Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia kedatangan dua emiten baru hari ini, Rabu (8/7/2026). Yaitu, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).
BACH menjadi emiten keempat yang melantai di Bursa pada tahun ini. Sementara, EMMI menjadi emiten kelima yang tercatat.
Dalam IPO ini, EMMI menawarkan 522.857.000 saham baru atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Harga penawarannya di Rp 470 per saham. Sehingga, jumlah seluruh nilai penawaran ini mencapai sebesar Rp 245,74 miliar.
Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja mengatakan, dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung pengembangan usaha EMMI.
Baca Juga: Saham JELI Mentok ARA Dua Hari Beruntun, Dana IPO Difokuskan untuk Inovasi Produk
Dana sebesar Rp 50 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman. Lalu, sekitar 6,4% untuk pembiayaan belanja modal pembangunan gedung pabrik Cikupa.
Kemudian sekitar 72,3% untuk modal kerja, antara lain pembelian barang terkait proyek softloan serta pembelian bahan baku/persediaan untuk menunjang operasional bisnis.
“Luas Pabrik di Cikupa kira-kira 2.000 - 3.000 meter persegi. Itu rencananya membangun 2 atau 3 lantai,” katanya saat ditemui di Gedung BEI, Rabu (8/7/2026).
Sementara, BACH menawarkan maksimal 615 juta saham baru atau setara dengan 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca IPO. Dengan kisaran harga penawaran Rp400-Rp500 per saham, BACH menghimpun dana hingga Rp307,5 miliar.
Dalam penggunaan dana IPO, BACH berencana menggunakan Rp 91,02 miliar dari dana IPO setelah dikurangi berbagai biaya emisi untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas pinjaman jangka pendek.
Baca Juga: Esa Medika Mandiri (EMMI) Target Pendapatan Tumbuh 10% pada 2026
Sisanya sekitar Rp 213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja oleh BACH, yaitu dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan.
Direktur Utama BACH Budi Kurniawan mengatakan, BACH memproyeksikan pendapatan meningkat dari sekitar Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi lebih dari Rp 3 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 12% per tahun.
Pada periode yang sama, laba bersih diproyeksikan melonjak hingga sekitar Rp 401 miliar, atau meningkat sekitar 158%.
"Kita sangat optimistis karena melihat dari sisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, maupun lini bisnis kita di power system dan infrastruktur telekomunikasi yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat," katanya di Gedung BEI, Rabu (8/7/2026).
Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, BACH berpotensi menjadi salah satu pilar infrastruktur digital Grup Djarum, khususnya pada bisnis passive telecommunication infrastructure berupa menara telekomunikasi.
Keberadaan bisnis seperti ini bersifat komplementer terhadap ekosistem digital grup yang selama ini telah berkembang melalui sektor perbankan digital, teknologi, pusat data (data center), jaringan fiber optic, hingga layanan telekomunikasi.
Dengan memiliki aset menara, grup memperoleh eksposur terhadap bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) melalui kontrak sewa jangka panjang kepada operator telekomunikasi.
Baca Juga: Hari Ini Perdagangan Perdana Saham BACH Di BEI, ARA Jika Harga Naik Ke Level Ini
“Model bisnis tersebut relatif lebih defensif dibandingkan bisnis yang sangat bergantung pada siklus konsumsi,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/7).
Menurut Nafan, prospek BACH masih cukup positif dalam jangka menengah hingga panjang, didukung oleh beberapa faktor.














