Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kian tertekan dan sempat menyentuh level terburuk sepanjang hayat, di kisaran Rp 17.308 per dolar Amerika Serikat (AS) kemarin.
Per hari ini, Jumat (24/4/2026), rupiah dibuka di level Rp 17.280 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat tipis 0,03% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.286 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan kombinasi kuatnya dolar AS serta meningkatnya premi risiko di pasar keuangan domestik.
Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo menilai, sentimen global risk off menjadi pemicu utama.
Hal ini dipicu oleh kegagalan perundingan antara Iran dan AS, serta meningkatnya kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan energi global akibat isu Selat Hormuz.
“Rupiah yang melemah sampai sekitar Rp 17.300 per dolar AS mencerminkan kombinasi penguatan dolar AS dan kenaikan premi risiko,” ujar Banjaran kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kebutuhan valas untuk impor energi. Dampaknya, tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Dari sisi domestik, premi risiko tercermin dari credit default swap (CDS) Indonesia yang berada di kisaran 83,71 basis poin (bps).
Kenaikan premi risiko ini berpotensi mendorong naiknya yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun, yang mana saat ini sudah di level 6,7% dari awal tahun 6,0%, serta menekan pasar saham melalui arus keluar modal asing.
Selain itu, permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor dan repatriasi dividen turut menambah tekanan di pasar valas domestik.
Meski demikian, Banjaran menilai kondisi saat ini danpaknya masih berupa volatilitas pasar karena fundamental makroekonomi Indonesia relatif tetap baik.
Banjaran menambahkan, konflik di Selat Hormuz menjadi faktor krusial karena berpotensi mengganggu pasokan energi global. Jika harga minyak terus meningkat, maka kebutuhan impor energi Indonesia akan ikut naik dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Instrumen yang dapat digunakan antara lain intervensi di pasar valas spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), pengelolaan likuiditas valas, hingga operasi moneter melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Namun, menurut Banjaran, stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter. “Stabilisasi paling efektif tetap membutuhkan disiplin fiskal dan komunikasi kebijakan yang konsisten agar premi risiko tidak membesar,” katanya.
Secara relatif, pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang negara berkembang lainnya di tengah penguatan dolar AS. Pada periode yang sama, peso Filipina dan baht Thailand juga tercatat melemah masing-masing sekitar 0,57% dan 0,59%.
Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan global, terutama eskalasi geopolitik dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Jika tensi global mereda dan The Fed mulai lebih akomodatif, rupiah berpeluang kembali menguat ke bawah Rp 17.000, dengan kisaran pergerakan di Rp 16.900 hingga Rp 17.200.
Sebaliknya, jika tekanan global berlanjut dan sentimen risk off menguat, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut ke kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.700, meskipun bersifat sementara.
Banjaran menegaskan, level psikologis rupiah saat ini berada di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.300 per dolar AS. Dengan kondisi tersebut, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













