kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

Beban Bunga Utang Korporasi Naik, Obligasi Jadi Pilihan di Tengah IPO yang Sepi


Senin, 05 Oktober 2026 / 17:46 WIB
Beban Bunga Utang Korporasi Naik, Obligasi Jadi Pilihan di Tengah IPO yang Sepi
ILUSTRASI. ihsg,melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya pendanaan korporasi berpotensi meningkat di tengah tingginya suku bunga, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan kupon yang ditawarkan sejumlah emiten dalam penerbitan obligasi.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, kenaikan kupon obligasi dapat mencerminkan peningkatan biaya pendanaan korporasi. Investor cenderung meminta premi lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko suku bunga, risiko kredit, maupun ketidakpastian pasar.

Sebagai contoh, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menawarkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap V senilai Rp500 miliar dengan kupon 9% per tahun dan tenor 370 hari. Kupon tersebut lebih tinggi dibandingkan penerbitan Tahap IV yang menawarkan bunga 8,95% untuk tenor yang sama.

Baca Juga: Di September IHSG Anjlok 6,96% & Asing Net Sell Rp10,24 Triliun, OJK Ungkap Sebabnya

“Kenaikan kupon obligasi memang dapat mencerminkan biaya pendanaan korporasi yang meningkat, terutama ketika investor meminta premi lebih tinggi akibat suku bunga, risiko kredit, maupun ketidakpastian pasar,” kata Harry kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Menurut Harry, tekanan terhadap biaya pendanaan tidak hanya berasal dari faktor domestik. Meningkatnya yield US Treasury dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga dapat membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi risiko nilai tukar. Ekspektasi terhadap suku bunga Bank Indonesia turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan apabila tekanan terhadap rupiah dan inflasi kembali meningkat.

Kenaikan biaya utang pada akhirnya dapat memengaruhi kinerja keuangan emiten. Harry mengatakan, dampak utamanya terlihat dari kenaikan beban bunga yang berpotensi menekan laba bersih dan arus kas apabila pertumbuhan EBITDA tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya utang.

Risiko tersebut akan lebih besar bagi emiten dengan tingkat leverage tinggi, kebutuhan refinancing besar, atau memiliki utang dalam dolar AS sementara pendapatannya mayoritas dalam rupiah.

Meski menambah beban bunga, obligasi tetap menjadi salah satu pilihan pendanaan korporasi. Harry mengatakan, perusahaan dapat memperoleh pendanaan melalui obligasi tanpa melakukan dilusi kepemilikan seperti halnya penerbitan saham baru melalui IPO.

Baca Juga: Permintaan SBR015 Diprediksi Menguat Jelang Penutupan, Ini Alasannya

Sementara dari sisi investor domestik, obligasi menawarkan kepastian pembayaran kupon. Namun, Harry menilai obligasi berdenominasi rupiah tidak selalu menjadi lebih menarik bagi investor asing karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat menggerus total imbal hasil yang diterima.

“Kami melihat penerbitan obligasi masih cukup aktif ke depan, terutama dari emiten yang memiliki kebutuhan refinancing dan capex, meskipun besarnya kupon akan sangat bergantung pada arah suku bunga, pergerakan IDR, serta risk appetite investor,” ujarnya.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, kenaikan kupon obligasi seperti yang terjadi pada ENRG memang mencerminkan adanya kenaikan biaya pendanaan, meskipun kenaikannya relatif tipis. Perusahaan perlu menawarkan imbal hasil yang lebih menarik agar investor bersedia menyerap penerbitan obligasi di tengah ketidakpastian pasar.

Menurut Hendra, kondisi tersebut juga dipengaruhi meningkatnya yield US Treasury, pelemahan rupiah, serta ekspektasi terhadap suku bunga Bank Indonesia. Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, investor akan menuntut risk premium yang lebih tinggi sehingga biaya utang korporasi cenderung ikut meningkat.

