kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   -50.000   -1,73%
  • USD/IDR 16.995   46,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Wall Street Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun Tajam


Selasa, 24 Maret 2026 / 06:05 WIB
Wall Street Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun Tajam
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street ditutup menguat lebih dari 1% pada perdagangan Senin (23/3/2026), didorong penurunan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik Iran.

Kenaikan ini menandai pemulihan tajam pasar saham AS setelah sempat tertekan pada pekan sebelumnya.

Sentimen positif muncul usai Trump menyebut penundaan dilakukan setelah pembicaraan produktif dengan Teheran, meski klaim tersebut dibantah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf yang menyatakan tidak ada negosiasi dengan AS.

Baca Juga: Wall Street Naik Setelah Trump Tunda Serangan ke Jaringan Pembangkit Listrik Iran

Pasar sempat bergerak fluktuatif di awal sesi karena kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama terkait ancaman serangan terhadap infrastruktur listrik Israel dan Iran. Namun, penurunan harga minyak lebih dari 10% menjadi katalis utama penguatan saham.

Dow Jones Industrial Average naik 1,38% ke level 46.208,47. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,15% ke 6.581,00 dan Nasdaq Composite melonjak 1,38% ke 21.946,76. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak awal Februari.

Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan pasar, turun ke 26,15 setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan.

Seluruh sektor dalam S&P 500 ditutup di zona hijau, dengan sektor siklikal memimpin penguatan. Sektor consumer discretionary mencatat kenaikan terbesar, sementara sektor defensif seperti kesehatan dan kebutuhan pokok bergerak lebih terbatas.

Baca Juga: Wall Street Melemah, Kekhawatiran Timur Tengah Mendorong Kenaikan Harga Minyak

Pelaku pasar menilai pergerakan saham saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak.

“Dalam jangka pendek, semuanya bergantung pada harga minyak. Saat minyak turun, saham naik, dan sebaliknya,” kata Chief Investment Officer Crossmark Global Investments.

Saham-saham yang sensitif terhadap harga energi mencatat kenaikan signifikan. Emiten maskapai seperti Alaska Air dan United Airlines naik lebih dari 4%, sementara American Airlines menguat 3,66%.

Perusahaan kapal pesiar juga melonjak, dengan Norwegian Cruise Line naik lebih dari 6%, diikuti Carnival dan Viking Holdings yang menguat lebih dari 5%.

Sektor perbankan ikut pulih setelah sempat tertekan akibat konflik. Indeks perbankan S&P 500 naik lebih dari 1%, menjadi kenaikan harian terbesar sejak akhir Februari. Saham JPMorgan Chase dan Goldman Sachs masing-masing menguat 1,2% dan 2,2%.

Baca Juga: Wall Street Melemah Usai Trump Nominasikan Kevin Warsh Sebagai Ketua The Fed Baru

Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS juga menurun. Pelaku pasar kini hanya melihat peluang sekitar 13% untuk kenaikan suku bunga pada Desember, turun dari lebih dari 25% pada sesi sebelumnya.

Selain itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 mengungguli indeks utama dengan kenaikan 2,3%, menandakan meningkatnya minat investor terhadap aset yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi.

Sepanjang pekan ini, investor akan mencermati pernyataan pejabat bank sentral AS, data aktivitas bisnis, serta indikator kepercayaan konsumen untuk membaca arah kebijakan moneter dan prospek ekonomi ke depan.

Baca Juga: Wall Street Memerah usai Donald Trump Calonkan Kevin Warsh Sebagai Ketua The Fed

Secara keseluruhan, volume transaksi di bursa AS mencapai sekitar 20,94 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×