kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

CDS Indonesia Terus Menanjak, Sentimen MSCI Tekan Persepsi Risiko Investor


Rabu, 21 Oktober 2026 / 15:48 WIB
CDS Indonesia Terus Menanjak, Sentimen MSCI Tekan Persepsi Risiko Investor
ILUSTRASI. CDS Indonesia terus naik di tengah tekanan pasar keuangan setelah MSCI mengumumkan konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.(Shutterstock/NULL)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Credit default swap (CDS) Indonesia terus meningkat di tengah tekanan pasar keuangan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

Melansir data Bloomberg pada Rabu (21/10/2026), CDS Indonesia tenor 5 tahun berada di level 99,73 basis poin (bps), naik dari 92,40 bps pada Rabu (14/10/2026). Sementara itu, CDS tenor 10 tahun meningkat menjadi 150,14 bps dari 141,74 bps dalam periode yang sama.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kenaikan CDS terutama dipengaruhi pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 terkait konsultasi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Baca Juga: Siloam (SILO) Akuisisi Tiga Perusahaan Rp 828,67 Miliar, Simak Rekomendasi Sahamnya

“MSCI memang berbicara tentang pasar saham, bukan kemampuan pemerintah membayar utang. Namun, dampaknya merambat ke CDS melalui arus keluar modal asing, tekanan terhadap rupiah, dan kekhawatiran atas pembiayaan eksternal,” ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Tekanan terhadap CDS Indonesia sebenarnya sudah meningkat sebelum pengumuman MSCI. Pada akhir 2025, CDS Indonesia berada di level 68,86 bps dan naik menjadi 91,07 bps pada akhir September 2026. Tekanan tersebut juga dipengaruhi imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang masih tinggi dan harga minyak yang berpotensi menekan neraca migas Indonesia.

Kenaikan CDS tenor 10 tahun yang lebih besar dibandingkan tenor 5 tahun juga menunjukkan bahwa kekhawatiran investor tidak hanya tertuju pada risiko jangka pendek. Menurut Yusuf, kondisi tersebut mencerminkan perhatian terhadap kredibilitas kelembagaan dan arah kebijakan Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang, sejalan dengan sorotan MSCI terhadap tata kelola dan aksesibilitas pasar.

Kendati demikian, kenaikan CDS tidak serta-merta menunjukkan lonjakan risiko gagal bayar pemerintah. Instrumen ini juga digunakan investor untuk melindungi portofolio dari gejolak pasar. Maka dari itu, kenaikan CDS turut mencerminkan meningkatnya kebutuhan investor terhadap perlindungan risiko di tengah volatilitas pasar keuangan.

Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,17% ke RP 18.022 per Dolar AS pada Rabu (21/10)

Terkait keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, Yusuf memperkirakan dampaknya terhadap CDS cenderung netral dengan kecenderungan sedikit negatif, terutama apabila rupiah kembali melemah. Kebijakan suku bunga dan intervensi valuta asing dapat meredam tekanan dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk mengatasi persoalan tata kelola pasar modal.

Yusuf bilang, tekanan terhadap CDS membutuhkan respons yang lebih luas melalui reformasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan pemerintah. Perbaikan aksesibilitas investasi serta tata kelola pasar diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor, terutama menjelang keputusan MSCI pada 2027.

“Isu mengenai aksesibilitas investasi, kepemilikan saham, dan tata kelola pasar hanya dapat dijawab melalui reformasi yang kredibel oleh OJK, BEI, dan pemerintah,” tuturnya

Hingga akhir 2026, Yusuf merevisi proyeksi CDS Indonesia ke level yang lebih tinggi. CDS tenor 5 tahun diperkirakan berada di kisaran 92 bps–105 bps, dari proyeksi sebelumnya 85 bps–95 bps. Sementara itu, CDS tenor 10 tahun diproyeksikan mencapai 140 bps–160 bps, naik dari perkiraan sebelumnya 130 bps–145 bps.

Baca Juga: Data Center Jadi Mesin Pertumbuhan, Intip Prospek Saham Telkom (TLKM)

“Perubahan tersebut bukan pergeseran penilaian tanpa dasar, melainkan penyesuaian setelah munculnya guncangan MSCI dan meningkatnya tekanan terhadap rupiah serta arus modal,” jelas Yusuf.

Dalam skenario optimistis, CDS tenor 5 tahun berpeluang turun ke kisaran 85 bps–92 bps, sedangkan tenor 10 tahun berada di rentang 130 bps–140 bps. Skenario ini bergantung pada reformasi pasar yang konkret, meredanya tekanan terhadap rupiah, dan pulihnya arus modal asing.

Sebaliknya, apabila rupiah terus melemah, harga minyak meningkat, atau muncul tekanan tambahan dari sisi fiskal, CDS tenor 5 tahun berpotensi naik ke kisaran 110 bps–125 bps. Adapun CDS tenor 10 tahun dapat mencapai 165 bps–180 bps. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×