Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian investor karena berpotensi mengerek harga minyak dunia.
Ancaman terhadap kelancaran pasokan melalui Selat Hormuz serta proyeksi defisit pasokan minyak global menjadi sentimen yang dapat memengaruhi pergerakan saham emiten migas dan petrokimia di Indonesia.
Pasar minyak diperkirakan beralih mengalami kekurangan pasokan (undersupply) sekitar 0,6 juta barel per hari pada 2026. Kondisi tersebut berpotensi memberikan keuntungan berbeda bagi sejumlah emiten domestik, terutama PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menjelaskan, ketegangan Iran-AS yang mendorong munculnya premi geopolitik pada harga minyak memberikan dampak yang berbeda terhadap masing-masing emiten.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi katalis paling langsung bagi MEDC, positif tidak langsung bagi ELSA, relatif netral bagi PGAS, tetapi berdampak campuran (mixed) bagi TPIA.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan harga jual produk TPIA. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya bahan baku naphtha yang digunakan dalam produksi petrokimia.
Baca Juga: Saham CPO Diprediksi Lanjut Menguat, Simak Rekomendasinya
Secara fundamental, prospek masing-masing emiten juga ditopang oleh faktor yang berbeda.
MEDC menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan dari kenaikan harga minyak karena memiliki eksposur langsung terhadap harga komoditas tersebut. Pertumbuhan produksi, kontribusi Blok Corridor dan Forel–Terubuk, serta bisnis ketenagalistrikan turut menopang kinerja perseroan.
Sementara itu, ELSA berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan aktivitas pengeboran dan belanja hulu Pertamina. Semakin tinggi aktivitas eksplorasi dan produksi (E&P), semakin besar pula peluang perusahaan jasa migas tersebut mendapatkan tambahan pekerjaan.
Untuk PGAS, pertumbuhan volume distribusi, kepastian pasokan, serta kebijakan harga gas menjadi faktor utama yang menentukan kinerja.
Adapun TPIA lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat utilisasi pabrik, pergerakan spread petrokimia, kontribusi aset infrastruktur, dan harga bahan baku.
Prospek Saham MEDC dan ELSA
Dari sisi prospek, MEDC dinilai memiliki peluang mencatatkan pertumbuhan kinerja paling kuat karena memperoleh kombinasi manfaat dari peningkatan produksi dan kenaikan harga minyak.
Kinerja ELSA juga berpotensi tumbuh, meskipun dengan laju yang lebih moderat. Pasalnya, manfaat kenaikan harga minyak terhadap perusahaan jasa migas biasanya baru terasa ketika produsen meningkatkan aktivitas eksplorasi dan pengeboran.
Di sisi lain, kinerja PGAS cenderung lebih stabil karena ditopang bisnis distribusi gas. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko pasokan dan margin distribusi gas.
Sementara itu, pemulihan kinerja TPIA masih bergantung pada perbaikan margin petrokimia dan peningkatan utilisasi pabrik. Kondisi tersebut membuat volatilitas laba TPIA relatif lebih tinggi dibandingkan emiten berbasis jasa dan infrastruktur energi.
Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai sektor migas hingga akhir 2026 masih cenderung positif seiring dengan penguatan aktivitas hulu (upstream) serta keberadaan backlog kontrak yang kuat pada sektor jasa migas.
Sukarno memproyeksikan MEDC dan ELSA menjadi instrumen yang paling menarik ketika pasar minyak mengalami undersupply.
MEDC memiliki daya ungkit (leverage) terbesar terhadap kenaikan harga minyak. Sementara itu, ELSA dapat memperoleh manfaat langsung dari peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengeboran yang biasanya mengikuti penguatan harga minyak.
Produksi MEDC Jadi Penopang Laba
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan mengunggulkan MEDC berkat penguatan momentum bisnis hulu dan kejelasan proyek yang dimiliki perseroan.
Baca Juga: IHSG Masih Berpeluang Menguat pada Senin (7/9), Ini Saham Rekomendasi Analis
Hasan memproyeksikan produksi migas MEDC mencapai 145 mboepd. Peningkatan produksi tersebut dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan laba ketika harga minyak berada pada level tinggi.
