kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Valas Utama Tertekan Kebijakan The Fed, Yen Jepang Paling Undervalued


Rabu, 24 Juni 2026 / 19:18 WIB
Valas Utama Tertekan Kebijakan The Fed, Yen Jepang Paling Undervalued
ILUSTRASI. JAPAN-YEN/ (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi tekanan bagi pasar valuta asing utama. Indeks dolar AS (DXY) bahkan kembali menanjak ke level 101,7 pada perdagangan Rabu (24/6/2026), menekan sejumlah mata uang utama seperti euro, yen Jepang, poundsterling, dan dolar Australia. 

Melansir Trading Economics pada Rabu (24/6) pukul 18.55 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,133, terkoreksi 2,6% dalam sebulan terakhir. Pairing valas GBP/USD di level 1,316, terkoreksi 2,54% sebulan, pasangan valas AUD/USD di level 0,690 atau melemah 3,75% dalam satu bulan. 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan penguatan DXY saat ini dipicu oleh pergeseran ekspektasi pasar yang semakin agresif terhadap kebijakan moneter The Fed.

Menurutnya, data ekonomi AS yang masih solid serta pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed membuat pelaku pasar kembali memperkirakan peluang kenaikan suku bunga lanjutan.

Baca Juga: Pelemahan Berlanjut, Kebijakan AS Pemicu Utama Tekanan pada Yen Jepang (JPY)

"Pasca rilis data ekonomi yang tangguh dan pernyataan bernada hawkish dari para pejabat The Fed, pasar kini melihat probabilitas yang jauh lebih tinggi, sekitar 70%, untuk adanya kenaikan suku bunga lanjutan pada September," ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (24/6/2026).

Ia menambahkan, meredanya ketidakpastian di sektor energi setelah membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah juga membuat perhatian investor kembali tertuju pada faktor fundamental, khususnya perbedaan tingkat suku bunga antar negara. Kondisi tersebut semakin memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar AS di mata investor global.

Sutopo menilai kebijakan higher for longer yang diusung The Fed memberikan tekanan besar terhadap mata uang utama dunia karena memperlebar selisih imbal hasil (yield spread) dengan negara lain.

Akibatnya, euro dan yen Jepang menjadi dua mata uang yang paling tertekan. Yen bahkan berada di level terlemah dalam beberapa dekade karena perbedaan kebijakan moneter yang sangat lebar antara Jepang dan AS.

"Yen Jepang terjebak di level terlemahnya sejak 1986 karena kebijakan moneter Jepang yang masih sangat akomodatif dibandingkan dengan kenaikan suku bunga di AS yang agresif," jelasnya.

Baca Juga: Yen Jepang Tertekan Kebijakan The Fed dan Politik Jepang

Di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang utama, Sutopo melihat yen Jepang saat ini sudah berada pada level yang sangat murah secara historis atau undervalued.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peluang pemulihan yen masih dibayangi risiko tinggi apabila belum ada intervensi maupun perubahan kebijakan dari Bank of Japan. Karena itu, investor ritel disarankan tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Strategi yang paling masuk akal adalah melakukan akumulasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dalam jangka panjang, bukan mencoba menangkap pisau jatuh," katanya.

Sutopo juga menekankan pentingnya manajemen risiko dengan membatasi ukuran posisi dan menghindari penggunaan leverage berlebihan, terutama menjelang sejumlah data penting seperti inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang berpotensi memicu lonjakan volatilitas pasar.

Untuk prospek hingga akhir tahun, Sutopo memperkirakan dominasi dolar AS masih akan berlanjut selama inflasi AS tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sikap hawkish. Ia memproyeksikan DXY bergerak dalam tren bullish dengan target di kisaran 102–104 hingga akhir tahun 2026.

Sementara itu, pasangan EUR/USD diperkirakan berada di rentang 1,14–1,15 dan GBP/USD bergerak pada kisaran 1,28–1,35. Adapun USD/JPY diproyeksikan tetap berada di level tinggi pada kisaran 160–164 akibat kesenjangan imbal hasil yang masih lebar.

Sedangkan AUD/USD diperkirakan bergerak pada rentang 0,67–0,73, dengan arah pergerakan yang sangat dipengaruhi oleh prospek permintaan komoditas dari China.

Baca Juga: Trump Picu Dolar AS Menguat, Yen Jepang Kian Tertekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×