Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dua pekan pada Rabu (16/9), menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga, tetapi arah dolar setelah keputusan tersebut masih menjadi tanda tanya.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, naik 0,1% ke 99,71. Posisi ini mendekati level tertinggi dua pekan di 99,865.
Dalam lima sesi perdagangan terakhir, indeks dolar telah menguat hampir 1%. Namun, pelaku pasar cenderung menahan posisi besar menjelang pengumuman The Fed karena arah pergerakan dolar akan sangat dipengaruhi oleh sinyal kebijakan setelah keputusan suku bunga.
Baca Juga: Pidato Lengkap Gubernur The Fed Lisa D. Cook (15/7): Prospek Ekonomi
Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%. Kenaikan tersebut bahkan sudah banyak tercermin dalam harga pasar.
"Pasar sudah sangat mengantisipasi kenaikan suku bunga," kata Kirstine Kundby-Nielsen, analis valas senior Danske Bank.
Kondisi tersebut membuat respons dolar terhadap keputusan The Fed tidak otomatis mengarah ke penguatan. Jika pernyataan bank sentral dinilai kurang hawkish dibandingkan ekspektasi pasar, dolar justru berpotensi terkoreksi.
Benjamin Ford, peneliti Macro Hive, menilai ekspektasi pasar saat ini sudah sangat hawkish. Pelaku pasar bahkan memperkirakan empat kali kenaikan suku bunga hingga pertengahan 2027 dan dua kali kenaikan hingga akhir tahun ini.
Dengan ekspektasi yang sudah tinggi tersebut, ruang bagi The Fed untuk memberikan kejutan hawkish menjadi lebih terbatas. Karena itu, keputusan yang dinilai lebih lunak dari perkiraan dapat menekan dolar.
Baca Juga: Jerome Powell Ditunjuk Jadi Ketua Sementara The Fed Hingga Wars Dilantik
Di pasar mata uang utama, euro turun 0,1% menjadi US$1,1534, tidak jauh dari level terendah satu bulan di US$1,1523. Poundsterling juga melemah 0,2% menjadi US$1,3455 setelah inflasi Inggris pada Agustus meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan.
Yen Jadi Perhatian
Pergerakan yen juga menjadi perhatian pasar karena Bank of Japan (BOJ) akan mengambil keputusan suku bunga pada Jumat.
Yen sebelumnya menguat pada awal September seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang, spekulasi repatriasi modal investor Jepang, serta perhatian terhadap kemungkinan intervensi bersama Jepang dan AS. Namun, yen kembali melemah dalam beberapa sesi terakhir seiring penguatan dolar.
Data LSEG menunjukkan pasar memperkirakan peluang sekitar 80% BOJ menaikkan suku bunga pada Jumat. Pasar juga memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir Januari.
"Pergerakan yen akan terus sangat bergantung pada perbedaan suku bunga," kata David A. Meier, ekonom Julius Baer.
Julius Baer baru-baru ini menaikkan proyeksi USD/JPY menjadi 155, mencerminkan keraguan bahwa BOJ mampu memenuhi laju pengetatan kebijakan yang saat ini sudah diperhitungkan pasar.
Baca Juga: Pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed Terancam Tertunda, Apa Sebabnya?
Sementara itu, reli yuan China mulai kehilangan momentum di sekitar level 6,71 per dolar. Meski demikian, yuan masih mempertahankan sebagian besar penguatannya meski imbal hasil obligasi China berada di bawah tingkat suku bunga di sejumlah negara lain.
Di pasar aset digital, bitcoin relatif stabil di US$75.742 setelah sehari sebelumnya anjlok sekitar 4%. Penurunan terjadi setelah Senat AS tidak melanjutkan pembahasan legislasi komprehensif terkait cryptocurrency, yang menjadi pukulan bagi perusahaan aset digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














