kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Emiten Tambang Ketiban Berkah Program Hilirisasi, Cek Rekomendasi Sahamnya


Rabu, 22 Juli 2026 / 19:01 WIB
Emiten Tambang Ketiban Berkah Program Hilirisasi, Cek Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Pengolahan Bauksit PT. Aneka Tambang Tbk (KONTAN/Baihaki). Program hilirasi dianggap menjadi salah satu katalis utama bagi emiten pertambangan karena memberikan peluang peningkatan nilai tambah.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program hilirasi dianggap menjadi salah satu katalis utama bagi emiten pertambangan karena memberikan peluang peningkatan nilai tambah dibanding hanya menjual bahan mentah.

Salah satu emiten yang tengah gencar melakukan program hilirisasi ialah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Perusahaan saat ini terlibat dalam pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah bersama Inalum melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). 

Proyek SGAR fase pertama sudah mulai beroperasi dan ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1 juta ton alumina pada 2026.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham dari BRI Sekuritas (20/7)

Pada Februari 2026 juga telah dilakukan groundbreaking SGAR fase kedua dengan nilai investasi sekitar Rp 14 triliun yang ditargetkan beroperasi pada 2028 dan meningkatkan kapasitas menjadi 2 juta ton per tahun. 

Kemudian, di semester II ini juga ada beberapa emiten memulai smelter mereka. Di antaranya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) yang menggarap pembangunan proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan prospek emiten tambang yang terlibat dalam program hilirisasi masih cukup positif, karena hilirisasi memberikan peluang peningkatan nilai tambah produk, diversifikasi sumber pendapatan, serta margin usaha dibanding hanya menjual bahan mentah. 

Bagi emiten seperti ANTM, ADMR, maupun CITA, keberhasilan proyek smelter akan memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok industri mineral nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas.

Baca Juga: IHSG Masih Bisa Menguat, Cek Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas (21/7)

"Saya melihat dampak hilirisasi terhadap kinerja pada sisa tahun ini mulai terasa, tetapi masih bersifat bertahap. Sentimen positif utamanya berasal dari mulai beroperasinya beberapa fasilitas pengolahan mineral, meningkatnya kapasitas produksi, serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri hilir," kata Alrich kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Namun, manfaat hilirisasi umumnya tidak dirasakan secara instan karena proyek smelter membutuhkan investasi besar dan waktu pembangunan yang relatif panjang sebelum berkontribusi penuh terhadap laba perusahaan.

Di sisi lain, investor juga perlu mencermati sejumlah tantangan seperti tingginya kebutuhan belanja modal, potensi keterlambatan penyelesaian proyek, fluktuasi harga komoditas global, serta risiko permintaan dari negara tujuan ekspor.

Oleh karena itu, keberhasilan eksekusi proyek menjadi faktor utama yang akan menentukan besarnya kontribusi hilirisasi terhadap kinerja emiten.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menambahkan, beroperasinya beberapa proyek strategis seperti SGAR dan progres pembangunan smelter aluminium membuat prospek jangka panjang emiten seperti ANTM, ADMR, dan CITA masih cukup menarik. 

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Cek 5 Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (21/7)

Cuma, kontribusi terhadap kinerja keuangan tidak akan langsung signifikan karena proyek smelter umumnya membutuhkan waktu hingga mencapai utilisasi optimal.

Dus, pasar akan lebih fokus pada progres penyelesaian proyek, efisiensi operasional, dan potensi peningkatan margin dalam beberapa tahun ke depan.

"Di sisa tahun ini, program hilirisasi berpotensi menjadi sentimen positif karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah industri tambang nasional serta membuka peluang pertumbuhan pendapatan jangka panjang," tambah Elandry.

Di sisi lain, masih terdapat beberapa tantangan seperti tingginya belanja modal, kebutuhan pendanaan, potensi keterlambatan proyek, volatilitas harga komoditas global, serta permintaan dari China yang masih menjadi faktor penentu. 

"Dengan demikian, dampak hilirisasi terhadap kinerja tahun ini cenderung lebih bersifat market sentimen, sementara manfaat finansial yang lebih besar kemungkinan baru akan terlihat secara bertahap seiring meningkatnya kapasitas produksi dan utilisasi fasilitas hilir," ujar Elandry.

Secara terpisah, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie menerangkan kinerja emiten tambang pada kuartal pertama cukup solid, di mana sederet emiten tersebut mencatatkan pertumbuhan top line yang positif.

Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi Hari Ini (17/7), Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas

Kendati demikian, CITA mengalami penurunan pada bottom line di tengah peningkatan pendapatan, yang utamanya disebabkan oleh turunnya kontribusi dari entitas asosiasi. 

Sementara itu, prospek ANTM saat ini lebih didukung oleh harga jual rata-rata segmen emas dan nikel yang masih cenderung tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan marjin perusahaan.

Di sisi lain, proyek smelter ADMR masih berada dalam fase ramp-up sehingga belum mencerminkan kapasitas penuhnya, dengan target peningkatan kapasitas produksi yang diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton per tahun.

"Sejalan dengan hal tersebut, rampungnya proyek-proyek hilirisasi berpotensi mendorong kinerja pendapatan emiten, dengan asumsi seluruh operasional berjalan lancar dan sesuai target," terang Adrian.

Sentimen positif untuk sektor ini didorong oleh narasi kedaulatan mineral serta kuatnya dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan program hilirisasi.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara yang Gencar Masuk ke Sektor Energi Hijau

Sebaliknya, sentimen negatif yang perlu dicermati berpusat pada risiko kemunduran timeline penyelesaian proyek serta adanya peningkatan beban belanja modal.

Pilihan Saham

Dari sisi pilihan saham, Alrich melihat ANTM sebagai pilihan yang paling menarik karena memiliki bisnis yang lebih terdiversifikasi, eksposur terhadap nikel, emas, dan bauksit, serta menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan dari pengembangan ekosistem hilirisasi nasional.

ADMR juga memiliki prospek yang menarik dalam jangka menengah hingga panjang seiring pengembangan smelter aluminium dan potensi peningkatan nilai tambah dari bisnis mineralnya.

Adapun CITA juga berpotensi memperoleh manfaat dari proyek hilirisasi, namun investor perlu memperhatikan perkembangan realisasi proyek dan kontribusinya terhadap kinerja keuangan.

Research Analyst Henan Sekuritas, Tristan Elfan Zulvanian turut berpendapat, ANTM memiliki value chain chemical-grade dan smelter-grade alumina melalui PT PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) di Tayan dan PT BAI di Mempawah sebagai bagian dari agenda hilirisasi nasional. 

Baca Juga: Cek Rekomendasi & Prospek Emiten yang Terlibat Dalam Proyek Waste to Energy Tahap II

Meski demikian, Tristan menuturkan bahwa pasar masih memandang ANTM sebagai emiten yang bergantung pada siklus harga komoditas, sementara potensi pertumbuhan dari bisnis hilir belum sepenuhnya tercermin. 

Nah, seiring dengan proyek-proyek hilirisasi tersebut mulai beroperasi secara optimal, Tristan melihat adanya peluang bagi ANTM untuk memperoleh peningkatan valuasi ke depan.

Secara keseluruhan, Tristan mencermati ANTM sebagai pilihan utama di sektor hilirisasi karena memiliki portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi, mencakup nikel, bauksit, alumina, dan emas.

"Selain memperoleh manfaat dari pengembangan SGAR, ANTM juga memiliki eksposur terhadap proyek hilirisasi nikel yang dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang," ucap Tristan.

Rekomendasi Saham

Alrich merekomendasikan buy on support saham ANTM di target harga Rp 2.900 per saham dengan target harga di Rp 3.200 dan Rp 3.400, serta stoplos di bawah Rp 3.800 per saham.

Ia juga menyarankan buy on support saham ADMR di level entry Rp 1.460 per saham dengan target harga Rp 1.660. Stop loss untuk saham ADMR ialah di bawah Rp 1.400 per saham.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham TPIA, MBMA, BMRI untuk Kamis (16/7)

Secara strategi, Alrich lebih menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap (buy on weakness) pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan proyek hilirisasi yang progresnya berjalan sesuai target, karena manfaat terbesar dari hilirisasi diperkirakan akan semakin terlihat dalam beberapa tahun ke depan, bukan hanya dalam jangka pendek.

Adrian juga merekomendasikan buy ANTM dengan target harga Rp 4.100. Sementara itu, Elandry memberikan target harga ANTM, ADMR dan CITA masing masing Rp 4.000-Rp 4.500, Rp 2.500-Rp 2.700 dan Rp 3.500-Rp 3.700 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×