kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tren konsolidasi rebound, harga minyak sulit tembus US$ 70 per barel di 2019


Jumat, 02 Agustus 2019 / 20:29 WIB
Tren konsolidasi rebound, harga minyak sulit tembus US$ 70 per barel di 2019


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga minyak di sisa 2019 saat ini berada dalam trens konsolidasi, seiring dengan berbagai sentimen yang mempengaruhi harga komoditas tersebut.

Utamanya, yakni perkembangan sentimen perang dagang antara AS dan China, serta arah kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS/The Fed).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2019 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) kemarin sempat menyentuh level US$ 53,95 per barel.

Baca Juga: Mulai naik, harga minyak masih dalam tekanan turun

Untungnya, pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (2/8), harga berhasil kembali naik 1,85% ke level US$ 54,95 per barel pada pukul 16:00 WIB.

Sekadar mengingatkan Bank Sentral Amerika Serikat (AS/The Fed) baru memangkas suku bunga acuannya di akhir Juli 2019 sebanyak 25 basis poin (bps) ke level 2% hingga 2,5%.

Meskipun sudah diprediksi oleh pasar, namun sikap hawkish yang ditunjukkan Gubernur The Fed Jerome Powell justru menjadi sentimen negatif bagi harga minyak.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menjelaskan, keputusan The Fed yang cenderung hawkish tersebut cukup mengecewakan pasar. Apalagi, belum jelasnya nasib pemangkasan FFR ke depan, bisa memicu pelemahahan lawan USD, termasuk minyak.

Baca Juga: Setelah Minyak, Indonesia Bakal Defisit Gas di 2035

"Dengan asumsi yang tidak jauh berbada, The Fed (suku bunga acuan) potensinya tidak akan banyak berubah, karena mereka masih sulit untuk hawkish. Harapannya, harga kisaran minyak belum akan berubah tahun ini," kata Wahyu kepada Kontan.co.id, Jumat (2/8).

Meskipun begitu, Wahyu menilai harga minyak masih sulit untuk tembus ke level US$ 70 per barel di tahun ini. Kalaupun bisa suatu waktu melemah, Wahyu optimistis level harga minyak berpotensi jauh dari level US$ 50 per barel.

Ke depannya, tekanan pada harga minyak masih akan berlangsung, khususnya di tengah isu kecemasan ekonomi global, ditambah lagi sentimen perang dagang. Terbaru, cuitan Presiden AS Donald Trump yang bakal menerapkan kenaikan pajak 10% bagi impor barang dari China, sukses membuat pasar global meradang.




TERBARU

[X]
×