Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026) setelah tekanan jual berbasis saham teknologi pada sesi sebelumnya.
Pemulihan pasar terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dari level tertinggi dalam beberapa dekade, sementara investor mencermati sejumlah perkembangan korporasi dan prospek kebijakan Federal Reserve.
Saham Moderna melonjak lebih dari dua kali lipat setelah perusahaan vaksin tersebut melaporkan hasil positif uji klinis tahap akhir untuk terapi kanker berbasis mRNA yang dikembangkan bersama Merck. Terapi personalisasi tersebut dinilai mampu menurunkan risiko kambuh dan penyebaran melanoma.
Kabar tersebut turut mengangkat saham Merck hingga 9,6% dan memberikan dorongan bagi indeks Dow Jones. Saham perusahaan bioteknologi lainnya juga menguat. Novavax naik 6,8%, sedangkan saham BioNTech yang tercatat di AS melonjak 17,5%.
Sektor kesehatan S&P 500 menjadi sektor dengan kinerja terbaik. Indeks sektor kesehatan naik 2,7% dan mencetak rekor tertinggi, sekaligus menjadi penguat terbesar di antara sektor-sektor dalam indeks acuan tersebut.
Saham Teknologi Masih Tertekan
Di sisi lain, pergerakan saham teknologi masih menjadi perhatian investor. Saham Marvell Technologies melonjak sekitar 9% setelah produsen chip tersebut menerbitkan waran kepada Google untuk membeli saham senilai sekitar US$12,18 miliar.
Baca Juga: Harga Minyak Dekati Level Tertinggi 3 Minggu, Ketidakpastian Selat Hormuz Menyelimuti
Namun, saham Broadcom turun lebih dari 4% setelah kesepakatan tersebut. Pelemahan Broadcom turut menekan indeks Philadelphia SE Semiconductor yang turun 0,7%. Saham teknologi dalam indeks S&P 500 juga melemah 0,4% sehingga membatasi penguatan pasar secara keseluruhan.
Pada perdagangan Selasa, saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mengalami tekanan jual tajam. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa dekade memicu kekhawatiran investor mengenai membengkaknya utang pemerintah serta ketegangan geopolitik yang turut mengguncang pasar obligasi.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun kemudian turun dari level tertinggi sejak 2007. Penurunan tersebut terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan skala operasi pembelian kembali obligasi untuk surat utang berjangka panjang guna meningkatkan likuiditas pasar.
Imbal hasil Treasury 30 tahun terakhir berada di level 5,209%.
"Sebagian besar perusahaan teknologi dihargai terutama berdasarkan ekspektasi laba di masa depan. Ketika suku bunga naik, ekspektasi tersebut menjadi kurang bernilai dan saham-saham tersebut juga menjadi kurang bernilai," kata Robert Pavlik, senior portfolio manager di Dakota Wealth.
Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq Menguat
Pada pukul 09.36 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 119,94 poin atau 0,22% menjadi 53.463,34. Indeks S&P 500 bertambah 28,48 poin atau 0,37% menjadi 7.720,24.
Sementara itu, Nasdaq Composite naik 67,17 poin atau 0,26% menjadi 26.356,89.
Investor juga mencermati laporan kinerja kuartalan perusahaan ritel untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi konsumen AS.
Saham Target naik 3,3% setelah perusahaan menaikkan proyeksi penjualan tahunan. Saham Lowe's juga menguat 1,8% meskipun perusahaan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan tahunannya.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,86% ke 6.394, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing, Rabu (19/8)
Saham Estee Lauder melonjak lebih dari 14% setelah produsen kosmetik tersebut memproyeksikan laba tahunan di atas ekspektasi Wall Street.
Sementara itu, Walmart dijadwalkan merilis laporan kinerja kuartalannya pada Kamis.
Investor Cermati Kebijakan The Fed
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah pertemuan Federal Reserve AS atau The Fed pada Juli yang dijadwalkan dirilis pada hari yang sama. Risalah tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, pelaku pasar saat ini memperkirakan setidaknya terdapat satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed hingga akhir 2026. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada September telah menurun signifikan setelah data inflasi AS pekan lalu menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali.
Kondisi suku bunga menjadi perhatian penting bagi saham teknologi karena valuasi sektor tersebut sangat bergantung pada ekspektasi pertumbuhan laba di masa depan. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat membuat aset berisiko seperti saham teknologi menjadi relatif kurang menarik.
Sebelumnya, kinerja positif sejumlah sektor, termasuk perusahaan hyperscaler yang berinvestasi besar dalam kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), telah mendorong S&P 500 dan Dow Jones mencetak rekor pada awal bulan.
Namun, investor masih mempertanyakan apakah besarnya belanja AI akan segera menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak
Dari pasar komoditas, Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran. Trump juga menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, bertentangan dengan pernyataan Iran yang menyebut jalur tersebut masih ditutup bagi pelayaran.
Baca Juga: Suku Bunga BI Tetap 5,75% pada Agustus 2026, Ini Dampaknya ke IHSG
Ketegangan tersebut turut menjadi perhatian pasar energi. Harga kontrak berjangka minyak Brent naik 0,2% dan berada di sekitar level tertinggi dalam hampir tiga pekan.
Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang terus dicermati investor karena perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat memengaruhi pasokan energi global serta ekspektasi inflasi.
Di pasar saham, jumlah saham yang menguat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 3,97 banding 1 di New York Stock Exchange (NYSE) dan 2,35 banding 1 di Nasdaq.
Indeks S&P 500 mencatat delapan saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 pekan dan tidak mencatat saham baru yang mencapai level terendah. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 60 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 29 saham yang mencapai level terendah baru.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar saham AS masih menghadapi tekanan dari tingginya imbal hasil obligasi dan ketidakpastian kebijakan moneter, minat beli investor kembali muncul pada sejumlah sektor, terutama kesehatan dan perusahaan yang membukukan kinerja korporasi positif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














