Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar tengah menanti keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pada 15-16 September 2026. Hasilnya akan diumumkan Rabu pukul 14.00 waktu Washington, atau sekitar pukul 01.00 WIB Kamis (17/9/2026) dini hari.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan kali ini telah mencapai 92,5%. Kenaikan suku bunga global tersebut tentunya akan membawa dampak ke pasar saham domestik yang tercermin dari IHSG.
IHSG pada Rabu (16/9/2026) ditutup melemah 0,26% di level 6.444,49. Dan dalam lima hari IHSG ditutup melemah 3,64%.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya menjabarkan proyeksi arah IHSG dalam jangka pendek, menengah, dan panjang jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga acuannya.
Baca Juga: Harga Minyak Kian Memanas, Begini Dampaknya ke Harga Emas
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap IHSG masih ada tapi terbatas.Pasalnya, kenaikan 25 bps menuju kisaran 3,75%-4,00% sudah hampir sepenuhnya tercermin dalam ekspektasi pasar, dengan tingkat priced-in sekitar 92%.
"Kenaikan suku bunga atau hike itu sendiri bukan lagi kejutan. Yang benar-benar menentukan arah justru bukan angka bunganya, melainkan sinyal ke depan, mulai dari apakah ini kenaikan sekali lalu berhenti, atau awal dari siklus pengetatan baru. Nada Kevin Warsh dan proyeksi The Fed lah yang akan menggerakkan pasar," kata Hendry kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Untuk jangka menengah, Hendry menilai arah IHSG akan sangat bergantung pada pergerakan rupiah dan daya tarik yield Surat Utang Negara. Selama imbal hasil US Treasury bertahan di kisaran 5%, selisihnya dengan obligasi Indonesia akan makin menyempit, sehingga insentif dana asing untuk masuk ke pasar domestik berkurang.
Pelemahan rupiah yang sudah menyentuh level Rp 17.694 per dolar AS juga membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI). Selama BI masih harus fokus menjaga stabilitas rupiah dan belum bisa memangkas suku bunga, sektor perbankan yang menjadi motor utama IHSG diperkirakan masih akan tertekan. Tekanan ini belum akan cepat mereda selama harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel dan yield UST di kisaran 5%.
Sementara itu, Hendry menekankan dalam jangka panjang, penggerak utama IHSG bukan lagi kebijakan The Fed, melainkan fundamental domestik. Tekanan dari siklus pengetatan The Fed dinilai bersifat sementara dan berpotensi mereda begitu harga minyak turun dan siklus kenaikan bunga berakhir. Setelah itu, arah IHSG akan kembali ditentukan oleh kredibilitas fiskal di bawah nakhoda baru Kemenkeu, pertumbuhan laba emiten, dan arus dana masuk.
"Penting dicatat, IHSG sudah terkoreksi sekitar 25% sepanjang tahun ini, valuasi yang secara historis sudah murah, dan ini justru membangun margin of safety bagi investor dengan horizon panjang," ujar Hendry.
Hendry juga memaparkan tiga skenario pergerakan IHSG pasca keputusan The Fed. Dalam skenario pesimis, IHSG berpotensi turun ke kisaran 6.000-6.150, jika The Fed bernada hawkish dan mengisyaratkan kenaikan lanjutan pada Desember, yield UST melonjak lebih tinggi, harga minyak kembali naik, rupiah menembus Rp18.000, dan terjadi outflow asing yang deras.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.696 Per Dolar AS Hari Ini (16/9), Asia Perkasa
Untuk skenario moderat yang paling memungkinkan, IHSG bergerak konsolidasi di kisaran 6.290–6.460. Ini skenario di mana hike terjadi sesuai ekspektasi dengan nada 'sekali lalu berhenti', sehingga pasar bergerak menyamping tanpa tekanan tambahan berarti.
Adapun untuk skenario optimis, IHSG bisa memantul ke 6.650–6.800. Pemicunya nada The Fed yang lebih lunak, sinyal damai geopolitik seperti kesepakatan Amerika Serikat–Iran atau Ukraina yang menurunkan harga minyak ke bawah 90 dolar, dan yield UST yang mundur dari level 5%.
"Untuk saat ini, bisa condong ke pesimis hingga moderat, selama harga minyak bertahan di atas 100 dolar dan yield UST bertengger di 5%," ucap Hendry.
Tekanan Outflow Asing
Di sisi lain Hendry mengingatkan, tekanan outflow dana asing masih nyata. Sebab, ketika yield UST berada di level 5%, daya tarik aset negara berkembang seperti Indonesia otomatis tergerus. Selama selisih yield menyempit dan rupiah masih lemah, investor asing memiliki alasan struktural untuk merotasi dananya keluar dari pasar domestik.
Meski demikian, Hendry melihat ruang untuk aksi jual lanjutan kini makin terbatas, mengingat sebagian besar dana asing yang rentan sudah lebih dulu keluar selama koreksi tahun ini. "Tekanan ada, tapi momentum terburuknya kemungkinan sudah lewat," ujarnya.
Dus, Hendry menyarankan investor untuk tidak sibuk menebak keputusan The Fed, melainkan lebih fokus membaca reaksi pasar setelahnya. Sebab kenaikan suku bunga sudah diperhitungkan, yang lebih krusial justru proyeksi The Fed ke depan dan nada The Fed.
Baca Juga: Segini Cuan Morgan Stanley Jual Saham GOTO di Bawah Harga Pasar
Ia merekomendasikan investor memantau tiga indikator kunci sebagai penentu arah, antara lain yield UST dengan patokan 5%, nilai tukar rupiah dengan patokan Rp18.000, serta harga minyak dengan patokan US$ 100 per barel. Jika ketiga indikator tersebut mulai mereda, hal itu bisa menjadi sinyal pembalikan arah pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














