Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menggandeng HPS Investment Partners, bagian dari BlackRock, untuk mendukung ekspansi bisnis pengelolaan limbah di Asia melalui investasi bertahap dengan nilai maksimal S$ 555 juta.
Investasi tersebut akan disalurkan melalui SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH), perusahaan induk platform pengelolaan limbah TOBA, yang ditujukan untuk membiayai pertumbuhan bisnis, baik melalui ekspansi organik maupun anorganik.
Investasi HPS dilakukan melalui pengambilan saham preferen baru yang diterbitkan SBTH serta instrumen lainnya. Namun, realisasi transaksi masih bergantung pada persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) TOBA.
Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer TBS Dicky Yordan mengatakan masuknya HPS menjadi langkah penting bagi transformasi perusahaan menuju pengembang infrastruktur berkelanjutan di Asia.
Baca Juga: Mitrabahtera Segara (MBSS) Siapkan Buyback Saham Rp 200 Miliar
“Dengan investasi modal sebanyak beberapa tahap dengan jumlah sebesar-besarnya S$ 555 juta ke SBTH, kami menyambut HPS sebagai mitra yang sangat bernilai, sementara kami tetap mempertahankan kendali atas bisnis pengelolaan limbah,” jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (21/10).
Dicky menyebut bisnis pengelolaan limbah kini menjadi penggerak utama bisnis TBS. Kemitraan dengan HPS diharapkan mendukung pengembangan platform tersebut, sementara TBS tetap mempertahankan kendali atas bisnis pengelolaan limbahnya.
Adapun SBTH menaungi tiga perusahaan operasional pengelolaan limbah TBS, yakni Cora Environment Pte. Ltd. dan Asia Medical Enviro Services Pte. Ltd. di Singapura, serta PT Arah Environmental Indonesia yang beroperasi di Indonesia.
Cora Environment menjalankan bisnis pengelolaan limbah, daur ulang, dan energi dari limbah serta melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan bisnis di Singapura. Sementara itu, Asia Medical Enviro Services bergerak di pengelolaan limbah medis.
Adapun PT Arah Environmental Indonesia mengelola limbah medis, industri, dan rumah tangga di 15 provinsi. Secara kolektif, ketiga perusahaan operasional tersebut mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah selama enam bulan hingga 30 Juni 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














