Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) diperkirakan masih menghadapi tantangan hingga akhir 2026.
Kenaikan biaya energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kelebihan kapasitas (overcapacity) industri semen diperkirakan masih membayangi kinerja emiten semen tersebut. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memandang prospek INTP di sisa tahun ini masih cenderung mixed.
Di satu sisi, Wafi mengatakan, perusahaan menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga batubara dan minyak yang diperparah oleh depresiasi rupiah. Menurutnya, biaya energi berkontribusi sekitar 30%-40% terhadap total biaya produksi semen sehingga kenaikan harga energi akan menjadi beban bagi margin perseroan.
Baca Juga: Dividen Erajaya (ERAA) Berpotensi Beri Yield 6,79%, Ini Jadwal Siapa yang Berhak
Namun di sisi lain, Wafi menilai langkah INTP memperluas bisnis produk turunan semen melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture) di segmen mortar merupakan strategi yang tepat. Diketahui, anak usaha perseroan, PT Pionirbeton Industri (PBI), resmi menjalin kemitraan dengan PT Cipta Mortar Utama (CMU), bagian dari Saint-Gobain, dengan nilai penanaman modal mencapai Rp 455,04 miliar.
Diversifikasi tersebut disebut dapat meningkatkan kontribusi produk dengan margin lebih tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bisnis semen yang marginnya semakin tertekan akibat kondisi over capacity di industri.
Tak sampai situ saja, Analis Binaartha Sekuritas, Eka Rahmah, mencatat INTP juga membentuk perusahaan patungan dengan Mondi Industrial Bag GmbH dengan komposisi kepemilikan 60:40, dengan total investasi yang disalurkan oleh INTP sebesar Rp 535 miliar.
Rahmah menyebut, kerja sama ini bertujuan memperkuat ekosistem pengemasan, meningkatkan kualitas produk, serta mendukung efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Baca Juga: RKAB 2026 Jadi Katalis Pemulihan Operasional INCO, Ini Proyeksi Kuartal III-2026
Dari kinerja keuangan, sepanjang semester I-2026, INTP tercatat membukukan pendapatan sebesar Rp 3,84 triliun pada kuartal I-2026, atau turun 3,3% YoY, dari pendapatan sebesar Rp 3,97 triliun pada periode Januari-Maret 2026.
Laba periode berjalan INTP di kuartal I-2026 naik tipis sekitar 2,1% menjadi Rp 215,2 miliar, dibandingkan Rp 210,7 miliar pada posisi yang sama tahun sebelumnya.
"Pendapatan hingga akhir tahun 2026 kemungkinan flat-to-modest growth karena cost pressure jangka pendek diimbangi diversifikasi benefit jangka menengah," ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).
Dari sisi katalis, Wafi menilai peningkatan permintaan semen masih berpeluang terjadi apabila realisasi belanja infrastruktur pemerintah melalui APBN serta proyek strategis nasional, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN), berjalan sesuai rencana pada paruh kedua 2026. Selain itu, kontribusi awal dari bisnis mortar juga berpotensi menjadi penopang pertumbuhan perseroan.
Baca Juga: Ekspansi Bisnis, MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) Beli Sports Direct Rp 2,5 Triliun
Sementara itu, Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, juga mencermati bahwa industri semen masih menghadapi tantangan. Persoalan kelebihan kapasitas (oversupply) masih menjadi tantangan utama. Permintaan semen domestik diperkirakan hanya sekitar 63 juta ton, sementara kapasitas terpasang industri mencapai 120,8 juta ton. Artinya, tingkat utilisasi industri hanya sekitar 52%.
“Kondisi tersebut membuat persaingan harga semakin ketat dan mendorong semakin banyak produsen menggunakan fighting brand, sehingga daya tawar harga jual tetap terbatas,” ujar Budi dalam riset 11 Mei 2026.
Tak hanya itu saja, Budi mencatat risiko lain yang masih membayangi antara lain, kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, meningkatnya persaingan ekspor, ketidakpastian kebijakan tarif dan perdagangan, melemahnya daya beli masyarakat yang mendorong konsumen beralih ke merek lebih murah, serta penurunan investasi asing (FDI).
Selain itu, implementasi kebijakan ODOL (Over Dimension Over Loading), tarif listrik, pajak karbon, hingga potensi penundaan penurunan suku bunga akibat tekanan inflasi dan meningkatnya ketegangan geopolitik juga menjadi tantangan tambahan.
Kendati demikian, manajemen menargetkan pertumbuhan volume penjualan sekitar 1% pada 2026. Budi bilang sejumlah katalis bisa mendukung kinerja INTP, seperti perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah hingga 2027 dan berlanjutnya proyek strategis nasional, termasuk program pembangunan 3 juta rumah, jalan tol, MRT/LRT, serta proyek tanggul laut raksasa.
Melihat berbagai faktor di atas, Rahma memproyeksikan kinerja INTP masih akan membaik pada 2026. Pendapatan perseroan diperkirakan mencapai Rp 18,89 triliun, naik sekitar 6,5% YoY dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 17,73 triliun.
Sejalan dengan itu, laba bersih INTP diproyeksikan meningkat tipis menjadi Rp 2,28 triliun pada 2026, atau tumbuh sekitar 1,2% YoY dari realisasi 2025 yang sebesar Rp 2,25 triliun.
Adapun untuk rekomendasi saham INTP, Rahma memberikan rekomendasi untuk buy saham INTP dengan target harga Rp 6.880 per saham. Budi juga merekomendasikan buy INTP dengan target harga Rp 6.000 per saham.
Sementara itu Analis CGS International, Bob Setiadi, memberikan rekomendasi untuk add saham INTP dengan target harga Rp 6.700 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














