kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Kinerja Sido Muncul (SIDO) Turun di Awal 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya


Senin, 18 Mei 2026 / 20:00 WIB
Kinerja Sido Muncul (SIDO) Turun di Awal 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tertekan pada awal 2026. (Dok/SIDO)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tertekan pada awal tahun 2026. Emiten jamu ini mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 19% menjadi Rp 640,5 miliar pada kuartal I-2026, dengan laba bersih turun menjadi Rp 147,21 miliar.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai penurunan tersebut lebih bersifat sementara ketimbang mencerminkan pelemahan fundamental jangka panjang.

“Penurunan memang signifikan, tapi saya melihatnya lebih sebagai temporary disruption daripada structural deterioration. Realisasi pendapatan juga jauh di bawah pola musiman kuartal I biasanya,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: SMBR Tebar Dividen 20% dari Laba 2025, Sisanya Diperkuat untuk Ekspansi

Ia menjelaskan, penurunan secara kuartalan lebih dipengaruhi oleh penyesuaian persediaan di tingkat distributor dibandingkan melemahnya permintaan secara riil. Kondisi ini turut menekan margin akibat operating deleverage saat pendapatan tertahan.

Wafi menambahkan, faktor utama tekanan kinerja berasal dari langkah perusahaan melakukan rebalancing inventori di tingkat distributor. SIDO menemukan adanya penumpukan stok hingga 2-3 bulan akibat over-stocking sebelumnya, sehingga distribusi sengaja ditahan untuk normalisasi.

“Selain itu, pelemahan daya beli, tidak adanya kenaikan harga jual rata-rata, serta kenaikan biaya transportasi dan kemasan plastik akibat depresiasi rupiah juga menekan kinerja,” jelasnya.

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai penurunan kinerja SIDO masih tergolong wajar di tengah normalisasi permintaan pasca pandemi.

Baca Juga: Harga Minyak Menguat di Tengah Konflik AS-Iran, Tapi Reli Mulai Tertahan

“Penurunan pendapatan turut berdampak pada laba bersih, meskipun secara fundamental perseroan masih memiliki neraca yang solid dan margin yang relatif baik dibandingkan peers di sektor consumer healthcare,” ujarnya.

Menurut Azis, pelemahan daya beli masih menjadi tantangan utama. Bahkan, momentum hari besar keagamaan pada kuartal pertama belum mampu mendorong pemulihan penjualan secara signifikan.

Untuk kuartal II-2026, Wafi melihat adanya potensi pemulihan kinerja seiring normalisasi persediaan di kanal distribusi.

“Kuartal II berpotensi recovery signifikan setelah proses destocking selesai dan inventory kembali normal. Namun, normalisasi penuh ke level 2025 kemungkinan belum terjadi di kuartal ini,” ungkapnya.

Ia memperkirakan pendapatan SIDO sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar Rp4 triliun, dengan pemulihan bertahap pada paruh kedua tahun. Faktor musiman seperti musim hujan di semester II juga dinilai dapat menjadi katalis positif bagi penjualan produk herbal dan suplemen.

Baca Juga: Sumber Mas Konstruksi (SMKM) Siap Transformasi Bisnis ke Sektor Akuakultur

Dari sisi strategi, efisiensi operasional dinilai menjadi langkah defensif utama untuk menjaga profitabilitas, meskipun dampaknya terbatas.

“Efisiensi memang penting, tapi margin hanya bisa stabil jika diikuti penyesuaian harga atau pemulihan volume. Optimalisasi biaya hanya menahan penurunan, bukan mengembalikan margin ke level sebelumnya,” kata Wafi.

Ia memperkirakan margin bersih SIDO pada 2026 berada di kisaran 27%–28%, dengan dukungan dari inovasi produk dan ekspansi ekspor dalam jangka menengah.

Sementara itu, Azis juga menilai pengendalian biaya distribusi, pemasaran, dan bahan baku menjadi kunci dalam menjaga margin di tengah pertumbuhan yang belum pulih sepenuhnya.

Untuk rekomendasi, Wafi memberikan rating beli (buy) dengan target harga Rp600 per saham. Adapun Azis merekomendasikan wait and see, mengingat pergerakan saham SIDO masih berada dalam tren penurunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×