Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan serangan yang sempat mengancam stabilitas kawasan.
Sentimen positif tersebut mendorong investor kembali masuk ke pasar saham setelah beberapa pekan dibayangi risiko eskalasi konflik.
Pada perdagangan pukul 09.41 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,54% ke 52.154,45. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,80% menjadi 7.413,02 dan Nasdaq melonjak 1,34% ke level 25.637,39.
Optimisme pasar muncul setelah tim teknis AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Doha dalam beberapa hari mendatang untuk membahas implementasi kesepakatan damai sementara.
Baca Juga: Wall Street Menguat 1% Lebih Dipicu Reli Saham Chip Jelang Laporan Nvidia
Langkah diplomatik tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan harga minyak akibat konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati mengingat proses negosiasi damai sebelumnya beberapa kali mengalami hambatan.
"Ada beberapa awal yang gagal dalam perundingan damai. Sebagian besar pelaku pasar kemungkinan masih akan menunggu perkembangan lebih lanjut sepanjang pekan ini," ujar Pendiri Andersen Capital Management, Peter Andersen.
Dari sisi sektoral, delapan dari sebelas sektor utama dalam indeks S&P 500 bergerak di zona hijau. Sektor layanan komunikasi memimpin kenaikan dengan lonjakan 2,6%.
Pendorong utama sektor tersebut adalah saham Comcast yang melesat 9,8% setelah perusahaan mengumumkan rencana pemisahan bisnis menjadi dua perusahaan publik independen melalui spin-off bebas pajak untuk unit NBCUniversal dan Sky.
Baca Juga: Wall Street Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun Tajam
asar juga mulai mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartal II-2026 yang akan dimulai dalam beberapa pekan mendatang. Kinerja laba emiten dinilai menjadi penentu arah pasar berikutnya setelah reli panjang yang terjadi dalam setahun terakhir.
Kepala Strategi Saham AS Goldman Sachs, Ben Snider, menilai kenaikan sekitar 21% indeks S&P 500 dalam 12 bulan terakhir terutama ditopang oleh pertumbuhan laba perusahaan. Karena itu, musim laporan keuangan mendatang akan menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar selanjutnya.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap besarnya belanja investasi kecerdasan buatan (AI) masih membayangi pasar.
Pekan lalu, sentimen tersebut memicu aksi jual pada saham-saham teknologi besar dan sektor semikonduktor sehingga menyeret Nasdaq dan S&P 500 ke zona negatif dalam sepekan.
Namun pada perdagangan Senin, sektor teknologi informasi berhasil bangkit dengan kenaikan 0,8% dan berpeluang mengakhiri tren pelemahan selama lima sesi berturut-turut.
Baca Juga: Wall Street Melesat, Dow Jones Cetak Rekor Baru Usai AS-Iran Capai Kesepakatan Awal
Investor juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar saat ini memperkirakan bank sentral AS masih berpotensi menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi tahun ini untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Ekspektasi tersebut kemungkinan akan kembali dievaluasi setelah data ketenagakerjaan AS periode Juni dirilis pekan ini.
Di luar itu, saham SpaceX naik 2,3% setelah Nasdaq mengumumkan perusahaan tersebut akan masuk ke dalam indeks Nasdaq 100 mulai 7 Juli mendatang.
Sementara itu, saham Martin Marietta Materials anjlok 5% setelah perusahaan mengumumkan merger dengan pemasok batu kapur Lhoist North America dalam transaksi senilai US$ 13,5 miliar.
Adapun saham Viridian Therapeutics melonjak 6,6% setelah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk obat terapi penyakit mata akibat gangguan tiroid.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik masih lebih banyak dibandingkan yang turun, menandakan sentimen pasar cenderung positif meskipun investor tetap menunggu kepastian dari perkembangan geopolitik, musim laporan keuangan, dan data ekonomi AS dalam beberapa hari ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














