Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten dijadwalkan akan membagikan dividen bagi para pemegang sahamnya dengan periode cum date yang berlangsung pekan depan, mulai Senin (27/4/2026 hingga Kamis (30/4/2026).
Beberapa saham yang masuk dalam daftar tersebut antara lain PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), serta PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII).
Selain itu, terdapat pula PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk (NAIK), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), serta PT Kedawung Setia Industrial Tbk (KDSI).
Baca Juga: Emas Dinilai Efektif Jaga Nilai Dana Haji, Ini Strateginya
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai saham-saham tersebut secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua pendekatan utama.
Pertama, pendekatan high yield yang cocok bagi pemburu dividen atau dividend hunter. Dalam kategori ini, ada sejumlah saham dinilai yang menarik dari sisi imbal hasil, seperti BNGA dengan yield sekitar 8,5%, DRMA sekitar 6,6%, AUTO sekitar 6,0%, ADRO sekitar 4,6%, serta PGEO di kisaran 4,8%.
"BNGA dan AUTO cukup menarik karena menawarkan yield relatif tinggi dengan fundamental yang stabil, terutama dari sektor perbankan dan otomotif. Sementara itu, ADRO dan PGEO tak hanya menawarkan yield, tetapi juga memiliki eksposur ke sektor energi yang masih didukung permintaan yang kuat," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).
Kedua, pendekatan dividend dengan kondisi fundamental, yang lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Dalam kategori ini, ADRO dinilai menarik berkat katalis transisi menuju energi hijau serta diversifikasi bisnisnya. PGEO juga memiliki prospek jangka panjang yang kuat sebagai emiten energi terbarukan berbasis panas bumi. Sementara ITMG masih menjadi pilihan dividend play di sektor batu bara, meskipun sifatnya lebih siklikal.
Namun dari sisi prospek, sektor komoditas seperti ADRO, ADMR, dan ITMG diperkirakan bergerak moderat atau cenderung tertekan. Hal ini seiring harga batu bara yang relatif stabil hingga melemah dibandingkan puncaknya, serta permintaan global yang masih ada namun tidak sekuat periode supercycle.
Risiko utama berasal dari potensi penurunan average selling price (ASP) yang dapat menekan margin. Meski demikian, arus kas yang masih solid dinilai mampu menjadi penopang, sehingga emiten tetap berpeluang membagikan dividen meskipun dengan potensi penurunan.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menekankan pentingnya perbedaan strategi antara dividend hunter dan investor jangka panjang.
Investor jangka panjang, menurutnya, cenderung tidak mudah terjebak dalam dividend trap karena lebih fokus pada valuasi dan fundamental. Sebaliknya, dividend hunter mengutamakan yield tinggi dalam jangka pendek, namun perlu mewaspadai potensi penurunan harga setelah ex-date akibat price adjustment.
Secara sektoral, konsumsi domestik dinilai masih cukup kuat sehingga dapat menopang kinerja saham seperti AUTO, DRMA, dan KEJU, seiring daya beli masyarakat yang relatif terjaga di tengah tekanan inflasi.
Untuk sektor komoditas seperti ITMG, ADRO, dan ADMR, prospeknya masih cenderung stabil dengan margin yang tetap sehat selama ASP terjaga.
"Di sisi lain, PGEO dan DRMA memiliki katalis dari tren transisi energi, termasuk pengembangan kendaraan listrik (EV) dan target net zero emission pemerintah," tambah Nafan.
Adapun sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan antara lain pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp 17.200 per dolar AS, yang berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi emiten seperti AUTO dan DRMA.
Selain itu, suku bunga acuan juga memberikan katalis pada biaya dana di sektor perbankan seperti BNGA dan BNII. Risiko lain datang dari ketegangan geopolitik global yang dapat mengganggu rantai pasok serta meningkatkan biaya logistik.
Rekomendasi Saham
Alrich merekomendasikan trading buy untuk saham ADRO dengan area entry di Rp 2.500, stop loss di bawah Rp 2.440, serta target harga di Rp 2.630 per saham. Secara teknikal, breakout MA20 menjadi sinyal konfirmasi rebound dan membuka peluang pengujian resistance di level Rp 2.630. Indikasi ini juga diperkuat oleh pola golden cross serta dukungan volume transaksi yang solid.
Sementara itu, Nafan menyarankan add saham AUTO dan ADRO di target harga masing-masing Rp 3.120 dan Rp 2.780, serta buy saham ADMR di level Rp 2.130 per saham.
Baca Juga: Dana Haji Disarankan Tambah Investasi di Emas 5%–15%, WGC Ungkap Manfaatnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













