Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Risiko aset Indonesia mulai meningkat di tengah tekanan geopolitik, pelebaran defisit transaksi berjalan, serta volatilitas rupiah.
Perlu diketahui, saat ini Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 10 tahun berada di level 137,31 basis points (bps) pada Minggu (6/9/2026), lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang di kisaran 120 bps.
Terkait hal itu, Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede mengatakan, persepsi risiko Indonesia pada fase akhir kuartal III 2026 sebagai meningkat moderat, bukan memburuk menuju kondisi krisis. Katanya, tekanan saat ini lebih banyak mencerminkan penilaian ulang risiko karena kombinasi faktor global dan domestik.
"Dari sisi global, ketegangan Timur Tengah diperkirakan mempertahankan volatilitas pasar, meningkatkan permintaan terhadap aset aman, menambah tekanan inflasi, dan membuat bank sentral negara maju lebih berhati-hati menurunkan suku bunga," ujar Josua kepada Kontan, Sabtu (5/9/2026).
Di sisi domestik, faktor yang paling menentukan CDS saat ini yakni kombinasi defisit transaksi berjalan, rupiah, cadangan devisa, kondisi fiskal, serta kredibilitas kebijakan.
Defisit transaksi berjalan telah melebar menjadi 3,34% PDB pada triwulan II dan diperkirakan Josua masih sekitar 3,03% pada triwulan III, dengan defisit setahun sekitar 2,49% PDB. Cadangan devisa diperkirakan berada sekitar US$ 144,1 miliar pada triwulan III.
Baca Juga: CDS Indonesia Melebar, Ekonom: Investor Minta Premi Risiko Lebih Tinggi
Namun terdapat penyangga yang membuat level CDS saat ini belum perlu dibaca sebagai kepanikan terhadap Indonesia. Kepemilikan investor bukan penduduk pada SBN meningkat dari sekitar Rp 886 triliun pada akhir Juni menjadi Rp 909 triliun pada 2 September.
Sepanjang 2026, arus ke SBN masih sekitar US$ 1,66 miliar. Dan total arus asing ke SBN, saham, dan SRBU masih positif sekitar US$ 7,08 miliar, walaupun komposisinya sangat bergantung pada SRBI sekitar US$ 9,35 miliar dan saham masih mencatat arus keluar.
Lebih lanjut guna menjaga persepsi risiko Indonesia di tengah berbagai tekanan tersebut, Josua bilang prioritas utama pemerintah adalah mempertahankan kredibilitas fiskal pada 2026-2027.
Target defisit anggaran 2027 sebesar 2,4% dari produk domestik bruto (PDB) dinilai perlu disertai rencana cadangan apabila penerimaan negara lebih rendah atau harga minyak lebih tinggi dari asumsi.
"Pemerintah sebaiknya sejak awal menentukan belanja mana yang dapat ditunda apabila terjadi tekanan, dengan melindungi belanja produktif, perlindungan sosial, kesehatan dan pendidikan," ujar Josua.
Menurut Josua, pemerintah juga perlu memperkuat penerimaan melalui administrasi dan kepatuhan perpajakan. Di sisi lain, ketergantungan terhadap penerimaan komoditas serta penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) perlu dikurangi.
Josua melihat ruang SAL semakin terbatas. Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan defisit fiskal 2027 masih berada di kisaran 2,70%-2,90% PDB.
Selain fiskal, pengelolaan utang juga perlu dilakukan secara lebih aktif. Pemerintah dinilai perlu melakukan penerbitan SBN lebih awal ketika kondisi pasar kondusif, memperpanjang rata-rata jatuh tempo, serta melakukan pertukaran dan pembelian kembali SBN ketika menguntungkan.
Baca Juga: Rupiah Masih Sulit Bangkit, Kenaikan CDS dan Outflow Asing Jadi Sorotan
Pemerintah juga perlu melakukan diversifikasi investor dan mata uang penerbitan utang tanpa memperbesar risiko valuta asing secara berlebihan.
Apalagi, basis investor domestik sebenarnya menjadi kekuatan Indonesia. Pada akhir Juli, kepemilikan bukan penduduk hanya sekitar 12,9% dari SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, sehingga Indonesia tidak lagi sangat bergantung kepada investor asing seperti satu dekade lalu.
Josua juga menyebut pemerintah perlu memperkuat fundamental rupiah dari sisi pasokan devisa. Optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA), pengembangan SBN valas domestik, peningkatan investasi langsung asing, diversifikasi ekspor, serta pengurangan ketergantungan impor energi dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan arus portofolio.
Tak sampai situ saja, pemerintah juga perlu mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap minyak melalui peningkatan produksi domestik, pengembangan bahan bakar nabati, dan elektrifikasi transportasi.
Josua memberikan gambaran, semisal ke depan harga minyak Brent bertahan di kisaran US$95-US$105 per barel, Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga, dolar AS menguat, dan arus modal dari negara berkembang kembali keluar. Dalam skenario tersebut, CDS Indonesia tenor 10 tahun berpotensi melebar dari level 137,8 basis poin (bps) menuju kisaran 160-180 bps.
Baca Juga: Persepsi Risiko Investasi (CDS) Indonesia Meningkat, Cermati Efeknya untuk Investor
Apabila tekanan tersebut disertai penurunan prospek peringkat kredit, kekhawatiran defisit mendekati 3% PDB, atau gangguan terhadap kredibilitas kebijakan, maka CDS Indonesia bahkan dapat menguji level 180-200 bps atau lebih.
Untuk rupiah, Josua menggunakan skenario dasar sekitar Rp 18.180 per dolar AS pada akhir kuartal III. Sementara yield SBN tenor 10 tahun diperkirakan berada di sekitar 7,58%.
Dalam skenario tekanan berat, rupiah berpotensi melemah ke kisaran Rp 18.400-Rp 18.700 per dolar AS. Pada saat yang sama, yield SBN tenor 10 tahun dapat meningkat ke kisaran 7,7%-7,9%.
"Yang harus dicegah adalah empat tekanan muncul bersamaan yakni CDS naik, rupiah melemah, imbal hasil SBN meningkat dan cadangan devisa turun," pungkasnya.
Baca Juga: CDS Indonesia Meningkat, Begini Prospeknya pada Semester II 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














