kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.020   39,00   0,22%
  • IDX 5.916   40,29   0,69%
  • KOMPAS100 770   5,43   0,71%
  • LQ45 584   2,70   0,46%
  • ISSI 205   1,22   0,60%
  • IDX30 331   1,85   0,56%
  • IDXHIDIV20 408   2,21   0,55%
  • IDX80 87   0,50   0,57%
  • IDXV30 110   0,09   0,09%
  • IDXQ30 107   0,43   0,40%

Relaksasi RKAB Batubara Mulai Juli, Begini Prospek Kinerja Indo Tambangraya (ITMG)


Senin, 06 Juli 2026 / 17:43 WIB
Relaksasi RKAB Batubara Mulai Juli, Begini Prospek Kinerja Indo Tambangraya (ITMG)
ILUSTRASI. Relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja ITMG ke depan. ?(DOK/ITMG)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I – 2026. Relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja ITMG ke depan. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, prospek kinerja ITMG pada kuartal III – 2026 berpotensi solid didukung relaksasi RKAB mulai Juli yang membuka ruang peningkatan volume produksi, harga batubara ekspor yang masih kondusif di US$ 120 – US$ 130 per ton, dan keunggulan cash cost terendah di industri yang menjaga margin tetap kompetitif. 

“Wacana kenaikan harga DMO dari US$ 70 per ton yang stagnan sejak tahun 2018 menjadi katalis langsung, relaksasi RKAB Juli yang membuka peluang volume lebih tinggi, dan ketegangan geopolitik yang menjaga permintaan batubara termal Asia tetap solid,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (6/7/2026). 

Baca Juga: Tokocrypto Luncurkan Tokenized Stocks, Investor Bisa Akses Saham Nvidia hingga SpaceX

Abida melihat tiga tantangan utama yang dihadapi ITMG antara lain normalisasi harga batubara global seiring permintaan China yang masih volatile, kewajiban DMO 25% - 30% pada harga US$70/ton yang membatasi realisasi harga jual rata – rata (ASP) gabungan, dan pelemahan rupiah yang menaikkan biaya operasional meski sebagian dikompensasi pendapatan ekspor berdenominasi dolar. 

“Implementasi ekspor terpusat Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang berpotensi mengurangi fleksibilitas negosiasi ASP dan risiko normalisasi permintaan dari akselerasi transisi energi global,” ucap Abida. 

Axell Ebenhaezer, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia juga menyoroti pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang akan bertindak sebagai perantara dalam mengekspor komoditas utama, termasuk batubara. Meski pemerintah bersikeras bahwa DSI hanya akan mengelola dan mengawasi proses ekspor untuk memperketat tata kelola, masih ada kekhawatiran bahwa model ekspor "satu pintu" ini menimbulkan risiko serius berupa monopoli perdagangan, inefisiensi operasional, dan potensi korupsi.

“Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya saing batubara Indonesia di pasar internasional dan menekan margin keuntungan pelaku sektor swasta,” ujar Axell dalam risetnya pada 22 Juni 2026.  

Baca Juga: MoraRepublic (MORA) Gandeng ZTE Perluas Jaringan FWA dan FTTH

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso mengatakan, dua fase regulasi ekspor tersebut membawa risiko yang sangat berbeda. Pada fase transisi (1 Juni – 31 Agustus 2026), transaksi masih akan dilakukan langsung dengan pembeli luar negeri; hanya dokumentasinya yang disalurkan melalui DSI, yang bertindak sebagai penilai dan perantara. Fase ini sebagian besar bersifat administratif dan tidak mempengaruhi keuangan perusahaan. 

Namun, pada fase kedua (1 September 2026 dan seterusnya), DSI diharapkan mengambil alih seluruh kontrak transaksi, menjadi pihak lawan langsung yang membeli dari produsen domestik dan menjual ke luar negeri. 

“Kami melihat pemberlakuan harga batubara acuan (HBA) akan menaikkan harga jual rata – rata (ASP) ITMG, tetapi DSI kemungkinan akan mendapatkan margin. Kedua, pengalihan pembayaran melalui BUMN baru dapat mengubah waktu penyelesaian,” jelas Ryan dalam risetnya pada 25 Mei 2026. 

Ironisnya, pasar batubara yang diangkut melalui laut telah menguat setelah konflik AS-Iran, yang mengganggu pasokan LNG dan meningkatkan permintaan substitusi batubara. Selain itu, ledakan di tambang batubara Liushenyu berpotensi memicu inspeksi keselamatan yang lebih ketat di provinsi penghasil batubara terbesar di Tiongkok, mendukung permintaan batubara yang diangkut melalui laut. 

Baca Juga: Sentimen Suku Bunga Menopang Dolar AS, Yen Jepang dan Franc Swiss Dibayangi Tekanan

“Meskipun demikian, fokus pasar secara bertahap bergeser melampaui perkiraan pendapatan dan momentum harga batubara, dengan investor sekarang lebih memperhatikan detail implementasi gerbang ekspor baru tersebut,” ucap Ryan. 

Sementara itu, Axell melihat harga jual rata-rata (ASP) ITMG pada kuartal pertama tahun 2026 meningkat 6% secara kuartalan menjadi US$ 79,4 per ton karena volatilitas minyak pada semester pertama tahun 2026 mendorong permintaan batubara. Axell menilai ASP tetap kuat untuk kuartal kedua dan mungkin hingga kuartal ketiga meskipun terjadi penurunan ketegangan baru-baru ini di Timur Tengah.

Namun, kejutan positif pada kuartal pertama hampir seluruhnya disebabkan oleh volume penjualan yang mencapai sekitar 6,3 juta ton.Peningkatan kecil ini didorong oleh peningkatan penjualan batubara pihak ketiga daripada peningkatan produksi tambang sendiri.

Sebelumnya, NH Korindo Sekuritas telah memodelkan produksi batubara hasil tambang sendiri milik ITMG yang menghadapi kontraksi signifikan sebagai akibat pengetatan produksi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batubara. Namun, apa yang ditunjukkan pada kuartal pertama tahun 2026 adalah bahwa infrastruktur perdagangan dan pencampuran ITMG — yang dibangun selama bertahun-tahun melalui pembelian batubara pihak ketiga — dapat secara kredibel mengisi sebagian besar kekurangan produksi. Sehingga memungkinkan volume penjualan total yang dilaporkan bertahan jauh lebih baik daripada yang disarankan oleh pembacaan sederhana dari pemotongan RKAB.

“Mengingat hal ini, kami telah menaikkan perkiraan volume penjualan tahun 2026 kami menjadi 24,8 juta ton,” ucap Axell. 

Axell memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2026 masing – masing Rp 33,3 triliun dan Rp 3,54 triliun. Adapun pada tahun 2025, ITMG mengantongi pendapatan Rp 31 triliun dan laba bersih Rp 3,14 triliun. 

Axell merekomendasikan overweight saham ITMG dengan target harga Rp 25.250 per saham. Sementara Ryan dan Abida merekomendasikan buy saham ITMG dengan target harga masing – masing Rp 34.200 per saham dan Rp 27.300 per saham. 

Adapun risiko yang perlu dicermati adalah risiko ketidakpastian alokasi RKAB, penurunan harga batubara akibat de-eskalasi Timur Tengah dan implementasi ekspor melalui DSI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×