Dari sisi kesehatan keuangan, Hendra mengatakan kenaikan biaya utang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan beban bunga dan berpotensi menekan laba bersih, terutama bagi perusahaan dengan leverage tinggi atau arus kas yang belum terlalu kuat.

Namun, dampaknya tidak otomatis negatif. Jika dana hasil obligasi digunakan untuk ekspansi yang produktif, refinancing utang lama dengan biaya yang lebih mahal, atau membiayai proyek yang mampu menghasilkan return di atas cost of debt, tambahan beban bunga masih dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat pada Selasa (6/10/2026), Ini Rekomendasi Analis

Sebaliknya, jika utang digunakan hanya untuk menutup kebutuhan likuiditas atau membayar kewajiban yang jatuh tempo tanpa diikuti peningkatan arus kas, kenaikan bunga dapat memperbesar risiko keuangan.

Karena itu, Hendra menilai investor tidak cukup hanya melihat besaran kupon. Investor juga perlu memperhatikan debt to equity ratio, interest coverage ratio, jatuh tempo utang, arus kas operasional, serta kemampuan perusahaan menghasilkan EBITDA dan laba untuk membayar kewajibannya.

Di tengah pasar saham yang masih tertekan dan aktivitas IPO yang sepi, Hendra melihat obligasi tetap memiliki daya tarik. Menurut dia, kondisi IHSG yang masih tertekan membuat investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

Sementara itu, IPO membutuhkan keyakinan investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan dan valuasi saham dalam jangka menengah hingga panjang. Dalam kondisi pasar bearish, investor cenderung sulit memberikan valuasi premium kepada emiten baru.

Risiko price discovery setelah IPO juga menjadi lebih besar karena saham baru harus menghadapi tekanan dari pasar sekunder yang secara umum masih lemah. Berbeda dengan saham, obligasi menawarkan karakter yang lebih terukur karena investor sudah mengetahui besaran kupon dan struktur pembayaran pokok.

“Obligasi menawarkan karakter yang berbeda karena investor sudah mengetahui besaran kupon dan struktur pembayaran pokok, sehingga cash flow investasinya relatif lebih mudah diproyeksikan,” ujar Hendra.

Menurut Hendra, kondisi tersebut bukan berarti investor akan meninggalkan saham dan beralih sepenuhnya ke obligasi. Fenomena ini lebih mencerminkan perubahan preferensi risiko. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor cenderung mencari instrumen dengan pendapatan yang lebih terukur sambil menunggu kondisi pasar saham kembali kondusif.

Baca Juga: GMFI Bidik Pasar Timur Tengah, Bangun Fasilitas MRO di Oman

Bagi perusahaan, obligasi juga memberikan keuntungan berupa kepastian sumber pendanaan tanpa harus menambah jumlah saham beredar dan mengalami dilusi kepemilikan seperti dalam penerbitan saham baru.

Aktivitas IPO Melambat

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan riset Kontan menunjukkan aktivitas IPO dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya. Pada 2016, terdapat 16 emiten baru dengan nilai penghimpunan dana Rp 12,07 triliun. Jumlah tersebut meningkat menjadi 37 emiten pada 2017 dengan nilai IPO Rp 9,6 triliun.

Pada 2018, realisasi IPO mencapai 57 emiten dengan nilai penghimpunan Rp16,43 triliun. Kemudian pada 2019 terdapat 55 emiten baru dengan nilai IPO Rp 14,7 triliun. Pada 2020, jumlah emiten baru turun menjadi 51 perusahaan dengan nilai penghimpunan Rp 6,07 triliun.

Tahun 2021 menjadi salah satu periode dengan nilai penghimpunan dana IPO tertinggi. Sebanyak 54 emiten baru melantai di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 62,61 triliun. Pada 2022, terdapat 59 emiten baru dengan nilai IPO Rp 33,01 triliun.

