kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 17.984   1,00   0,01%
  • IDX 6.200   4,00   0,06%
  • KOMPAS100 810   -1,03   -0,13%
  • LQ45 614   -1,14   -0,19%
  • ISSI 215   1,05   0,49%
  • IDX30 345   -1,09   -0,31%
  • IDXHIDIV20 427   -1,61   -0,38%
  • IDX80 92   -0,10   -0,11%
  • IDXV30 117   -0,21   -0,18%
  • IDXQ30 110   -0,42   -0,38%

Bursa Asia Menguat Pagi Ini (27/7), Harga Minyak Anjlok Redakan Kekhawatiran Inflasi


Senin, 27 Juli 2026 / 08:23 WIB
Bursa Asia Menguat Pagi Ini (27/7), Harga Minyak Anjlok Redakan Kekhawatiran Inflasi
ILUSTRASI. Bursa Asia - Korea Selatan (REUTERS/Kim Hong-Ji)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia menguat pada perdagangan Senin (27/7/2026), didorong oleh anjloknya harga minyak setelah meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus mendorong kenaikan harga obligasi menjelang pekan yang dipenuhi agenda rapat bank sentral dan laporan kinerja emiten.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Kembali Melemah pada Hari Ini (27/7), Cek Sentimennya

Iran pada Minggu (26/7) menyatakan akan menghentikan serangan militernya selama AS melakukan hal yang sama.

Keputusan tersebut muncul setelah militer AS dilaporkan khawatir terhadap menipisnya persediaan amunisi.

Namun demikian, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya berakhir. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan tetap menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah, sehingga masih mengancam jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.

"Secara keseluruhan, perkembangan di Timur Tengah bergerak ke arah yang lebih positif selama akhir pekan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa harga minyak di atas US$ 100 per barel cenderung mendorong kedua pihak untuk meredakan konflik," ujar Kepala Ekonom NAB Group Sally Auld.

Meredanya ketegangan di Selat Hormuz membuat harga minyak Brent jatuh 5,2% menjadi US$ 91,73 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 5,4% ke US$ 84,45 per barel.

Baca Juga: Jaringan 1.226 Gerai Dinilai Jadi Modal Mr DIY (MDIY), Begini Rekomendasi Sahamnya

Peluang kenaikan suku bunga The Fed mengecil

Penurunan harga minyak membantu mengurangi kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar sedikit menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Bank sentral AS dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada Rabu (29/7). Berdasarkan pergerakan pasar, peluang kenaikan suku bunga saat ini sekitar sepertiga, meski sebagian besar analis memperkirakan Ketua The Fed Kevin Warsh tidak akan mendukung langkah tersebut.

Analis Goldman Sachs menilai, hasil rapat kali ini menjadi salah satu yang paling sulit diprediksi.

"Investor memandang hasil rapat Juli sangat tidak pasti karena belakangan ini terdapat perbedaan pandangan di internal The Fed, posisi Kevin Warsh belum jelas, dan sebagian eskalasi konflik Iran terjadi saat periode blackout The Fed," tulis Goldman Sachs dalam risetnya.

Goldman Sachs memperkirakan setidaknya akan ada satu anggota yang mendukung kenaikan suku bunga.

Namun mayoritas pengambil kebijakan diperkirakan belum akan mendorong pengetatan lebih lanjut setelah data inflasi Juni menunjukkan perlambatan.

Selain The Fed, pelaku pasar juga menantikan rapat Bank of England (BoE) pada Kamis dan Bank of Japan (BoJ) pada Jumat.

Kedua bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga, meski tetap mewaspadai risiko inflasi.

Baca Juga: Spindo (ISSP) Pacu Ekspansi di 2026: Kembangkan Fasilitas Produksi dan Depo

Laporan keuangan emiten teknologi jadi sorotan

Sentimen positif dari turunnya harga minyak dan imbal hasil obligasi turut mengangkat pasar saham global.

Kontrak berjangka (futures) indeks S&P 500 naik 0,8%, sedangkan Nasdaq melonjak 1,3%.

Di Eropa, futures EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,6%, sementara futures FTSE menguat 0,1%.

Di Asia, indeks Nikkei Jepang naik 0,4%, indeks saham Korea Selatan yang didominasi sektor semikonduktor menguat 0,6%, sedangkan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 0,3%.

Sekitar sepertiga perusahaan anggota indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini.

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (23 Juli 2026), Cermati BUMI dan CPIN

Berdasarkan data LSEG IBES, laba emiten diperkirakan tumbuh 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi seperti Microsoft, Meta Platforms, Amazon, Apple, dan Qualcomm.

Pasar juga mencermati besarnya belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang mulai memunculkan kekhawatiran mengenai besarnya biaya investasi.

Laporan Wall Street Journal menyebut Nvidia sedang berdiskusi untuk menyediakan dukungan pendanaan sekitar US$ 250 miliar bagi OpenAI sebagai bagian dari proyek pembangunan pusat data.

Selain musim laporan keuangan, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II, indeks harga PCE Juni, pendapatan dan belanja konsumen, klaim pengangguran mingguan, indeks biaya tenaga kerja kuartal II, serta indeks sentimen konsumen Michigan Juli.

Di Eropa, agenda data ekonomi mencakup estimasi awal PDB kuartal II kawasan euro, inflasi Juli, sentimen ekonomi, kepercayaan konsumen, dan tingkat pengangguran Juni.

Baca Juga: Begini Rekomendasi Saham Bank Mandiri (BMRI) Pasca Rilis Kinerja Semester I-2026

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 4,63%.

Sementara itu, euro menguat 0,2% ke level US$ 1,1390 terhadap dolar AS, sedangkan dolar AS melemah 0,2% terhadap yen Jepang menjadi 163,66 yen.

Di pasar komoditas, turunnya yield obligasi meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Harga emas naik 1,4% menjadi US$ 4.110 per ons.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×