kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Data Center Jadi Mesin Pertumbuhan, Intip Prospek Saham Telkom (TLKM)


Rabu, 21 Oktober 2026 / 15:09 WIB
Data Center Jadi Mesin Pertumbuhan, Intip Prospek Saham Telkom (TLKM)
ILUSTRASI. Telkom , TLKM (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terus memacu lini infrastruktur digital dan pusat data sebagai mesin pertumbuhan baru demi mempertahankan kinerja keuangannya di tengah transformasi bisnis.

Analis Phillip Capital Edo Ardiansyah mengatakan, emiten telekomunikasi ini tetap menjadikan konektivitas jaringan sebagai fondasi utama di samping membangun aset digital dengan profil pertumbuhan tinggi secara selektif.

Hal ini tercermin dari penyerapan belanja modal pada semester I 2026 yang menembus Rp 10,8 triliun atau sekitar 14,2% dari total pendapatan perusahaan.

Baca Juga: Tokenisasi Aset Membuka Peluang Investasi, Hati-Hati Tetap Mengintai

Mayoritas dari realisasi anggaran belanja modal tersebut dialokasikan untuk memperkuat jaringan ritel atau Business to Consumer (B2C) serta membangun infrastruktur dasar layanan korporasi atau Business to Business (B2B).

Walaupun kontribusi pendapatan dari segmen B2B secara keseluruhan masih berada di fase awal, bisnis pusat data yang digawangi oleh NeutraDC tampil mengesankan berkat tingkat keterisian kapasitas yang sangat tinggi.

"Hal ini menjadi landasan bagi monetisasi yang kuat, sebagaimana tercermin dalam pertumbuhan pendapatan kuartal II 2026 sebesar 11,0% secara tahunan (YoY) dan 17,0% secara kuartalan (QoQ), angka yang jauh melampaui pencapaian Telkomsel, sekaligus menegaskan bahwa aset infrastruktur kini menjadi mesin pertumbuhan yang semakin dominan," tegas Edo dalam risetnya, (29/9/2026).

Ekspansi kapasitas layanan pusat data NeutraDC tercatat terus bergulir dengan target pengembangan fasilitas baru sebesar 21,5 megawatt di kawasan Cikarang fase pertama.

Perusahaan juga tengah merampungkan pengembangan fasilitas pusat data sebesar 18 megawatt di wilayah Batam pada fase pertama.

Rencana perluasan kapasitas aset digital perusahaan tersebut bahkan siap dilanjutkan untuk pembangunan pusat data Cikarang fase kedua yang dijadwalkan mulai pada tahun 2027.

Ketersediaan kapasitas ekstra serta dukungan kontrak berdurasi panjang ini pada akhirnya membuat bisnis NeutraDC berada di posisi yang sangat menguntungkan.

Hal tersebut menjadi bekal utama perusahaan untuk menangkap lonjakan permintaan di sektor kecerdasan buatan, komputasi awan, dan edge computing yang melesat secara masif.

Dari sisi aksi korporasi strategis, grup TLKM juga merencanakan pemisahan atau spin off aset jaringan serat optik lewat entitas InfraNexia tahap kedua.

Aksi korporasi yang ditaksir memiliki nilai valuasi mencapai Rp 49,8 triliun ini diestimasi mampu mengerek kepemilikan efektif atas jaringan serat optik grup hingga menyentuh level 94%.

Sementara itu, bisnis layanan seluler Telkomsel yang menjadi tulang punggung segmen pelanggan ritel juga berhasil mencatatkan momentum pemulihan kinerja.

Strategi penggabungan layanan jaringan tetap dan seluler terbukti sangat efektif dalam menjaga loyalitas serta mendorong adopsi layanan data dari para pelanggan.

Rata-rata pendapatan bulanan per pengguna atau ARPU milik Telkomsel pun terpantau terdongkrak naik sebesar 9,1% secara tahunan menjadi Rp 45.600 pada enam bulan pertama tahun ini.

Baca Juga: Adi Sarana Armada (ASSA) Kantongi Kredit Investasi Rp 500 Miliar dari BCA

Pencapaian operasional segmen ritel dan korporat yang solid ini bermuara pada capaian pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,87 triliun pada akhir paruh pertama 2026.

Angka pencapaian pendapatan perusahaan mengindikasikan tren pertumbuhan moderat sebesar 3,9% bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sejalan dengan kenaikan omzet pendapatan, perolehan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi turut sukses mendaki 3,8% secara tahunan menuju posisi Rp 37,46 triliun.

Capaian dari sisi profitabilitas operasional tersebut menyoroti kondisi margin perusahaan yang masih kokoh bertengger di level 49,4%.

Analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan menilai, perolehan kinerja positif dari TLKM ini ikut disokong oleh efisiensi serta disiplin pengeluaran operasional di internal.

Menurutnya, potensi pembengkakan beban operasional pemeliharaan mampu diimbangi dengan proyeksi penurunan biaya interkoneksi ke depannya.

Perusahaan juga sanggup memaksimalkan margin keuntungan bersihnya melalui perolehan beban biaya pendanaan korporasi yang jauh lebih efisien.

"Didukung oleh perolehan kas yang kuat, Telkom memiliki fleksibilitas keuangan untuk mendanai ekspansi ini sembari menjaga pertumbuhan laba yang stabil," ujar Steven dalam risetnya, (25/9/2026).

Ia meyakini adopsi penetrasi produk konvergensi yang semakin mendalam akan secara bertahap memberikan katalis penguatan tambahan bagi prospek perusahaan.

Sebagai daya tarik bagi investor, manajemen TLKM menyajikan program pembelian kembali saham senilai Rp 4 triliun untuk mendongkrak fundamental valuasinya.

Emiten teknologi ini sebelumnya juga telah membuktikan komitmen imbal hasil dengan menebar dividen tunai sebesar Rp 22,0 triliun dari laba tahun buku 2025.

Melihat transisi infrastruktur bisnis B2B dan profil pertumbuhan yang membaik, para analis mempertahankan pandangan positif terhadap saham ini.

Steven merekomendasikan buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp 3.300 per saham. Senada, Edo turut menyematkan rekomendasi buy dengan target harga di level Rp 3.500 per saham.

Baca Juga: Keadilan Pajak Jadi Tantangan bagi Industri Kripto

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×