kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

Dibayangi Risiko Tekanan Harga hingga Produksi, Simak Rekomendasi Saham BRMS


Rabu, 19 Agustus 2026 / 18:57 WIB
Dibayangi Risiko Tekanan Harga hingga Produksi, Simak Rekomendasi Saham BRMS
ILUSTRASI. Bumi Resources Minerals (BRMS) mengalami penurunan kinerja pada semester I – 2026, dengan pendapatan turun 20% (Dok/BRMS)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals (BRMS) mengalami penurunan kinerja pada semester I – 2026. Pemulihan produksi hingga harga komoditas menjadi faktor penentu kinerja  

BRMS membukukan pendapatan sebesar US$ 95,79 juta pada semester I – 2026, turun 20,7% secara year on year (YoY). Laba bersih juga menurun 43,75% YoY menjadi sebesar US$ 12,92 juta. 

Hasan Barakwan, Analis Maybank Sekuritas mengatakan, realisasi produksi dan kadar bijih emas yang di bawah ekspektasi menyebabkan capaian laba jauh meleset dari perkiraan. Hasan menyoroti BRMS yang pada kuartal II – 2026 mencatatkan kerugian bersih sebesar US$ 4,6 juta, berbalik dari posisi laba sebesar US$ 17,5 juta pada kuartal I – 2026 dan US$ 8,5 juta pada kuartal II – 2025.

Pendapatan juga turun 62,1% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) menjadi US$ 26,3 juta. Sementara EBITDA merosot 80,8% secara QoQ menjadi US$ 5,9 juta. 

Baca Juga: Persiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, OJK Lantik Deputi Komisioner Baru

“Margin EBITDA menyusut menjadi 21,6% dan margin laba bersih (NPM) berubah menjadi negatif di angka -17,6%, dengan beban bunga yang lebih tinggi turut memberikan tekanan tambahan sepanjang semester I – 2026,” ujar Hasan dalam risetnya pada 3 Agustus 2026.

Hasan mencatat secara operasional, volume penjualan emas pada kuartal II – 2026 turun 57,4% secara kuartalan (QoQ) menjadi 6.301 ons. Sementara kadar rata-rata menurun menjadi 0,9 gram per ton (g/t) dari 1,4 g/t pada kuartal I – 2026.

Harga jual rata-rata (ASP) emas juga melemah 8,3% QoQ menjadi US$ 4.138 per troy ons. Sehingga harga yang lebih tinggi tidak mampu mengimbangi metrik produksi yang lebih lemah. 

Adapun, untuk semester I – 2026, volume penjualan turun 45,9% secara tahunan (YoY) menjadi 21.091 ons dan kadar turun 23,3% YoY menjadi 1,2 g/t, meskipun harga jual rata – rata (ASP) naik 44,5% YoY menjadi US$ 4.400 per troy ons. 

“Pemulihan yang signifikan pada volume dan kadar diperlukan pada semester II – 2026 untuk mengejar target kinerja setahun penuh,” terang Hasan. 

Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana menyoroti kesepakatan offtake strategis yang dilakukan BRMS. Untuk mengatasi tantangan dalam penjualan emas domestik—di mana eksportir semakin membanjiri pasar lokal—BRMS menandatangani perjanjian strategis untuk menjual sebagian besar produksi emasnya kepada PT Aneka Tambang (Persero) (ANTM), perjanjian ini berlaku hingga Juni 2028. 

“Kami memperkirakan langkah ini akan sedikit meringankan tekanan akibat masuknya pasokan emas ke pasar,” ujar Ashalia dalam risetnya pada 5 Agustus 2026. 

Baca Juga: FTSE dan MSCI Masih Rem Pasar Indonesia, Asing Bakal Menjauh?

Selain itu, di tengah perubahan geopolitik yang terus berlangsung dan harga emas global yang melandai, Ashalia merevisi asumsi rata-rata harga emas untuk tahun fiskal 2026 hingga 2028 menjadi US$ 4.400 per troy ons pada tahun 2026, US$ 4.450 per troy ons pada tahun 2027, dan US$ 4.500 per troy ons pada tahun 2028.  

Ke depannya, Ashalia melihat dua katalis utama yang mendasari lintasan pertumbuhan BRMS. Pertama peningkatan kapasitas pabrik carbon-in-leach (CIL) pertama di Citra Palu Mineral dari 500 menjadi 2.000 ton per hari (tpd), yang ditargetkan rampung pada akhir Oktober 2026.

Kedua, proyek penambangan bawah tanah, yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun 2027 dan diharapkan menghasilkan kadar emas lebih tinggi di kisaran 3,5–4,9 g/t.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Oktavianus Harahap mengatakan, masa sulit telah berlalu bagi BRMS. Menurutnya, masalah kelebihan pasokan domestik yang telah teratasi mulai kuartal III – 2026 karena adanya kerja sama dengan ANTM. Ia juga memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang kuat pada kuartal IV – 2026 yang didukung oleh pabrik CIL yang ditingkatkan menjadi 2.000 ton per hari.

“Kami memperkirakan laba bersih kuartal III – 2026 akan pulih menjadi US$ 25 juta,” ucap Juan saat dikonfirmasi Kontan, Rabu (19/8/2026). 

 

Meski begitu, Hasan mengatakan terdapat sejumlah potensi risiko yang perlu dicermati. Antara lain, penundaan proyek dimana keterlambatan dalam perluasan fasilitas dapat berdampak pada proyeksi pertumbuhan.

Lalu, fluktuasi harga emas karena penurunan harga emas akan mengurangi pendapatan dan laba. Serta risiko regulasi yakni perubahan kebijakan yang dapat meningkatkan biaya atau membatasi kegiatan operasional

Hasan memproyeksikan pendapatan dan laba bersih BRMS pada tahun 2026 masing – masing sebesar US$ 243 juta dan US$ 15 juta. Proyeksi ini lebih rendah dari realisasi pendapatan tahun 2025 yang sebesar US$ 249,35 juta dan laba bersih sebesar US$ 50,09 juta. 

Hasan merekomendasikan hold saham BRMS dengan target harga Rp 610 per saham. Sementara Ashalia dan Juan merekomendasikan Buy saham BRMS dengan target harga masing – masing Rp 750 per saham dan Rp 900 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×