya operasional maskapai, tergantung jenis armada, rute, dan tingkat utilisasi.
Dengan kenaikan batas maksimal fuel surcharge tersebut, maskapai memiliki tambahan ruang tarif hingga 10 poin persentase dari TBA. Namun, penerapan surcharge tidak serta-merta dilakukan pada batas maksimal karena maskapai tetap perlu memperhitungkan daya beli konsumen dan tingkat permintaan pada masing-masing rute.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai kebijakan tersebut tetap memberikan buffer bagi margin maskapai, meski belum mampu sepenuhnya mengompensasi kenaikan harga avtur.
"40% merupakan batas maksimal dan maskapai tetap harus mempertimbangkan kompetisi serta daya beli sebelum melakukan cost pass-through," ujar Elandry.
Menurut Elandry, kebijakan fuel surcharge tersebut juga berpotensi bersifat transisi seiring pemerintah melakukan revisi terhadap formula TBA.
Di sisi permintaan, kenaikan harga tiket diperkirakan belum memberikan tekanan signifikan terhadap volume penumpang selama periode Nataru. Thoriq menilai karakter permintaan penerbangan pada periode tersebut cenderung lebih inelastis karena didorong kebutuhan mobilitas keluarga, liburan sekolah, dan cuti bersama.
Selain itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah turut membantu menjaga kenaikan harga tiket akhir pada kisaran 9% hingga 13%. Dengan kombinasi tersebut, load factor maskapai pada Desember 2026 diperkirakan tetap berada di atas 80%, terutama pada rute-rute domestik dengan permintaan tinggi.
Meski demikian, tekanan terhadap permintaan berpotensi lebih terasa setelah periode Nataru berakhir. Memasuki Januari hingga Februari 2027, volume penumpang berpotensi kembali normal ketika faktor musiman menghilang dan maskapai harus menjaga utilisasi armada di tengah tekanan tarif.
Elandry menambahkan, kenaikan harga tiket tetap berpotensi mempengaruhi perilaku konsumen yang sensitif terhadap harga. Namun, dampaknya diperkirakan lebih besar pada rute non-prime dibandingkan rute utama dan destinasi wisata.
Dari sisi kinerja, Thoriq melihat prospek GIAA dan CMPP hingga akhir 2026 cukup berbeda. GIAA dinilai memiliki peluang turnaround yang lebih kredibel, sementara CMPP masih menghadapi tekanan profitabilitas.
GIAA ditopang pertumbuhan pendapatan kuartal I 2026 sebesar 5,36%, EBITDA yang telah positif, serta dukungan strategis Danantara melalui suntikan modal sekitar Rp6,6 triliun. Rencana konsolidasi dengan Pelita Air juga dinilai dapat menjadi katalis jangka menengah bagi maskapai pelat merah tersebut.
"Untuk GIAA, saya melihat adanya cerita turnaround yang lebih kredibel," jelas Thoriq.
Baca Juga: Perintis Triniti (TRIN) Tuntaskan Pengalihan 19,81 Juta Saham Buyback, Saham Naik 30%
Sementara itu, CMPP masih dibayangi kerugian. Pada semester I 2026, CMPP mencatat rugi bersih sekitar Rp1,45 triliun. Thoriq menilai kondisi tersebut membuat CMPP lebih rentan terhadap kenaikan harga avtur dan pelemahan rupiah.
Meski demikian, Elandry melihat terdapat perbaikan dari sisi operasional CMPP. Pada semester I 2026, kerugian operasional CMPP turun 6,9% meski biaya bahan bakar meningkat 26,1% menjadi Rp1,99 triliun. Load factor juga masih berada di sekitar 82%.
Momentum Nataru sendiri berpotensi menjadi katalis bagi pendapatan dan EBITDA maskapai melalui peningkatan load factor, passenger yield, serta pendapatan tambahan atau ancillary revenue.
Thoriq menilai terdapat katalis tambahan dari kebijakan Pertamina yang memberikan diskon harga avtur hingga 10% di 37 bandara selama periode angkutan Nataru. Jika dikombinasikan dengan ruang fuel surcharge hingga 40% dari TBA, kondisi tersebut dapat membantu maskapai memperbaiki margin operasional pada kuartal IV 2026.
Namun, peningkatan kinerja operasional belum tentu langsung mengangkat laba bersih. Beban bunga, selisih kurs, serta biaya non-operasional tetap menjadi faktor yang dapat menahan profitabilitas maskapai.
"Periode Nataru secara historis menghasilkan passenger yield dan load factor yang lebih tinggi karena permintaan berada pada puncak musiman," kata Thoriq.
Untuk pilihan saham, Thoriq lebih memilih GIAA dibandingkan CMPP. Ia menilai GIAA memiliki fundamental yang relatif lebih stabil, dukungan pemegang saham negara, serta katalis turnaround yang lebih jelas.
Thoriq memberikan rekomendasi Buy on Breakout untuk GIAA dengan target harga Rp76-Rp80 per saham dan batas stop loss di Rp67 per saham.
Sementara Elandry juga lebih mencermati GIAA karena memiliki sejumlah katalis korporasi, mulai dari restrukturisasi, pemulihan armada hingga potensi konsolidasi maskapai BUMN. Namun, ia menilai saham GIAA masih memiliki karakter spekulatif.
Elandry memberikan rekomendasi speculative buy untuk GIAA dengan target jangka menengah sekitar Rp82-Rp85 per saham. Adapun CMPP dinilai lebih tepat untuk strategi hold atau trading buy on weakness, dengan target sekitar Rp75-Rp78 per saham.
"Risiko utama keduanya tetap kenaikan avtur, pelemahan rupiah serta perubahan regulasi tarif," pungkas Elandry.
Baca Juga: Aktivitas Perdagangan BEI Sepekan Makin Ramai, Volume Transaksi Naik 35,9%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














