kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Wall Street Lesu: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Terseret Ketegangan di Timur Tengah


Kamis, 04 Juni 2026 / 05:15 WIB
Wall Street Lesu: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Terseret Ketegangan di Timur Tengah
ILUSTRASI. Wall Street tertekan dengan tiga indeks utama ditutup melemah


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street melemah dari rekor tertinggi karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi dan meyakinkan investor untuk mengambil sebagian keuntungan.

Rabu (4/6/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 620,72 poin atau 1,21% menjadi 50.687,07, indeks S&P 500 melemah 56,06 poin atau 0,74% ke 7.553,72 dan indeks Nasdaq Composite melemah 239,92 poin atau 0,89% ke 26.853,98.

Dari 11 sektor utama pada indeks S&P 500, sektor teknologi dan keuangan mengalami penurunan terbesar. Saham energi, yang didukung oleh harga minyak, menikmati kenaikan persentase terbesar.

Ketiga indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di wilayah negatif, tertekan oleh sektor keuangan dan teknologi, dengan indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 berkinerja lebih buruk dibandingkan indeks saham berkapitalisasi besar.

Baca Juga: Naik Hampir 800%, Hari Ini (4/6) Cum Dividen Saham Perusahaan Sawit Sinar Mas (SMAR)

Walau begitu, saham Chips naik 1,4%, menunjukkan antusiasme terhadap kecerdasan buatan masih hidup dan kuat. Meskipun demikian, enam dari tujuh saham raksasa terkait AI – berakhir lebih rendah. Meta Platforms adalah satu-satunya yang naik, – naik 4,2%.

"Saham-saham AI diperdagangkan di dunia mereka sendiri yang sepenuhnya terpisah, sebagian besar mengabaikan risiko makro dan geopolitik, setidaknya dalam batas wajar," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky. 

"Oleh karena itu, akan ada permintaan untuk saham-saham tersebut, terutama pada hari-hari di mana saham-saham lain terlihat sedikit kurang menarik."

Indeks S&P Software & Services, yang terpukul dalam beberapa bulan terakhir akibat kekhawatiran akan "gangguan AI," merosot 4,0%.

Permusuhan di Timur Tengah meningkat seiring dengan dimulainya kembali serangan udara antara AS dan Iran, yang merupakan ujian terbaru bagi gencatan senjata yang rapuh.

Harga minyak naik, menambah kekhawatiran bahwa tekanan kenaikan harga energi dapat meluas menjadi inflasi sistemik yang lebih luas.

"Pasar ini terus menunjukkan tarik-menarik antara fundamental ekonomi AS, yang sangat positif, dan kekhawatiran bahwa lamanya konflik di Timur Tengah akan menyebabkan risiko penurunan," kata Bill Northey, direktur investasi senior di U.S. Bank Wealth Management, Billings, Montana. 

"Kerangka kerja kami berpusat pada lamanya penutupan Selat Hormuz sebagai masukan utama untuk ekspektasi inflasi."

Baca Juga: INKP Siapkan Dana Rp2,35 Triliun untuk Lunasi Obligasi dan Sukuk Jatuh Tempo

"Semakin lama durasi penutupan itu, semakin kecil kemungkinan Federal Reserve dapat melonggarkan kebijakan moneter pada tahun 2026," tambah Northey.

Faktanya, pasar keuangan memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 41,1% pada akhir pertemuan Federal Reserve AS bulan Desember, naik dari 9,1% sebulan yang lalu, menurut alat FedWatch CME.

Presiden Federal Reserve New York John Williams menegaskan kembali posisinya bahwa bank sentral tidak perlu mengubah suku bunga meskipun ada risiko inflasi yang meningkat, dengan menyatakan bahwa kebijakan moneter "berada di tempat yang tepat."

Data ekonomi menunjukkan pasar tenaga kerja stabil, dan sektor jasa terus berkembang, tetapi harga input tetap tinggi dan rencana pengeluaran perusahaan tampak lemah di tengah kenaikan biaya energi dan ketidakpastian geopolitik.

Laporan Beige Book, survei ekonomi regional Federal Reserve, menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat dalam beberapa minggu terakhir, lapangan kerja sedikit berubah, tetapi dampak dari kenaikan harga energi akibat perang sangat terasa.

Di antara produsen chip, Marvell, Intel, Qualcomm, dan Sandisk naik antara 3,7% dan 6,7%.

Sedangkan saham Broadcom turun 4,5% dalam perdagangan setelah jam kerja reguler setelah melaporkan hasil keuangan.

Baca Juga: Reli Wall Street Terhenti Rabu (3/6), Ketegangan Timur Tengah Picu Aksi Ambil Untung

Saham emiten aset manajemen turun setelah Partners Group Swiss membatasi penarikan dari dana ekuitas swasta senilai US$ 8,6 miliar. Di mana saham KKR, Blackstone, Blue Owl, dan Ares Management turun antara 3,9% dan 4,2%.

Sedangkan saham GameStop melonjak 6,0% setelah saham meme asli tersebut membukukan kenaikan pendapatan triwulanan dan meluncurkan program pembelian kembali saham senilai US$ 2 miliar.

SpaceX milik Elon Musk berencana untuk menetapkan harga IPO-nya sebesar US$ 135 per saham untuk mengumpulkan dana dengan nilai mencapai US$ 75 miliar, kata sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters pada hari Selasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×