Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengalami penurunan kinerja pada kuartal I – 2026. Pola daya beli hingga proses normalisasi stok di distributor diproyeksi menjadi katalis penentu kinerja SIDO ke depan.
SIDO membukukan pendapatan Rp 640,5 miliar pada kuartal I-2026, turun 19% secara year on year (yoy). Laba bersih SIDO juga turun 36,8% yoy menjadi Rp 147,21 miliar.
Steven Willie, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia mengatakan, penurunan pendapatan didorong oleh normalisasi persediaan saluran dan disiplin penjualan yang lebih ketat setelah peningkatan visibilitas distribusi.
Manajemen menekankan bahwa melemahnya penjualan tidak sepenuhnya mencerminkan erosi permintaan konsumen, karena normalisasi distribusi/saluran diproyeksikan akan selesai pada Mei 2026.
Baca Juga: Tiket Konser Westlife di GBK Ludes dalam 12 Jam, IRSX Validasi Bisnis Baru
Meski begitu, manajemen merevisi panduan tahun 2026 menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang datar yakni 0% YoY dibandingkan panduan sebelumnya yang memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 5% – 8% YoY.
“Manajemen juga telah mengesampingkan kenaikan harga jual rata – rata (ASP) secara luas pada tahun 2026, memperlakukan kenaikan harga sebagai upaya terakhir mengingat lingkungan konsumen yang semakin selektif,” ujar Steven dalam risetnya pada 13 Mei 2026.
Selain itu, Steven terus memantau situasi Hantavirus yang berkembang. Menurutnya, jika isu tersebut mendapat perhatian publik yang lebih luas, dapat berfungsi sebagai katalis positif tambahan untuk segmen Farmasi. Namun, ini tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan, bukan asumsi dasar. Steven juga menilai, penghapusan SIDO dari Indeks MSCI Small Cap sebagai peristiwa pasif yang didorong oleh indeks dan tidak berpengaruh pada fundamental bisnisnya.
Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan, penurunan laba bersih SIDO pada kuartal I-2026 memang cukup signifikan, tetapi belum tentu akan terulang dengan tekanan yang sama besar pada kuartal II-2026.
Penurunan ini lebih banyak dipengaruhi oleh penyesuaian stok di tingkat distributor, karena sebelumnya terjadi penumpukan inventory sekitar dua sampai tiga bulan, sehingga perusahaan sengaja membatasi distribusi untuk menormalkan stok.
“Jadi, tekanan di kuartal I – 2026 lebih bersifat penyesuaian sementara, bukan sepenuhnya karena permintaan akhir yang hilang,” kata Ekky kepada Kontan, Senin (25/5/2026).
Adapun, untuk kuartal II-2026, Ekky melihat ada peluang kinerja SIDO mulai membaik secara bertahap, terutama jika proses destocking di distributor sudah mulai selesai dan distribusi kembali lebih normal. Namun, pemulihannya kemungkinan belum langsung agresif, karena daya beli masyarakat masih menjadi tantangan dan kontribusi kuartal I yang lemah tetap akan menahan kinerja semester I secara keseluruhan.
“Jadi untuk semester I-2026, kinerja SIDO berpotensi membaik dibanding kuartal I, tetapi kemungkinan masih belum kembali ke level pertumbuhan yang kuat seperti periode normal sebelumnya,” ucap Ekky.
Ekky mengatakan, tantangan utama SIDO ke depan masih berasal dari normalisasi distribusi, daya beli masyarakat, serta tekanan biaya karena rupiah. Perusahaan memang memiliki brand yang kuat dan permintaan konsumen akhir disebut masih stabil, bahkan meningkat di beberapa wilayah, tetapi dari sisi laporan keuangan, penjualan ke distributor tetap tertahan selama proses penyesuaian stok. Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat menekan biaya kemasan plastik dan sebagian bahan baku, meskipun dampaknya relatif lebih terbatas karena mayoritas bahan baku SIDO berasal dari dalam negeri.
Permada Darmono, Analis UBS Sekuritas Indonesia mencatat bahwa SIDO telah menetapkan harga tetap untuk bahan kemasan utama dan input makanan & minuman utama hingga Desember 2026 dan memiliki persediaan kemasan sekitar dua bulan, sehingga menunda kenaikan biaya. Bahkan dalam skenario biaya yang lebih tinggi, manajemen melihat tekanan margin akan bertahap dan terkendali mulai kuartal kedua, tanpa guncangan margin mendadak yang diperkirakan.
“Elemen pengemasan (sekitar 20% dari Harga Pokok Penjualan) tetap menjadi risiko input utama dalam jangka pendek di tengah volatilitas minyak dan petrokimia,” ujar Permada dalam risetnya pada 8 Mei 2026.
Selain itu, Permada menilai risiko yang perlu diwaspadai SIDO ke depan antara lain inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan yang memengaruhi permintaan konsumen dan kemampuan untuk menaikkan harga. Risiko harga komoditas tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, hilangnya pangsa pasar domestik, dan gangguan pada platform distribusi. Serta ekspansi luar negeri lebih lambat dari perkiraan, misalnya karena masalah regulasi atau penerimaan konsumen yang buruk.
Ekky juga meminta investor perlu mencermati beberapa hal. Pertama, seberapa cepat proses normalisasi stok distributor selesai. Kedua, apakah permintaan konsumen akhir tetap kuat setelah momentum lebaran. Ketiga, kemampuan SIDO menjaga margin melalui efisiensi biaya distribusi, pemasaran, dan bahan baku. Keempat, perkembangan ekspor dan inovasi produk baru, karena ini bisa menjadi katalis tambahan untuk pertumbuhan ke depan. Selain itu, posisi market share produk utama seperti Tolak Angin yang masih kuat tetap menjadi faktor positif bagi SIDO.
Steven memproyeksikan pendapatan dan laba bersih SIDO tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 4,19 triliun dan Rp 1,25 triliun. Adapun pada tahun 2025, SIDO mengantongi pendapatan Rp 4,07 triliun dan laba bersih sebesar Rp 1,23 triliun.
Steven merekomendasikan overweight saham SIDO dengan target harga Rp 510 per saham. Permada merekomendasikan netral saham SIDO dengan target harga Rp 520 per saham. Sementara Ekky merekomenasikan buy on weakness di area 380 – 390 dengan target harga jual di Rp 420 per saham.
Secara fundamental, SIDO masih tergolong emiten consumer health yang defensif, memiliki neraca solid, brand kuat, dan margin yang relatif baik. Namun, secara kinerja jangka pendek, pasar masih akan menunggu bukti bahwa pemulihan penjualan benar-benar terjadi setelah proses destocking selesai.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,06% ke Rp 17.723 per Dolar AS pada Senin (25/5) Siang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