Rekor jumlah emiten baru terjadi pada 2023, ketika 79 perusahaan melantai di BEI dan menghimpun dana Rp 54,33 triliun. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 41 emiten pada 2024 dengan nilai IPO Rp 14,3 triliun.

Pada 2025, realisasi IPO kembali turun menjadi 26 emiten baru dengan nilai penghimpunan Rp 18,11 triliun. Sementara hingga 5 Oktober 2026, baru tujuh perusahaan yang melakukan IPO dengan nilai penghimpunan Rp 2,16 triliun.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat pada Selasa (6/10/2026), Ini Rekomendasi Analis

Dari sisi target, BEI menargetkan 50 emiten baru pada 2026. Dengan realisasi tujuh emiten hingga 5 Oktober 2026, aktivitas IPO masih jauh dari target tahunan tersebut. Meski demikian, jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 963 perusahaan.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Budi Frensidy menilai IPO masih menarik, tetapi investor harus selektif di tengah volatilitas pasar.

“IPO masih menarik, tetapi harus selektif. Di tengah volatilitas tinggi, jangan hanya mengejar potensi ARA hari pertama,” kata Budi.

Menurut Budi, jumlah IPO yang relatif terbatas pada 2026 menunjukkan pasar memang lebih berhati-hati. Investor perlu mencermati sejumlah faktor sebelum mengikuti IPO, mulai dari valuasi, profitabilitas, kondisi pasar saat pencatatan saham hingga profil pemegang saham pengendali.

Pergerakan rupiah, suku bunga global, dan arus dana asing juga turut memengaruhi pasar IPO.

“Pengalaman 2026 menunjukkan saham IPO bisa sangat volatil setelah listing meski hari pertamanya kuat,” ujar Budi.

Menurut Budi, prospek IPO Indonesia tetap positif, tetapi kualitas emiten akan menjadi lebih penting dibandingkan jumlah perusahaan yang melantai di bursa.

“Jika kondisi pasar membaik, IPO perusahaan besar dan berkualitas bisa kembali meningkatkan minat investor,” katanya.

Prospek Obligasi dan IPO

Ke depan, Hendra melihat prospek penerbitan obligasi masih cukup kuat, terutama untuk perusahaan dengan fundamental solid, arus kas stabil, dan kebutuhan refinancing yang jelas. Namun, kupon obligasi kemungkinan tetap berada pada level yang relatif tinggi apabila yield US Treasury bertahan tinggi, rupiah masih menghadapi tekanan, dan suku bunga Bank Indonesia memiliki ruang untuk naik kembali.

Baca Juga: OJK: Transaksi Bursa Mineral Dimungkinkan Pakai USD

Sebaliknya, apabila tekanan global mulai mereda, yield AS turun, rupiah menguat dan ekspektasi penurunan suku bunga kembali muncul, biaya penerbitan obligasi dapat ikut turun sehingga pasar obligasi berpotensi semakin ramai.

Untuk IPO, pemulihan kemungkinan membutuhkan kondisi yang lebih kuat. Hendra menilai IPO berpotensi kembali bergairah ketika volatilitas menurun, valuasi saham lebih menarik, likuiditas meningkat, dan investor mulai kembali berani mengambil risiko.

Bagi investor obligasi, Harry menyarankan agar tidak hanya mengejar kupon tinggi. Investor perlu memperhatikan rating kredit, leverage, interest coverage, arus kas, serta tujuan penggunaan dana hasil penerbitan obligasi.

Hendra juga menekankan bahwa kupon tinggi perlu dilihat bersama dengan risiko yang menyertainya. Investor perlu memperhatikan kualitas penerbit, peringkat kredit, kemampuan membayar bunga, struktur utang, penggunaan dana, serta risiko refinancing ketika obligasi jatuh tempo.

Di sisi lain, sepinya IPO bukan berarti seluruh saham baru harus dihindari. Investor tetap dapat mempertimbangkan emiten dengan fundamental kuat, prospek bisnis jelas, dan valuasi yang masuk akal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×