kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

BI Rate Ditahan 5,75%, Rupiah Masih Berisiko Kembali ke Level Rp 18.000


Rabu, 19 Agustus 2026 / 18:59 WIB
BI Rate Ditahan 5,75%, Rupiah Masih Berisiko Kembali ke Level Rp 18.000
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% memberikan bantalan bagi nilai tukar rupiah, meski bayang-bayang tekanan eksternal masih membuka peluang mata uang Garuda kembali mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (19/8/2026) pukul 14.59 WIB, rupiah spot bergerak menguat 0,12% ke level Rp 17.840 per dolar AS. Mengutip Trading Economics, rupiah berada di level Rp 17.837,2 per dolar AS atau menguat 0,19%.

Sementara itu, data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah menguat 0,07% ke level Rp 17.844 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.856 per dolar AS.

Baca Juga: Market Mulai Kondusif, Ekonom BCA Proyeksikan BI Rate Tetap 5,75% pada RDG Agustus

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% konsisten dengan fokus otoritas moneter yang menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama.

Langkah ini memberikan sinyal kepastian kepada investor portofolio bahwa instrumen berbasis rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) masih menarik untuk memitigasi risiko capital outflow.

Meski demikian, Rahma melihat potensi tekanan eksternal masih membayangi pergerakan nilai tukar domestik dalam jangka pendek.

"Mengingat pergerakan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 17.800 – Rp 17.860 per dolar AS, risiko rupiah untuk kembali menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dinilai cukup tinggi dan terbuka lebar," ujar Rahma kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).

Menurut Rahma, secara teknikal dan psikologis pasar, jarak antara posisi saat ini dengan batas Rp 18.000 tergolong sangat sempit.

Baca Juga: Ekonom Bank Permata Sebut BI Sebaiknya Tetap Tahan BI Rate di 5,75% di RDG Agustus

Setiap sentimen negatif tambahan, baik dari penguatan indeks dolar AS (DXY) maupun lonjakan permintaan valas korporasi domestik, dapat dengan cepat mendorong rupiah melewati ambang batas tersebut.

Selain itu, dinamika kebijakan The Fed dan rilis risalah rapat FOMC menjadi fokus pasar global.

Ketegangan geopolitik di jalur perdagangan energi strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah juga berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya menekan posisi fiskal serta kebutuhan devisa impor migas nasional.

Terkait proyeksi nilai tukar hingga akhir tahun 2026, Rahma mencatat bahwa jika eskalasi ketidakpastian global dan tekanan eksternal terus mendominasi pada paruh kedua tahun ini, beberapa proyeksi alternatif menempatkan rentang rupiah di area Rp 17.200 hingga Rp 17.350 per dolar AS.

Namun, fundamental makroekonomi yang terjaga diharapkan mampu menahan kejatuhan lebih dalam.

"Secara keseluruhan, kendati tekanan eksternal dari dinamika dolar AS dan geopolitik global masih menahan potensi penguatan yang agresif, fundamental makroekonomi domestik yang relatif terjaga diharapkan mampu menjadi bantalan bagi rupiah agar tidak terperosok lebih dalam," tutur Rahma.

Baca Juga: RDG Perdana Pjs Gubernur Destry Damayanti, BI Diprediksi Tahan BI Rate di 5,75%

Sebagai langkah mitigasi di tengah volatilitas kurs, investor disarankan melakukan diversifikasi portofolio dengan mengalokasikan 10%–20% ke dalam instrumen berbasis valas (safe haven) seperti dolar AS, yen Jepang, franc Swiss, maupun emas.

Selain itu, saham emiten berorientasi ekspor komoditas pertambangan dan CPO juga menarik dicermati karena pendapatannya berdenominasi valas.

Investor pun diimbau untuk menerapkan strategi pembelian bertahap untuk meminimalkan risiko membeli di harga puncak saat pasar panik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×