Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham emiten di sektor energi, minyak, gas, dan petrokimia diperkirakan masih cukup menarik hingga akhir 2026.
Kinerjanya ditopang oleh tren belanja modal eksplorasi dan produksi (E&P) yang solid, peningkatan volume produksi, serta strategi transformasi bisnis emiten.
Meski demikian, dinamika ketegangan geopolitik global, fluktuasi harga komoditas utama, hingga kebijakan pembatasan harga gas masih menjadi tantangan yang perlu dicermati.
Baca Juga: Harga Minyak Terancam Naik, Ini Prospek Saham MEDC, ELSA, PGAS dan TPIA
Berikut rekomendasi saham sektor energi dan migas dari sejumlah analis untuk perdagangan Senin (7/9):
1. PT Elnusa Tbk (ELSA)
Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana merekomendasikan buy untuk saham ELSA dengan target harga Rp 1.000 per saham.
ELSA dinilai menjadi proxy utama untuk menangkap siklus kenaikan belanja modal E&P (eksplorasi dan produksi) migas. Hal ini ditopang oleh kerangka kebijakan hulu yang makin kondusif serta rencana investasi Pertamina Hulu Energi (PHE) senilai US$ 33,1 miliar hingga 2029. Laba segmen jasa hulu ELSA diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 18% hingga 2028 dan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan laba bersih konsolidasi. Valuasi saham ELSA saat ini dinilai masih murah (undemanding), yakni di level 6,0x P/E 2026E, ditambah dengan potensi opsi re-rating dari rencana konsolidasi atau merger dengan Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI).
2. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan merekomendasikan buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp 2.500 per saham.
Kinerja MEDC didorong oleh momentum produksi hulu yang kuat serta visibilitas proyek jangka menengah yang solid. Produksi migas 1H26 tercatat rata-rata 170 mboepd (+19% YoY), didukung oleh pengembangan proyek di Blok Corridor, Senoro Phase 2A yang beroperasi penuh, dan pembukaan hambatan (debottlenecking) di Oman Blok 60. Selain itu, lonjakan harga minyak realisasi serta kontribusi dari entitas asosiasi Amman Mineral Internasional (AMMN) diperkirakan memicu lompatan signifikan pada kinerja keuangan. Risiko utama yang perlu diwaspadai meliputi gangguan operasional serta penurunan harga komoditas minyak dan tembaga.
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
Analis Henan Putihrai Sekuritas Dennis Tay merekomendasikan buy saham TPIA dengan target harga Rp 3.050 per saham.
TPIA dinilai mengalami transformasi fundamental menjadi platform energi dan bahan kimia terintegrasi pascaakuisisi kilang Aster di Pulau Bukom dan jaringan ritel Esso di Singapura. Integrasi crude-to-polymer memberikan perlindungan (hedge) alami terhadap volatilitas harga bahan baku, sementara pasar domestik yang masih mengalami defisit pasokan bahan petrokimia memberikan ruang pertumbuhan volume jangka panjang. Eksekusi proyek pabrik CA-EDC di Cilegon yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2027 juga bakal membuka diversifikasi pendapatan baru di rantai pasok nikel dan baterai EV. Adapun risiko utama datang dari kecepatan normalisasi marjin kilang (GRM) serta penurunan spread harga petrokimia global.
4. PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS)
Analis UBS Global Research Timothy Handerson merekomendasikan buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.960 per saham.
PGAS diuntungkan oleh posisinya sebagai pengelola lebih dari 96% jaringan pipa gas hilir di Indonesia dan pengoperasian berbagai fasilitas regasifikasi utama. Kinerja PGAS tetap ditopang oleh arus kas yang stabil dari bisnis distribusi gas serta potensi imbal hasil dividen (dividend yield) yang sangat atraktif, diperkirakan mencapai kisaran 11%—12%. Risiko yang perlu dicermati meliputi perubahan regulasi yang merugikan serta melemahnya permintaan industri domestik.
Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) dan PT PP (PTPP) Tunggu Arahan untuk Merger BUMN Karya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














