Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bisa bergerak lebih stabil dengan penahanan suku bunga Bank Indonesia (BI) hingga akhir tahun 2026.
BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19 Agustus 2026.
Di tengah pengumuman tersebut, IHSG melemah 0,86% atau terpangkas 55 poin ke level 6.394,12 pada penutupan perdagangan Rabu. Aliran dana asing juga keluar Rp 488,49 miliar di pasar reguler hari ini.
Sementara, sejak awal tahun 2026, IHSG sudah turun 26,05% year to date dan aliran dana asing keluar Rp 97,65 triliun YTD di pasar reguler.
Baca Juga: Prospek Emas, Perak dan Platinum hingga Akhir 2026, Mana Paling Menjanjikan?
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, pelemahan IHSG hari ini lebih didorong oleh sentimen sell on news.
Meskipun begitu, sentimen yang lebih penting dari keputusan BI rate adalah kebijakan alias forward guidance terkait komitmen stabilitas rupiah dan perluasan insentif untuk menarik arus dana asing.
“Kedua hal tersebut merupakan sinyal positif jangka panjang,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, respons pasar cenderung netral hingga positif terbatas dengan penahanan suku bunga BI di bulan Agustus 2026 ini. Sebab, keputusan tersebut relatif sudah diantisipasi.
Fokus investor akan bergeser pada guidance BI, terutama terkait stabilitas rupiah, likuiditas, dan arah suku bunga berikutnya. Dari sisi kepemimpinan, pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI cukup meredakan ketidakpastian karena berasal dari internal BI dan sudah dikenal pasar.
“Namun, isu independensi BI tetap akan menjadi perhatian ke depan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.
IHSG ke depan lebih akan tersengat sentimen keputusan MSCI pada November 2026 lantaran ada probabilitas suku bunga BI dipangkas dalam waktu dekat.
Wafi mengatakan, IHSG bisa bergerak di level 6.000-6.500 pada akhir tahun 2026. Sebab, untuk IHSG menyentuh ke atas 6.500 pada akhir 2026, dibutuhkan arus masuk dana asing.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham JPFA, BBRI, ITMG untuk Kamis (20/8)
Sektor perbankan masih unggul hingga akhir 2026 lantaran pertumbuhan CASA dan NIM terjaga. Saham yang tertekan ke depan adalah para emiten yang masuk list high concentration list (HSC) pasca rebalancing MSCI Agustus.
“Rotasi sektor saham tidak dramatis dan market masih wait and see menjelang RAPBN, MSCI November, dan konflik geopolitik,” ungkapnya.
Wafi menyarankan investor mencermati saham BBCA, BMRI, ADRO, dan PTBA.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pasca penahanan suku bunga di 5,75% pada Agustus ini, aliran dana asing di pasar saham ke depan masih terbatas dan selektif ke big caps.
“Sektor perbankan neutral selektif. Butuh waspada di bank-bank yang likuiditasnya ketat, terutama bank-bank BUMN,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.
Ekky menjelaskan, kenaikan suku bunga BI lebih cenderung terjadi dibandingkan penurunan suku bunga hingga akhir tahun 2026, terutama apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.
Dalam kondisi tersebut, target IHSG dari Ekky hingga akhir 2026 berada di level 6.936, dengan asumsi stabilitas makro tetap terjaga dan tekanan eksternal tidak memburuk signifikan.
Dari sisi sektoral, sektor yang relatif menarik dalam skenario BI menahan suku bunga adalah perbankan berkapitalisasi besar, properti, consumer discretionary, dan telekomunikasi.
“Bank besar dengan CASA kuat, cost of fund rendah, dan kualitas aset yang baik, seperti BBCA dan BMRI, relatif lebih mampu menjaga margin dan menangkap pertumbuhan kredit,” ungkapnya.
Sektor properti juga berpotensi mendapat sentimen positif karena keputusan hold mengurangi risiko kenaikan biaya KPR dan pendanaan developer.
Namun, rerating yang lebih kuat kemungkinan baru terjadi ketika pasar mulai yakin bahwa siklus kenaikan suku bunga telah berakhir.
“Sementara itu, sektor seperti multifinance, konstruksi, bank dengan cost of fund tinggi, serta emiten dengan leverage besar masih perlu lebih selektif,” paparnya.
Hingga akhir 2026, rotasi sektoral masih berpotensi terjadi. Jika rupiah stabil dan risiko kenaikan BI-Rate mereda, aliran dana dapat bergeser ke perbankan, properti, consumer discretionary, dan telekomunikasi.
“Sebaliknya, apabila BI kembali menaikkan bunga, investor cenderung kembali memilih quality banks, dividend stocks, dan saham komoditas yang lebih defensif,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














