Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen kemasan plastik PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) mulai mempercepat ekspansi dengan membangun pabrik baru sekaligus menjajaki lini bisnis kemasan berbasis kertas.
Kenaikan harga bahan baku plastik akibat perang di Timur Tengah membuat pelaku bisnis mulai menjaga harga dan produksi kemasan plastik.
Presiden Direktur ESIP Eric Budisetio Kurniawan menyebut, di tengah ketidakpastian ini, ESIP telah mengamankan pasokan bahan baku sebelum memanasnya konflik global berkecamuk, sehingga stok produksi ESIP masih mencukupi hingga Mei 2026.
Baca Juga: Metropolitan Land (MTLA) Catat Marketing Sales Rp 401 Miliar per Kuartal I-2026
Perusahaan ini optimistis ketersediaan pasokan dan kenaikan harga jual menjadi katalis positif pada penjualan. Sehingga, kenaikan harga produk turut menjadi pendorong utama peningkatan omzet dalam jangka pendek. Dengan kondisi tersebut, ESIP optimistis penjualan produk dalam beberapa bulan ke depan akan lebih kuat.
"Kami punya ketersediaan bahan dan harganya juga tinggi, jadi nanti kami sales-nya lebih baik." kata Eric saat ditemui Kontan di kantornya, tak lama ini.
ESIP juga mulai menjajaki rencana impor bahan baku dari China dan India. Eric menjelaskan, pilihan untuk mengambil bahan baku dari luar ASEAN, risikonya adalah adanya pengenaan bea masuk. Proyeksinya, untuk Cina, bea masuk yang dikenakan besarannya di kisaran 20%. Namun baginya, persoalan bukan terletak pada harga, tetapi ketersediaan materialnya.
Untuk menghadapi situasi yang kompleks ini, Eric bilang perusahaan ini sudah mempersiapkan pengembangan produk dan ekspansi baru.
Pihaknya kini sedang menyiapkan pabrik baru yang berlokasi di Balaraja Timur, Tangerang. Langkah ini menjadi strategi perusahaan untuk menangkap peluang pasar di tengah perubahan tren industri kemasan.
Hingga saat ini, produk kantong plastik yang diproduksi ESIP didominasi oleh kemasan plastik berbahan dasar HDPE dan LDPE/LLDPE. Perusahaan ini memproduksi berbagai jenis kantong plastik seperti kantong kresek, kantong belanja ritel, isopac, kantong sampah, hingga kantong untuk kebutuhan e-commerce dan UMKM.
Baca Juga: Investor Singapura Mau Caplok Saham Hassana Boga (NAYZ)
Dengan ekspansi tersebut, ESIP juga bakal mengembangkan produk non-plastik, khususnya kemasan berbahan dasar kertas (paper packaging).
"Kami fokusnya mengembangkan dengan menggantikan. Seperti kantong plastik dengan kertas misalnya ya. Jadi tahun ini kami mengembangkan di luar plastik. Tapi plastik core businessnya tetap kami jagain,” lanjut Eric.
Lini bisnis ini diharapkan dapat menjadi penopang baru di tengah tren global pengurangan penggunaan plastik. Rencananya, sekitar 20% dari total produksi ke depan akan berasal dari non-plastik, termasuk kemasan kertas.
Adapun untuk lini kemasan kertas, produksi komersial diperkirakan mulai berjalan pada 2027 setelah melalui tahap uji coba pada 2026.
Saat ini, kapasitas produksi pabrik pertama ESIP berada di kisaran 4.000 ton per tahun. Dengan tambahan pabrik baru, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat signifikan secara bertahap.
"Targetnya kapasitas bisa dua kali lipat (dibandingkan pabrik pertama) dan berdampak pada peningkatan pendapatan, yang akan mulai terasa pada 2027,” lanjutnya.
Baca Juga: Kinerja Astra (ASII) Diprediksi Moderat hingga Sisa Akhir Tahun 2026, Ini Sebabnya
Untuk merealisasikan ekspansi tersebut, perusahaan ini diperkirakan merogoh ongkos sekitar Rp 200 miliar. Eric juga membeberkan, bahwa ESIP bakal membuka peluang pendanaan melalui aksi korporasi rights issue yang direncanakan pada kuartal II 2026.
Melansir laporan keuangan per 31 Desember 2025, pendapatan ESIP tercatat sebesar Rp 57,97 miliar, turun 5,2% YoY dari Rp 61,15 miliar pada tahun 2024.
Meski penjualan tertekan, perusahaan berhasil meningkatkan kinerja operasional. Hal ini tercermin dari perolehan EBITDA yang naik menjadi Rp 3,69 miliar pada 2025, dibandingkan Rp 3,11 miliar pada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba bersih periode berjalan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. ESIP membukukan laba bersih sebesar Rp 1,44 miliar pada 2025, meningkat 63,5% yoy dari Rp 879,55 juta pada 2024.
Eric menjelaskan, fluktuasi harga menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja perusahaan. Dari sisi volume, penjualan relatif stabil dengan kecenderungan meningkat, sementara harga jual mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat margin perusaha tetap terjaga.
Untuk tahun 2026, ESIP menargetkan pertumbuhan signifikan dengan proyeksi pendapatan dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, perusahaan juga melihat peluang untuk mengambil pangsa pasar dari kompetitor yang terdampak keterbatasan bahan baku.
Baca Juga: Menguat 3,90% Dalam Sepekan, Harga Bitcoin di Level US$ 77.000
“Dengan pasokan yang kami miliki, kami bisa mengambil market share dari pemain lain yang kesulitan produksi,” imbuh Eric.
Terakhir, ESIP masih akan fokus pada pasar domestik dan belum berencana melakukan ekspansi ekspor dalam waktu dekat. Perusahaan ini menilai pasar dalam negeri masih memiliki potensi yang besar untuk digarap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- PT Sinergi Inti Plastindo Tbk
- ESIP
- kemasan plastik
- harga bahan baku plastik
- Saham ESIP
- Kinerja ESIP
- Laba Bersih ESIP
- kemasan kertas
- Ekspansi ESIP
- Pabrik baru ESIP
- Paper packaging
- Rights issue ESIP
- Pendapatan ESIP
- EBITDA ESIP
- Strategi bisnis ESIP
- Diversifikasi produk ESIP
- Proyeksi ESIP 2026
- Target ESIP 2027
- Pasar domestik ESIP
- Investasi ESIP