Pertumbuhan volume operasional juga dinilai memperkuat prospek pertumbuhan jangka panjang MEDC sebagai emiten yang memiliki eksposur besar terhadap bisnis hulu migas.
Di sektor jasa pendukung hulu, Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana menggarisbawahi ELSA sebagai pilihan utama (top pick) untuk menangkap siklus belanja modal eksplorasi dan produksi (E&P).
Ketahanan kinerja ELSA tercermin dari backlog kontrak jasa migas yang kuat senilai Rp1,3 triliun. Abdusshomad memproyeksikan pertumbuhan laba bersih ELSA dapat mencapai 12% YoY seiring bergulirnya proyek-proyek pengeboran baru.
PGAS Relatif Defensif
Sementara itu, PGAS memiliki posisi yang relatif defensif dalam menghadapi volatilitas harga energi karena ditopang oleh solidnya volume operasional.
Analis UBS Global Research Timothy Handerson mencatat bahwa bisnis distribusi gas PGAS tetap solid dengan volume distribusi mencapai 880 BBTUD.
Margin penyaluran yang stabil di kisaran US$1,8–US$2,0 per MMBTU turut menjaga arus kas perusahaan tetap berdaya tahan.
Dengan karakter bisnis tersebut, PGAS memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap fluktuasi harga minyak dibandingkan emiten hulu seperti MEDC.
Prospek TPIA di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Di lini petrokimia dan diversifikasi energi, Analis Henan Putihrai Sekuritas Dennis Tay menyoroti potensi transformasi TPIA menjadi platform energi dan kimia terintegrasi.
Meskipun dibayangi kenaikan biaya naphtha, TPIA terdorong oleh pulihnya spread petrokimia ke kisaran US$350–US$400 per ton.
Langkah diversifikasi TPIA juga mendapat dukungan dari tambahan kontribusi EBITDA senilai US$120 juta yang berasal dari aset infrastruktur air dan energi.
Dengan demikian, kenaikan harga minyak tidak serta-merta menjadi katalis positif bagi TPIA. Pergerakan harga minyak harus dilihat bersamaan dengan arah harga naphtha dan spread petrokimia yang menentukan profitabilitas bisnis utama perseroan.
Risiko Jika Harga Minyak Kembali Normal
Meski peluang penguatan saham migas terbuka, investor tetap perlu mencermati risiko penurunan (downside risk) apabila ketegangan geopolitik mereda dan pasokan minyak kembali normal.
Baca Juga: Menanti Data Tenaga Kerja AS, Cek Proyeksi Rupiah pada Senin (7/9)
"Jika konflik mereda dan harga minyak kembali normal, laba MEDC paling sensitif untuk mengalami penurunan, disusul oleh PGAS," ujar Harry Su kepada Kontan, Jumat (4/9).
Laba ELSA juga terancam oleh dampak tidak langsung jika aktivitas migas menurun seiring merosotnya harga minyak.
Untuk TPIA, deeskalasi tidak sepenuhnya negatif karena penurunan harga naphtha dapat mengurangi biaya bahan baku.
Sukarno Alatas menambahkan bahwa normalisasi pasokan berpotensi menghilangkan geopolitical premium dan menekan harga minyak Brent kembali ke kisaran US$70–US$80 per barel.
Dalam skenario tersebut, MEDC menjadi emiten paling rentan karena labanya sangat sensitif terhadap harga minyak.
Sebaliknya, ELSA dan PGAS relatif lebih defensif karena berbasis jasa migas serta infrastruktur.
"Karena itu, kami melihat kenaikan harga minyak saat ini sebagai katalis positif, tetapi belum menjadi alasan untuk terlalu agresif mengejar saham migas," tutur Sukarno.
Atas pertimbangan risiko dan momentum pasar tersebut, Sukarno menyarankan trading buy untuk saham ELSA dan PGAS dengan masing-masing target harga Rp845 dan Rp1.615 per saham.
Sementara itu, Harry Su merekomendasikan buy untuk saham MEDC dan TPIA dengan masing-masing target harga Rp1.900 dan Rp3.000 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














