kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Wall Street Rabu (16/9): Nasdaq dan S&P 500 Menguat Jelang Keputusan Bunga The Fed


Rabu, 16 September 2026 / 21:39 WIB
Wall Street Rabu (16/9): Nasdaq dan S&P 500 Menguat Jelang Keputusan Bunga The Fed
ILUSTRASI. Wall Street - Bursa Amerika Serikat (REUTERS/Kylie Cooper)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah mengalami penurunan selama dua sesi sebelumnya.

Pergerakan pasar ditopang oleh penurunan harga minyak di tengah investor yang menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Melansir Reuters, pukul 09.38 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average justru turun 99,26 poin atau 0,19% menjadi 51.993,85.

Sementara itu, S&P 500 naik 13,50 poin atau 0,19% ke level 7.599,84 dan Nasdaq Composite menguat 111,71 poin atau 0,43% menjadi 26.093,28.

Baca Juga: Menakar Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap Pergerakan IHSG

Pergerakan Wall Street berlangsung di tengah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, tekanan inflasi, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana ke aset berisiko.

Keputusan suku bunga The Fed dijadwalkan diumumkan pada pukul 14.00 waktu setempat. Selain keputusan kebijakan, pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek inflasi dan arah suku bunga selanjutnya.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai hampir 93%. Namun, sejumlah investor menilai ekspektasi tersebut masih menghadapi ketidakpastian.

"Kami menilai pricing pasar untuk kenaikan suku bunga mungkin terlalu percaya diri," ujar Yung-Shin Kung, Head dan Chief Investment Officer Mast Investments.

Menurut Kung, kenaikan suku bunga belum tentu menjadi instrumen yang efektif untuk mengatasi sumber utama tekanan inflasi saat ini, termasuk tarif perdagangan dan lonjakan investasi infrastruktur kecerdasan artifisial (AI).

Baca Juga: Morgan Stanley Alihkan Dana US$ 10 Miliar dari Reksadana ke ETF

Harga minyak turun, saham energi tertekan

Penurunan harga minyak menjadi salah satu katalis yang memberikan ruang bagi pasar saham AS. Harga minyak melemah setelah laporan mengenai tambahan pasokan minyak mentah Arab Saudi melalui Oman meredakan kekhawatiran terhadap skala gangguan pasokan di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent turun 1,1% menjadi US$107,55 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,9% menjadi US$103,82 per barel.

Penurunan harga minyak justru menekan saham sektor energi. Indeks energi S&P 500 menjadi sektor dengan kinerja terburuk, turun 2,1%.

Saham Devon Energy dan ConocoPhillips masing-masing terkoreksi lebih dari 3%.

Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap suku bunga memimpin penguatan. Indeks utilitas naik 0,6%, sedangkan indeks real estat menguat 0,4%.

Baca Juga: OJK Jatuhkan Denda ke Emiten Grup Salim (ROTI) dan Bakrie (BNBR), Ini Alasannya

Saham teknologi bergerak mixed

Saham teknologi bergerak bervariasi. Meta Platforms naik 1,1%, sementara Microsoft terkoreksi tipis. Nvidia dan Apple juga bergerak menguat tipis.

Sentimen terhadap sektor teknologi masih dibayangi seruan sejumlah petinggi perusahaan AI agar pengembangan teknologi tersebut dilakukan lebih lambat.

Namun, belum terdapat gambaran jelas mengenai bagaimana perlambatan tersebut akan diterapkan sehingga dampaknya terhadap prospek sektor teknologi masih belum pasti.

Di sisi lain, saham Intel melonjak 5,6% setelah muncul laporan bahwa SK Hynix tengah melakukan pembicaraan dengan perusahaan tersebut terkait produksi chip memori di AS.

Saham SK Hynix yang tercatat di AS juga menguat 2,5%.

Pergerakan Wall Street menunjukkan, investor masih mempertahankan minat terhadap aset berisiko meski terdapat sejumlah tekanan dari inflasi, imbal hasil obligasi dan ketegangan geopolitik.

"Pasar ini sangat tangguh. Ada banyak alasan bagi pasar untuk terkoreksi secara signifikan, tetapi hal itu belum terjadi," kata Adam Sarhan, Director MarketTerminal.com.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Naik Rabu (16/9) Jelang Keputusan The Fed, Minyak Mulai Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×