kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Revisi RKAB 2026 Berdampak ke Emiten Nikel dan Batubara, Simak Rekomendasi Sahamnya


Rabu, 21 Oktober 2026 / 17:52 WIB
Revisi RKAB 2026 Berdampak ke Emiten Nikel dan Batubara, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Harita Nickel - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) (KONTAN/Azis Husaini)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 berpotensi memengaruhi kinerja emiten nikel dan batubara, terutama dari sisi volume produksi, penjualan, biaya operasional, hingga profitabilitas. Pembatasan kuota produksi nikel dan batubara juga dapat memengaruhi keseimbangan pasokan serta harga komoditas.

Kuota produksi bijih nikel pada 2026 ditetapkan sekitar 290 juta ton, sedangkan kuota produksi batubara sekitar 700 juta ton. Di sektor nikel, pasokan bijih berpotensi mengalami defisit 3 juta ton hingga 87 juta ton. Sementara itu, ekspor batubara diperkirakan turun 14% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi maksimal 450 juta ton, antara lain akibat alokasi kewajiban pasokan domestik atau domestic market obligation (DMO) dan kendala logistik.

Baca Juga: BI Perkuat Insentif Lindung Nilai Jaga Rupiah, Ekonom Soroti Risiko Kewajiban

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, pembatasan pasokan nikel berpotensi menguntungkan penambang yang memiliki kuota produksi memadai, tetapi dapat menekan margin perusahaan pengolahan yang bergantung pada pembelian bijih dari pihak lain.

"Pada nikel, pembatasan kuota bijih sekitar 290 juta ton berisiko menekan produksi dan meningkatkan harga bahan baku, sehingga menguntungkan penambang dengan kuota memadai, tetapi menekan margin smelter," ujar Sukarno kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Adapun di sektor batubara, pembatasan produksi dan potensi penurunan ekspor dapat membatasi volume penjualan. Meski berpotensi mendukung harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), kenaikan harga belum tentu cukup untuk mengompensasi penurunan volume penjualan.

Sukarno menambahkan, penurunan ekspor dan kewajiban DMO berpotensi menekan volume penjualan ekspor. Profitabilitas emiten akan bergantung pada kemampuan kenaikan harga jual rata-rata dalam mengimbangi penurunan volume, biaya produksi, dan logistik.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai dampak revisi RKAB terhadap emiten kedua sektor akan bergantung pada struktur biaya dan kemampuan perusahaan menjaga volume penjualan.

"Bagi emiten nikel, pembatasan kuota produksi dapat menjadi katalis positif bagi harga bijih nikel apabila pengetatan pasokan tidak diimbangi oleh penurunan permintaan. Namun, di sisi lain, perusahaan tambang berpotensi menghadapi keterbatasan volume produksi dan penjualan sehingga pertumbuhan pendapatan menjadi kurang optimal," kata Nafan.

Menurut dia, emiten batubara yang memiliki biaya produksi rendah, kontrak penjualan kuat, dan fleksibilitas distribusi relatif lebih mampu mempertahankan margin keuntungan di tengah potensi penurunan ekspor.

Potensi defisit bijih nikel sebesar 3 juta ton hingga 87 juta ton dapat meningkatkan persaingan untuk mendapatkan bahan baku. Kondisi ini terutama berisiko bagi smelter yang bergantung pada pasokan bijih dari tambang eksternal.

Nafan menjelaskan, kekurangan pasokan dapat mendorong kenaikan harga bijih nikel domestik dan biaya produksi smelter. Selain itu, utilisasi fasilitas pengolahan berisiko turun apabila kebutuhan bahan baku tidak terpenuhi.

Sebaliknya, perusahaan dengan integrasi vertikal dari pertambangan hingga pengolahan berpotensi memiliki posisi lebih baik karena kepastian pasokannya relatif terjaga.

Baca Juga: Apexindo Pratama (APEX) Terbitkan 218,09 Juta Saham Baru untuk Kreditur

"Perusahaan yang memiliki integrasi vertikal dari pertambangan hingga pengolahan berpotensi memperoleh keuntungan karena memiliki kepastian pasokan yang lebih baik," ujar Nafan.

Di sektor batubara, penurunan ekspor berpotensi mengurangi volume penjualan sekaligus meningkatkan biaya logistik per ton apabila efisiensi pengangkutan menurun. Namun, dampaknya tidak akan merata karena perusahaan dengan biaya penambangan rendah, lokasi tambang dekat infrastruktur transportasi, dan kontrak jangka panjang yang solid cenderung lebih tahan menghadapi tekanan.

Untuk sektor nikel, Sukarno menilai PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) relatif menarik karena memiliki aset tambang dan pengolahan. Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) perlu dicermati dari sisi kecukupan pasokan bijih, utilisasi smelter, dan biaya produksi.

Adapun di sektor batubara, Sukarno menilai PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menarik dari sisi pasar domestik dan potensi dividen. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menawarkan eksposur terhadap harga jual dan margin, sedangkan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) berpotensi diuntungkan oleh efisiensi operasional, meski tetap sensitif terhadap realisasi kuota dan kendala logistik.

Nafan juga menyarankan investor mencermati emiten dengan integrasi bisnis, cadangan memadai, dan efisiensi operasional. Untuk nikel, saham ANTM, INCO, dan NCKL menjadi pilihan yang layak diperhatikan. Sementara itu, pada sektor batubara, saham PTBA, ITMG, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dapat dicermati dengan mempertimbangkan karakteristik bisnis serta kontribusi masing-masing segmen usaha.

Memasuki 2027, prospek kedua sektor akan dipengaruhi konsistensi kebijakan kuota produksi, kebutuhan bahan baku industri pengolahan, permintaan dari China dan negara-negara Asia lainnya, serta pergerakan harga komoditas global.

Nafan menilai, pemulihan harga nikel berpotensi terjadi apabila pengetatan pasokan berjalan efektif sementara permintaan tetap terjaga, termasuk dari industri kendaraan listrik dan baja nirkarat. Di sisi lain, prospek batubara masih menghadapi tantangan dari normalisasi permintaan global, kebijakan energi negara importir, dan transisi menuju energi rendah karbon.

Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno merekomendasikan trading buy atau beli untuk PTBA dengan target harga Rp 3.320 per saham. Jika mampu menembus level tersebut, target menengah berikutnya berada di Rp 3.800 per saham.

Sukarno juga merekomendasikan buy atau trading buy saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp 12.000 hingga Rp 13.500 per saham.

Untuk sektor nikel, Sukarno merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham. Ia juga merekomendasikan buy saham ANTM dengan target harga Rp 4.100 per saham dan NCKL dengan target harga Rp 1.000 per saham.

Sementara itu, Nafan memberikan rekomendasi buy on weakness untuk ANTM, dengan area masuk Rp 2.330 hingga Rp 2.630 per saham. Target harga pertama berada di Rp 2.680 per saham, target kedua Rp 2.770 per saham, dan target ketiga Rp 3.470 per saham. Level support yang dicermati berada di Rp 2.330 dan Rp 2.200 per saham.

Untuk INCO, Nafan merekomendasikan accumulative buy dengan area akumulasi Rp 3.210 hingga Rp 3.810 per saham. Target harga pertama berada di Rp 3.880 per saham, target kedua Rp 4.080 per saham, dan target ketiga Rp 4.950 per saham. Level support berada di Rp 3.210 dan Rp 2.800 per saham.

Baca Juga: TBS Energi (TOBA) Gandeng HPS, Siapkan Investasi S$ 555 Juta untuk Bisnis Limbah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×