Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) diproyeksikan masih tertekan terdampak permintaan yang lemah dan normalisasi persediaan produk.
Namun, manajemen SIDO berupaya meningkatkan kontribusi ekspor sambil meningkatkan efisiensi produksi dan mengoptimalkan pemasaran guna mendorong kinerja.
Analis Binaartha Sekuritas, Eka Rahmawati Rahman, mengatakan bahwa penjualan ekspor emiten produsen Tolak Angin ini terus menunjukkan tren kenaikan.
"Pasar ekspor menyumbang 14,0% dari total pendapatan pada kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan dengan 12,1% pada kuartal pertama tahun 2025," ujar Eka dalam riset 13 Juli 2026.
Baca Juga: Pola Konsumsi Semakin Selektif, Simak Rekomendasi Saham Sido Muncul (SIDO)
Analis INA Sekuritas Rifdah Fatin Hasanah dalam riset edisi 9 Juni 2026 juga mencatat tren serupa, di mana kontribusi bisnis internasional SIDO konsisten menanjak ke level 14% di kuartal I-2026.
Kinerja positif dari lini internasional ini menjadi angin segar ketika pasar domestik sedang terkontraksi.
Pada kuartal I-2026, total penjualan SIDO terkoreksi 18,8% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 640,5 miliar akibat penyesuaian inventaris distributor (sell-in reset) dan kendala logistik lebaran.
Saat saluran dalam negeri tertahan, penjualan ke luar negeri menjadi penopang pendapatan perusahaan.
Pertumbuhan porsi ekspor SIDO signifikan jika dibandingkan dengan periode historis tahunan.
Angka kontribusi ekspor sebesar 14,0% di kuartal I-2026 melompat jauh dari posisi tahun 2020 yang hanya 2,3% dan tahun 2021 yang sebesar 3,6%.
Eka menjelaskan bahwa Malaysia menjadi kontributor ekspor terbesar dengan menyumbang sekitar 4% dari total penjualan, disusul Nigeria dan Filipina masing-masing sekitar 1%–2%.
Baca Juga: Kinerja Sido Muncul (SIDO) Turun di Awal 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
Analis INA Sekuritas Rifdah Fatin Hasanah mengatakan manajemen SIDO menetapkan perluasan kehadiran internasional (international presence) di kawasan ASEAN dan Afrika sebagai salah satu dari tiga prioritas utama dalam strategi jangka panjang perusahaan.
Penjualan ekspor ini turut ditopang oleh kinerja positif varian produk herbal seperti Tolak Angin Care serta penerimaan awal lini Food & Beverage (F&B) baru seperti C+ Collagen.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menilai bahwa langkah penetrasi pasar global ini sudah berada di jalur yang tepat.
"Arahnya benar, produk herbal Indonesia punya cultural resonance di ASEAN dan Afrika yang defensible jangka panjang," ungkap Wafi kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Kendati demikian, Wafi memberikan catatan bahwa efek penyerapan dari pasar luar negeri belum bisa sepenuhnya menggantikan volume pasar dalam negeri secara instan.
"Ekspansi ekspor strategis tapi masih small base, 86% penjualan masih domestik, jadi efektivitasnya sebagai buffer perlambatan domestik masih terbatas secara magnitude," jelasnya.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Bakal Rombak Susunan Direksi, Ini Strategi Tingkatkan Kinerja 2026
Memasuki kuartal III-2026, Wafi memproyeksikan kinerja SIDO cenderung moderat-positif karena segmen herbal & wellness bersifat defensif sebagai kebutuhan kesehatan rutin.
Meski ada pendorong musiman dari kampanye kesehatan, tekanan daya beli masyarakat menengah serta tren pergerakan nilai tukar rupiah masih menjadi sentimen utama yang perlu dicermati.
Dari sisi profitabilitas, SIDO masih memiliki daya tahan marjin berkat efisiensi bahan baku lokal.
Riset Eka Rahmawati Rahman dari Binaartha Sekuritas dan Rifdah Fatin Hasanah dari INA Sekuritas menunjukkan Gross Profit Margin (GPM) segmen Herbal & Suplemen terjaga naik ke level 61,6%–62% pada kuartal I-2026 berkat penurunan harga jahe dan minyak nilam (patchouli oil), yang mampu meredam tekanan biaya kemasan plastik.
Rifdah menyebutkan bahwa proses normalisasi kanal distribusi diperkirakan rampung pada Mei 2026, yang berpotensi membuka peluang pemulihan bertahap meski target kinerja 2026 direvisi menjadi relatif mendatar (flat).
Saham SIDO saat ini diperdagangkan pada valuasi terdiskon dengan P/E forward sekitar 11x–12x.
Baca Juga: Ramadan Jadi Katalis, Kinerja Sido Muncul (SIDO) Diproyeksi Naik Kuartal I-2026”
Analis Binaartha Sekuritas Eka Rahmawati Rahman mempertahankan rekomendasi BUY dengan Target Price (TP) Rp460 per saham (potensi upside 22%).
Sementara itu, Analis INA Sekuritas Rifdah Fatin Hasanah juga mempertahankan rekomendasi BUY dengan Target Price (TP) Rp460 per saham (potensi upside 24%).
Di sisi lain, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo merekomendasikan HOLD dengan target harga Rp420.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
