kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.783   -127,00   -0,71%
  • IDX 6.365   -44,28   -0,69%
  • KOMPAS100 835   -9,48   -1,12%
  • LQ45 634   -6,17   -0,96%
  • ISSI 221   -1,24   -0,56%
  • IDX30 356   -3,64   -1,01%
  • IDXHIDIV20 434   -4,17   -0,95%
  • IDX80 95   -1,11   -1,15%
  • IDXV30 120   -0,72   -0,60%
  • IDXQ30 113   -1,42   -1,25%

IHSG Berpotensi Sideways pada Selasa (11/8), Ini Kata Analis


Senin, 10 Agustus 2026 / 17:26 WIB
IHSG Berpotensi Sideways pada Selasa (11/8), Ini Kata Analis
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin (10/8/2026) di tengah tekanan teknikal setelah sebelumnya sempat bergerak cukup tinggi hingga memasuki area jenuh beli (overbought), meskipun di saat yang sama penguatan nilai tukar Rupiah masih berlanjut dan menjadi salah satu penopang sentimen di pasar.

IHSG terkoreksi 44,01 poin atau 0,69% ke level 6.365,37. Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan sektoral yang cenderung bervariasi, di mana sektor non-siklikal mencatatkan koreksi terdalam, sementara sektor transportasi justru menjadi satu-satunya sektor yang mampu menguat cukup signifikan pada perdagangan tersebut.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, pelemahan IHSG saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal setelah reli yang terjadi sebelumnya.

Baca Juga: Bumi Arsana Mulia Borong Saham Ancora (OKAS) Rp 73,51 Miliar, Resmi Jadi Pegang 25,6%

“Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG sudah membentuk death cross di area overbought dan histogram MACD juga mulai mengalami penyempitan di zona positif, sehingga ini mengindikasikan adanya potensi konsolidasi dalam jangka pendek,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Di sisi lain, pergerakan Rupiah justru menunjukkan penguatan yang cukup solid. Pada perdagangan Senin (10/8/2026), Rupiah ditutup menguat 0,8% ke level Rp17.755 per dolar AS di pasar spot, bahkan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia pada hari tersebut.

Menurut Alrich, penguatan Rupiah tersebut didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari pelemahan dolar AS hingga respons positif pasar terhadap dinamika kebijakan di dalam negeri.

“Penguatan Rupiah juga didukung sentimen domestik, salah satunya terkait usulan Presiden Prabowo yang mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia, sehingga pasar merespons positif dari sisi ekspektasi stabilitas kebijakan,” jelasnya.

Namun demikian, dari sisi data ekonomi domestik, terdapat sejumlah indikator yang masih perlu dicermati oleh pelaku pasar. Indeks keyakinan konsumen tercatat turun untuk tiga bulan berturut-turut menjadi 116,8 pada Juli 2026, dari sebelumnya 117,8 di Juni 2026, meskipun masih berada di zona optimistis.

Di sisi lain, data penjualan sepeda motor justru menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 8,3% secara tahunan menjadi 636 ribu unit pada Juli 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,1% secara tahunan.

Alrich memproyeksikan, IHSG pada perdagangan Selasa (11/8/2026) cenderung bergerak sideways dalam rentang yang relatif terbatas seiring sinyal konsolidasi dari indikator teknikal.

“IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran 6.300 hingga 6.450, sambil menunggu katalis lanjutan dari data ekonomi maupun sentimen eksternal,” tambahnya.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, sentimen global sebenarnya masih relatif kondusif bagi pasar saham, terutama setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi.

Baca Juga: Lima ETF Emas Kompak Menguat pada Perdagangan Perdana

“Data nonfarm payroll yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan The Fed akan lebih akomodatif, sehingga ini bisa menjaga risk appetite investor di pasar global, termasuk di kawasan Asia,” katanya.

Pada perdagangan sebelumnya, indeks utama Wall Street seperti S&P 500 dan Nasdaq bahkan mencatatkan penguatan dan rekor baru, yang turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan pasar.

Selain itu, pelaku pasar dalam negeri juga menaruh perhatian pada sejumlah agenda penting, termasuk menjelang pengumuman MSCI August Index Review pada 12 Agustus 2026 yang dinilai berpotensi memengaruhi arus dana asing.

Menurut Nafan, peluang penambahan saham Indonesia dalam indeks MSCI relatif terbatas karena masih diberlakukannya kebijakan freeze. Oleh karena itu, fokus pasar lebih tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks yang sudah ada.

“Jika tidak ada kejutan negatif, hasil MSCI ini justru bisa menjadi katalis relief rally karena sebagian kekhawatiran pasar sebenarnya sudah tercermin di harga,” ujarnya.

Namun sebaliknya, jika hasilnya lebih buruk dari ekspektasi, kondisi tersebut berpotensi memicu kembali aksi jual investor asing dan menekan pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Untuk perdagangan Selasa (11/8/2026), Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak cenderung sideways dengan kisaran support di level 6.292 hingga 6.242, serta resistance di level 6.406 sampai 6.454.

“IHSG berpotensi bergerak dalam rentang terbatas sambil menunggu katalis baru, baik dari sentimen global maupun domestik,” tutupnya.

Baca Juga: Harga Saham GIAA Melejit 33%, GMFI Lakukan Kuasi Reorganisasi Jadi Rp 19

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×